Perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mendukung ketahanan energi dan mempercepat transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Menurut laporan Lembaga JP Morgan, Indonesia berada di posisi kedua dari 52 negara dalam hal ketahanan energi terbaik di dunia di tengah gejolak geopolitik global. Dalam hal mempertahankan predikat ini dan mencapai hasil terbaik, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi menjadi kunci utama dalam menjaga ketersediaan energi yang terjangkau sekaligus ramah lingkungan.
Hal itu mengemuka dalam Diskusi Connecting Generation yang diselenggarakan oleh UGM dan Garuda TV, di joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Jumat (12/6). Hadir sebagai pembicara, yakni Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Dr. Ir. Satya Widya Yudha, M.Sc, Ph.D., General Manager Puslitbang PLN Mochamad Soleh, dan Pakar Energi Universitas Gadjah Mada Dr. Ahmad Agus Setiawan.
Satya Widya Yudha menyajikan data mengenai ketahanan energi Indonesia yang saat ini berada pada angka 7,13 dari skala 10. Menurutnya, angka ini terbilang baik karena termasuk kategori tahan energi. Ia lantas menjelaskan angka tersebut dihitung dari empat indikator utama, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan infrastruktur, keterjangkauan harga, dan aspek ramah lingkungan. “Sederhananya, ketahanan energi itu yang penting ada di ketersediaan supply. Kemudian ada infrastruktur yang mengantar sampai kepada pengguna yang namanya accessibility. Dan yang paling penting, energi itu harus terjangkau. Inilah yang terjadi pada dua komoditas yang tidak naik. Kemudian terakhir, by environment,” jelasnya.
Lebih lanjut, Satya menjelaskan bahwa Indonesia saat ini berada dalam posisi transisi yang menuntut keseimbangan antara menjaga keamanan energi fosil dan pengembangan energi terbarukan (EBT). Ia menekankan bahwa kebijakan energi nasional yang tertuang dalam PP No. 40 Tahun 2025 telah membuka payung hukum bagi riset-riset universitas untuk diintegrasikan ke dalam program pemerintah. Maka dari itu, ia mendorong mahasiswa untuk mengisi ruang-ruang strategis tersebut. “Transisi energi itu harus didukung oleh sumber daya manusia yang cukup. Arah kebijakan kita menuntut perlunya tenaga-tenaga standar yang dihasilkan oleh mahasiswa dari perguruan tinggi yang baik,” katanya.
Sementara itu, Mochamad Soleh, General Manager Puslitbang PLN, memaparkan bahwa PLN telah memandatkan target ambisius dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru. Pada tahun 2023, sebesar 70 persen sumber energi listrik ditargetkan berasal dari EBT yang mencakup tenaga surya, angin, hidro, biomassa melalui metode Co-Firing di PLTU. “Jadi boleh dikatakan pembangkit PLN saat ini, sudah diusahakan bisa menggunakan semua jenis energi bersih yang tersedia. Jadi, saat ini degan 5% dari batu bara itu sudah digantikan dengan biomassa. Keduanya dicampur dan digunakan di PLTU. Secara bertahap akan dinaikkan terus sehingga bisa menghasilkan zero emission melalui teknologi carbon capture and storage,” jelasnya.
Menurut Soleh, industri kelistrikan di masa depan tidak hanya membutuhkan tenaga kerja konvensional, tetapi juga individu yang memiliki kemampuan problem solving yang tajam dan analitis. Lantas, Soleh mengimbau mahasiswa agar memadukan kompetensi dasar teknis dengan literasi digital. Hal ini bertujuan agar riset yang dikembangkan segera diadopsi oleh industri. “Nanti ketika industri itu siap, Anda harus siap mengisi posisinya. Jangan sampai ketika itu ada, kita tidak siap sebagai generasi muda mengisi posisi yang dibutuhkan. Kemudian perguruan tinggi juga perlu menyiapkan kompetensi dan sekalian risetnya,” paparnya.
Menanggapi kebutuhan akan riset energi tersebut, Pakar Energi Universitas Gadjah Mada, Dr. Ahmad Agus Setiawan menegaskan bahwa transisi energi merupakan kerja multidisiplin yang membutuhkan keterlibatan lintas keilmuan, mulai dari teknologi, finansial, hukum hingga rekayasa sosial. Dalam kesempatan itu, Aas, demikian ia akrab disapa, mengatakan tantangan terbesar mahasiswa saat ini adalah membawa inovasi keluar dari laboratorium agar tidak terjebak dalam menara gading. “Tahun 2060 adalah usia Anda ketika menjadi seorang profesional. Dunia sedang menuju ke sana. Sudah mulai ditinggalkan teknologi-teknologi kotor. Nanti ke depan semuanya serba new renewable energy. Ada kesempatan di situ, ambillah. Karena kedepan pendekatan yang dibutuhkan adalah multidisiplin,” katanya.
Penulis : Aldi Firmansyah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Salwa
