Sejak dulu, perempuan kerap disingkirkan dari akses-akses menuju pemberdayaan. Seperti sengaja disembunyikan, sejarah seakan tidak mampu merekam jejak para perempuan berdaya. Peradaban seakan takut dan tidak siap membaca karya yang lahir dari jemari lentik, atau sekadar mendengar suara nyaring perempuan. Hal ini tentu mempengaruhi kepercayaan diri para perempuan yang lahir di zaman yang lebih modern.
Sastrawan dan sosiolog, Okky Madasari, memaparkan di era sekarang ini, ilmu pengetahuan sudah menjadi hak bagi seluruh lapisan, namun beberapa kelompok masih berjuang meraih kesetaraan. Hal itu melatarbelakangi dirinya selalu mengangkat perempuan sebagai tokoh utama pada berbagai bukunya, karena perempuan akan selalu menjadi yang tersisihkan atau setidaknya kerap mendapatkan stereotip atas pilihan-pilihan yang mereka ambil untuk diri mereka sendiri. “Memang tidak semua menggambarkan perempuan sebagai protagonis, karena saya ingin menggunakan karya untuk memotret ketidakadilan, ketimpangan, dan ketiadaan akses untuk bisa memilih,” kata penulis novel Entrok ini dalam Talkshow Woman Inspiring Talk, rangkaian grand events Ramadhan Di Kampus UGM 1447 H di GIK UGM, Jumat (27/2) lalu.
Menurut Alumnus UGM ini, seringkali perempuan memilih di bawah keterpaksaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya agar perempuan dapat memilih, dan pilihan tersebut bukan lahir dari represi dan keterpaksaan.
Berbeda dengan Okky yang berasal dari latar belakang sosiologi, Sasti Gotama memilih merangkai aksara untuk menyuarakan pengalaman perempuan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), para pasien dan keluarga mereka semasa ia mengabdi menjadi dokter. “Di daerah tepi dengan ekonomi lemah, saya kerap melihat ketimpangan itu. Banyak sekali pasien kekerasan dalam rumah tangga yang datang dengan trauma, bahkan tidak berani untuk mengutarakan trauma-traumanya karena tekanan dari lingkungan sekitar, sehingga mereka cenderung memilih untuk memendam daripada menceritakan,” ujar penulis novel Ingatan Ikan-Ikan ini.
Bagi Sasti, seringkali kemiskinan menjadi landasan, memaksa para orang tua menikahkan anaknya lebih dini karena faktor ekonomi, “ Lebih baik menghabiskan beras di rumah orang lain daripada di rumah mereka sendiri,” imbuh Sasti.
Berbicara tentang hak memilih perempuan memang erat hubungannya dengan represi dan tekanan. Apalagi, represi dapat datang dari mana saja, dari sosial media, dari mereka yang mengaku memiliki intelektualitas dan moralitas tinggi, hingga dari orang-orang terdekat. Berangkat dari sinilah, Okky dan Sasti sepakat untuk menjadikan menulis sebagai wadah bagi perempuan untuk berekspresi dan memberikan pandangannya.
Sepanjang karir keduanya dalam dunia sastra, ketika pengalaman dan pandangan itu disuarakan melalui karya, banyak pembaca perempuan yang setuju dan merasa terwakilkan. Sebaliknya, mereka mengatakan jika perempuan langsung menyuarakan, justru tidak jarang akan menuai tekanan dengan norma dan dogma, bahkan mendapat labelisasi tanpa investigasi secara menyeluruh.
Perempuan jangan sampai kehilangan identitas. Menulis adalah kemampuan yang wajib dimiliki oleh setiap perempuan. Menulis adalah salah satu cara untuk membantu perempuan menemukan identitas diri mereka, sebuah seni untuk menentukan pilihan sesuai panggilan hatinya. Terlebih, menulis dapat membuka akses menuju pemberdayaan dan beragam pengalaman baru. Sudah saatnya setiap perempuan diberikan hak untuk memilih dan melahirkan karya-karya hebat dengan rahim dan tangan yang mereka miliki.
Penulis : Ika Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Freepik dan Dok. Panitia RDK UGM
