Tak hanya menjadi tempat tinggal bagi Syahla Nabilah Junita Wibawa (19) dan keluarganya, rumah sederhana yang berada di Nogotirto, Sleman, ini juga menjadi tempat sang ibu mencari nafkah melalui warung makan sederhana. Sang ibu, Nurjanah (42) berjualan makanan di warung nasi yang juga berlokasi di rumahnya. Sedangkan sang ayah, Tunggal Mei Lata (43) bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Di tengah keterbatasan ekonomi dan penghasilan keluarga yang tak menentu, Syahla tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan dapat membuka peluang yang lebih luas. Keyakinan itu kini membawanya diterima di Program Studi Teknologi Industri Pertanian (TIP) Fakultas Teknologi Pertanian UGM dengan beasiswa UKT pendidikan unggul bersubsidi 100% atau kuliah gratis di UGM.
Keberhasilan Syahla diterima berkuliah di UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) bukanlah pencapaian yang ia raih secara instan. Sejak kelas 10 SMA, ia sudah menargetkan untuk menjadi siswa eligible agar memiliki peluang peluang lebih besar lolos ke perguruan tinggi impiannya, yakni UGM. Ia terus menjaga nilai rapor dan menyusun strategi pemilihan program studi yang sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Saya memang dari awal sudah mengincar jalur SNBP. Jadi sejak kelas 10 SMA, saya berusaha menaikkan nilai dan memikirkan strategi supaya bisa lolos,” tuturnya, Rabu (24/6).
Dalam menentukan pilihan program studinya, putri sulung dari empat bersaudara itu mengaku mempertimbangkan minatnya pada bidang pangan dan lingkungan. Meskipun sempat bercita-cita menjadi ahli gizi, ia akhirnya memilih program studi Teknologi Industri Pertanian UGM karena dinilai sesuai dengan kemampuan akademik serta bidang yang ingin ia tekuni di masa depan. “Saya tertarik dengan bidang pangan dan lingkungan. Saya ingin mengembangkan sesuatu yang bermanfaat, terutama terkait pengolahan sampah dan lingkungan,” katanya.
Keberhasilannya diraih melalui proses belajar mandiri yang dijalani selama SMA. Meski sempat ditawari mengikuti bimbingan belajar, Syahla memilih memanfaatkan buku pelajaran dan aktif bertanya kepada guru ketika menemukan materi yang belum dipahami. Menurutnya, memahami konsep menjadi metode belajar yang paling efektif dibandingkan sekadar menghafal. “Kalau ada materi yang saya tidak paham, saya biasanya bertanya ke guru. Jadi saya lebih berusaha memahami daripada menghafal,” jelasnya.
Di tengah kesibukannya, Syahla juga menyempatkan waktu untuk berjualan kue kering yang dititipkan di kantin sekolah. Bukan semata untuk mengisi waktu luang, melainkan sebagai upayanya untuk memiliki uang saku tambahan dan ingin senantiasa belajar mandiri sejak dini. Kesadaran akan jerih payah kedua orang tua untuk membiayainya sekaligus ketiga saudaranya membuatnya berusaha memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri tanpa banyak meminta. “Jadi saya mau punya penghasilan sendiri, enggak mau bergantung terlalu sama orang tua,” ujarnya.
Perjuangan kedua orang tuanya menjadi sumber semangat terbesar bagi Syahla untuk bercita-cita dapat menempuh pendidikan tinggi. Ia mengaku selalu teringat kerja keras ayah dan ibunya dalam memenuhi kebutuhan keluarga mendorongnya untuk memberikan hasil yang terbaik melalui prestasi akademik yang ia raih. “Saya tidak mau mengecewakan orang tua karena perjuangan mereka sampai saya bisa berada di titik ini. Itu yang memotivasi saya untuk terus belajar,” katanya.
Nurjanah mengaku bersyukur atas keberhasilan putri sulungnya diterima di UGM. Menurutnya, semangat belajar Syahla sudah terlihat sejak masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Sebagai orang tua, ia berupaya mendukung cita-cita anaknya meski harus menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi. “Saya senang sekali anak saya punya semangat belajar yang tinggi dan punya cita-cita yang tinggi juga. Sebagai orang tua saya mendukung apa yang menjadi cita-cita anak saya,” terangnya.
Ia berharap, pendidikan yang ditempuh putri sulungnya di UGM dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik, sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya. “Saya hanya ingin melihat anak saya sukses di dunia maupun di akhirat, itu saja,” pungkas Nurjanah.
Penulis : Cynthia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Ika Agustine dan Dok.Syahla
