Riuh rendah suara gembira dan lambaian selempang wisuda mewarnai halaman Grha Sabha Pramana, pada Rabu, (21/5) lalu, saat UGM kembali mengukuhkan lulusan-lulusan terbaiknya. Di tengah barisan wisudawan Sekolah Vokasi, tampak Revandra Aryo Dwi Krisnandaru menahan rasa haru yang mendalam setelah namanya diumumkan sebagai lulusan terbaik Program Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2025/2026.
Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak ini berhasil menuntaskan masa studinya dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang sangat tinggi, yakni 3,92. Padahal IPK rata-rata untuk lulusan Program Sarjana Terapan Periode ini adalah 3,63. Pencapaian ini menjadi akhir manis sekaligus mengejutkan bagi dirinya dan kedua orang tuanya, mengingat perjalanan akademiknya dilalui dengan berbagai keterbatasan yang tidak biasa bagi seorang mahasiswa jurusan teknologi.
Pemuda yang akrab disapa Revan ini mengaku sama sekali tidak menyangka dirinya dinobatkan sebagai lulusan dengan IPK tertinggi pada periode ini. Kesibukannya sebagai pekerja lepas di akhir masa kuliah, ia pun sempat tidak menyangka akan mendapatkan predikat cum laude dikarenakan ia harus memperpanjang masa studinya. “Saya sangat kaget, ya. Apalagi saya sedang bekerja hingga menambah semester,” ujarnya, Rabu (3/6).
Kekhawatiran Revan di masa akhir kuliah tersebut sebenarnya tidak terlepas dari beratnya perjuangan yang ia rasakan sedari awal masuk kampus. Ia mengemukakan bahwa prodi pilihannya ini bertolak jauh dari Jurusan Perminyakan yang ia tempuh sewaktu sekolah menengah di SMKN 1 Tuban. Revan mengakui bahwa masa awal transisi tersebut menuntut adaptasi yang keras hingga ia belajar mandiri melalui video pembelajaran dan situs gratis. “Sejak dinyatakan lolos SNMPTN hingga awal perkuliahan, saya mengasah skill dengan mengikuti ecourse. Waktu itu juga ada tantangan dari guru BK untuk membuat game, akhirnya saya iseng membuat game dengan python,” jelasnya.
Tantangan belajar Revan kian berat ketika ia harus memulai perkuliahan tanpa modal krusial bagi mahasiswa bidang teknologi, yaitu keterbatasan laptop pribadi yang mumpuni. Revan menjelaskan bahwa sewaktu kuliah mulai dilakukan secara tatap muka, ia menghabiskan sebagian besar waktunya di laboratorium komputer milik prodi demi menyiasati keterbatasan perangkat pribadi. “Sewaktu semester 1, saya gunakan komputer orang tua. Ya, ada, tapi memang untuk kerja orang tua. Spesifikasinya juga tidak begitu tinggi, tipikal hanya bisa dipakai sehingga saya memaksimalkan lab komputer yang disediakan prodi,” kenangnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan kesibukan sebagai pekerja lepas, Revan menjelaskan bahwa ia menerapkan metode yang efisien guna mempertahankan nilai di tengah kesibukan kerja. Ia membeberkan metode belajar yang ia gunakan, yakni dengan memaksimalkan fokus pada setiap menit yang berjalan sewaktu perkuliahan. “Secara teknis, saya memang tipe orang yang bisa efisien dalam belajar. Saya mempelajari sesuatu itu ketika di kelas. Jadi ketika saya mendengarkan, saya mengulangi perkataan itu dan menuliskannya di buku,” jelasnya.
Berbekal efisiensi belajar di kelas, produktifitas Revan di luar kelas pun ikut terpacu. Sepanjang masa kuliahnya, ia aktif terlibat proyek riset serta pengabdian kepada masyarakat bersama dosen. “Ada kurang lebih 10 kali proyek bersama dosen. Bahkan, ada yang sampai terbit HKI-nya,” ujarnya seraya bersyukur.
Lebih lanjut, Revan menjelaskan bahwa IPK tinggi pada dasarnya merupakan cerminan dari tingkat kerajinan dan kedisiplinan seorang mahasiswa. Ia menceritakan pengalaman sewaktu menjadi asisten praktikum juga memberi sumbangsih besar pada nilainya. Posisi tersebut membuatnya lebih peka memahami pola pikir pengajar serta standar pengerjaan tugas. “Karena saya selama 3,5 tahun menjadi asisten praktikum, saya jadi paham pola pikir dosen. Sebetulnya, Bapak-Ibu dosen mengutamakan kerajinan dari mahasiswa, apakah tepat waktu dan pengerjaannya maksimal atau alakadarnya,” paparnya.
Menutup kisahnya, Revan berpesan pada rekan-rekan mahasiswa lain untuk terus konsisten pada mimpi yang ingin diraih. “Jangan pernah minder dengan progres orang lain. Karena terkadang kita hanya melihat depannya saja. Yang terpenting bukan seberapa cepat kita lari, tapi seberapa lama kita tetap melangkah sebelum berhenti,” pungkasnya.
Penulis : Aldi Firmansyah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Revandra
