Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada kembali menorehkan prestasinya di kancah internasional dengan meraih Juara 1 dalam ajang bergengsi International Student Competition kategori Esai. Kompetisi ini diselenggarakan dari kolaborasi internasional dari tiga negara, yaitu Universitas Muhammadiyah Buton (Indonesia), bekerja sama dengan Nueva Ecija University of Science and Technology (NEUST) Filipina, dan Universiti Malaysia Kelantan (UMK) Malaysia pada 15 januari lalu.
Kompetisi yang berlangsung dari bulan Oktober sampai November 2025 ini mengusung tema “Voices of Change: Creativity, Innovation, and Humanity for a Sustainable Future,” dimana seluruh gagasan terbaik dipertemukan untuk menjawab tantangan masa depan yang berkelanjutan. Dalam kompetisi esai tersebut, tim mahasiswa UGM yang terdiri dari Pandu Sukma Hastyadi (Kimia), Hanafi Nur Yasin (Kimia), dan Thoha Fatahillah (Teknik Fisika), menawarkan esai yang berjudul “Virly (Virtual Reality Chemistry Laboratory): Reimagining the Lab as a Catalyst for Education Equality and Scientific Competitiveness in Southeast.”
Ketua tim, Pandu Sukma Hastyadi, menerangkan karya esai yang mereka tulis dilatarbelakangi atas adanya rasa keprihatinan terhadap ketidakseimbangan fasilitas pendidikan sains yang masih terjadi di negara-negara berkembang. Mereka menelaah data skor PISA (Programme for International Student Assessment) di beberapa negara ASEAN, seperti Indonesia dan Filipina, yang masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara maju. Menurutnya, ketimpangan tersebut muncul karena minimnya akses siswa terhadap fasilitas laboratorium yang layak di sekolah. “Banyak sekolah di pelosok Indonesia dan negara tetangga tidak memiliki laboratorium kimia karena biaya alat yang mahal dan risiko keselamatan. Akibatnya, siswa hanya belajar teori tanpa praktik, yang berdampak pada rendahnya literasi sains,” ujarnya, Kamis (22/1) di Kampus UGM.
Menurut Pandu, untuk mengatasi ketimpangan tersebut, pihaknya menawarkan inovasi yang dinamakan Virly, kependekan dari Virtual Reality Chemistry Laboratory. Adapun Keunggulan Virly terletak pada kemudahan akses dan keberlanjutannya. Perangkat ini menggunakan kacamata Virtual Reality (VR) berbasis Google Cardboard. Lensa pada kacamata tersebut terbuat dari limbah kardus dan botol plastik bekas, sehingga dapat membantu menekan biaya produksi. Dengan perkiraan biaya produksi sekitar Rp15.000 per unit, Virly membuka peluang bagi siswa di Indonesia ketika melakukan praktikum kimia kompleks, seperti titrasi, destilasi, uji elektrolit, hingga uji asam basa secara virtual menggunakan smartphone Android dan controller sederhana.
Sebagai seorang mahasiswa dengan program studi Kimia, inovasi berkelanjutan memang sangat dibutuhkan di dunia yang serba modern saat ini. “Inovasi-inovasi tersebut dilakukan seoptimal mungkin dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Hanafi Nur Yasin, sebagai salah satu penggagas dalam tim berharap bahwa Virly dapat membantu memudahkan siswa dalam melakukan eksperimen. “Inovasi ini murah dan mendukung kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan limbah. Di dalam aplikasi, siswa dapat melakukan eksperimen berulang kali tanpa takut memecahkan alat gelas atau terpapar bahan kimia berbahaya,” ungkapnya.
Kemenangan ini sekaligus membuktikan bahwa UGM mampu bersaing dalam kancah internasional. Karya ini dianggap sejalan dengan adanya tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 karena menekankan peran teknologi sebagai solusi humanis dalam menyelesaikan permasalahan sosial. Hasil karya ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut agar Virly mendapatkan perhatian lebih dari pemangku kebijakan pendidikan. “Harapan kami, Virly bisa diimplementasikan secara nyata untuk membantu jutaan siswa di Asia Tenggara mendapatkan hak pendidikan sains yang setara dan berkualitas, demi meningkatkan daya saing kawasan di masa” pungkas Thoha Fatahillah.
Penulis : Diyana Khairunnisa
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Tim Mahasiswa UGM
