Peristiwa kebakaran di Rumah Toko (Ruko) Terra Drone, pada 9 Desember lalu Kemayoran, Jakarta Pusat, menewaskan 22 orang. Kebakaran yang terjadi di gedung perusahaan teknologi drone tersebut terjadi saat jam istirahat siang. Dilaporkan oleh pihak berwenang bahwa penyebab utama kematian para korban adalah menghirup karbon monoksida (CO). Sebelumnya, kebakaran di kompleks apartemen Wang Fuk Court Hongkong pada 27 november lalu menelan 159 orang tewas dan 79 terluka, termasuk 9 warga negara Indonesia yang meninggal dunia.
Berkaitan dengan hal tersebut, dokter spesialis paru di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sekaligus dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, dr. Ika Trisnawati, MSc, SpPD, K.P., menanggapi keterkaitan sistem pernapasan manusia dengan karbon monoksida.
Ika menjelaskan karbon monoksida yang memang beracun, tentu akan sangat berbahaya apabila terhirup. Sebab senyawa karbon monoksida ini dapat mengganggu sel-sel hingga kerusakan pada organ. Terlebih lagi dalam kasus ini yang merupakan kebakaran di tempat tertutup sehingga risikonya lebih besar karena gas akan tetap berada dalam satu tempat dan tidak berdilusi. “Kalau dalam satu ruangan tertutup itu cuma berputar-putar di situ saja sehingga yang terhirup tentu saja konsentrasinya lebih besar dengan yang di udara terbuka,” ujarnya, Senin (29/12).
Dalam peristiwa kebakaran, kata Ika, ketika korban masih tersadar, hal yang bisa dilakukan adalah dipindahkan ke ruang terbuka yang udaranya bersih. Apabila korban sudah tidak tersadar tetapi masih memiliki denyut jantung, lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP), yaitu memompa jantung dan memberikan oksigenasi dengan napas buatan. “Tujuannya memberikan oksigen sebanyak mungkin. Semakin cepat ditolong akan lebih baik. Semakin lambat, semakin sudah tidak bisa. Jadi, sudah terjadi kerusakan organ terutama otak,” paparnya.
Berkaca dari kasus kebakaran yang ada, Ika merasa bahwa mungkin sebagian dari orang-orang belum terbiasa untuk mempunyai detektor karbon monoksida yang mana sebenarnya penting untuk mendeteksi kebocoran, gas, hasil pembakaran, dan lain-lain. Perlu diperhatikan juga bahwa rumah sudah seharusnya selalu mempunyai ventilasi, memeriksa alat-alat yang menggunakan gas hingga sistem instalasi listrik. Apalagi sistem instalasi listrik itu yang paling sering menyebabkan kebakaran. “Kalau terjadi kebakaran, segera evakuasi. Kalau bisa cari kain untuk menutup hidung dan mulut. Lebih baik dibasahkan, itu lumayan untuk menyaring karbon monoksida walaupun tidak 100%. Kalau tidak ada, tutup dengan tangan,” terangnya.
Di akhir, Ika menyimpulkan bahwa dengan mengenal dan mengetahui tanda serta bahaya dari menghirup karbon monoksida, maka penting untuk membantu dan memindahkan korban ke area udara yang tidak tercemar, serta memberikan pertolongan segera.
Penulis : Alena Damaris
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Freepik
