Industri robot humanoid terus berkembang dengan pesat. Kini, robot humanoid berhasil menunjukkan kemampuannya dalam berjalan, bergerak, hingga memainkan alat musik dengan sangat presisi. Data resmi menunjukkan bahwa China memiliki 140 produsen robot humanoid dan lebih dari 330 model pada tahun 2025. Kedepannya, diperkirakan robot humanoid akan lebih banyak berinteraksi dengan manusia melalui pertukaran emosional maupun ekspresi wajah.
Soal perkembangan teknologi robot humanoid ini, Dosen Departemen Teknik Mesin dan Industri FT UGM, Ardi Wiranata, S.T., M.Eng., Ph.D, mengungkapkan bahwa pada dasarnya, pengembangan teknologi robot bukan lah inovasi yang didapatkan secara instan, melainkan hasil pengembangan bertahap dari pengembangan teknologi yang paling dasar, yaitu mesin. Menurutnya, mesin merupakan alat yang digunakan manusia untuk membantu mencapai suatu tujuan, sedangkan robot adalah bentuk lanjutan mesin yang diotomatisasi untuk menjalankan tugas secara berulang dengan jumlah besar. “Mesin itu adalah alat yang dipakai untuk membantu kita mencapai sesuatu. Nah, robot sendiri merupakan mesin yang diotomatisasi guna membantu kita untuk mencapai sesuatu tadi dengan jumlah banyak,” jelasnya, Rabu (29/4).
Ardi menjelaskan bahwa potensi robot dalam mengurangi pekerjaan manusia sangat bergantung pada bidang dan industrinya. Ia menegaskan bahwa robot tidak serta-merta menghilangkan peran manusia sepenuhnya. Lebih lanjut, ia juga menyoroti keterbatasan teknologi robot saat ini, seperti adanya lag atau keterlambatan respons serta kemampuan pengambilan keputusan. Robot tetap membutuhkan pemeliharaan, perbaikan, hingga koreksi sistem yang dapat membuka peran lain bagi manusia. Sehingga, dalam beberapa kondisi, kemampuan manusia dinilai masih sulit untuk digantikan oleh robot. “Kalau masih ada lag, responnya tidak akan secepat manusia dan pengambilan keputusan belum bisa secepat kita. Sebenarnya, produksi robot itu tergantung pada kebutuhan, kondisi, dan kebutuhan industri,” ungkapnya.
Soal tingkat risiko teknis pada robot humanoid juga masih sangat bergantung pada kualitas sensor dan sistem pemrogramannya. Ardi menekankan bahwa masalah utama dalam pengembangan robot justru terletak pada keterbatasan sensor. Dengan kombinasi sensor yang optimal dan pemrograman yang tepat, para ahli dapat meminimalisir risiko kesalahan atau kerusakan yang berpotensi membahayakan manusia sekitarnya. “Tergantung ke sensor dan fungsi dari pemrogramannya. Jadi, memang perlu diperiksa dulu apakah sensor yang dipakai berbahaya atau tidak,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ardi menjelaskan bahwa kemampuan menekan biaya produksi, seperti yang dilakukan di China, sangat dipengaruhi oleh skala produksi massal. Dengan jumlah produksi yang cukup besar, biaya per unit dapat ditekan, sehingga harga menjadi lebih murah tanpa harus mengorbankan fungsi utama dari teknologi tersebut. “Di China itu teknologi diproduksi secara massal. Dengan produksi massal tersebut, kemungkinan akan menurunkan cost production,” jelasnya.
Menurutnya, peran akademisi dan generasi muda dalam menghadapi perkembangan robotika ini adalah dengan memahami sistemnya terlebih dahulu, mulai dari bagaimana sebuah robot bekerja dan penerapannya di berbagai bidang. Ardi menegaskan bahwa tidak semua pekerjaan dapat digantikan oleh robot. Beberapa pekerjaan masih membutuhkan interaksi sesama manusia secara langsung, terutama di level yang lebih maju dan sulit digantikan oleh robot. “Paling utama adalah kita harus sebisa mungkin beradaptasi dengan apapun jenis teknologinya,” tutupnya.
Penulis : Diyana Khairunnisa
Editor : Gusti Grehenson
Foto : AP/Chan Long Hei
