Kenaikan harga plastik belakangan ini memunculkan kekhawatiran terhadap harga produk kantong kemasan yang berpotensi berdampak pada kenaikan harga makanan dan minuman di pasaran. Kenaikan harga plastik ini disebabkan adanya kenaikan harga minyak bumi yang selama ini menjadi bahan baku plastik. Padahal kebutuhan bahan baku petrokimia untuk produksi plastik di Indonesia mencapai jutaan ton per tahun. Tingginya konsumsi plastik membuat industri ini sangat bergantung pada stabilitas pasokan minyak bumi dan turunannya. “Kebutuhannya memang besar karena polyethylene dan polypropylene sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain untuk kemasan, juga digunakan di dashboard kendaraan, peralatan rumah tangga, dan berbagai produk lainnya,” ujar dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Rochmadi, S.U., Ph.D., IPU., Senin (11/5).
Ia menjelaskan bahwa persoalan utama dalam industri plastik saat ini lebih berkaitan dengan bahan baku dan rantai industri petrokimia dibanding kualitas produk plastik itu sendiri. Menurut Rochmadi, plastik yang paling banyak digunakan masyarakat saat ini adalah polyethylene dan polypropylene. Kedua jenis plastik tersebut berasal dari bahan dasar etilena (ethylene) dan propilena (propylene).
Selama ini, industri petrokimia global umumnya menggunakan nafta sebagai bahan baku utama untuk plastik. Nafta merupakan fraksi minyak bumi dengan rantai hidrokarbon pendek sekitar C5 hingga C12 yang kemudian diolah melalui proses cracking untuk menghasilkan etilena dan propilena. “Sekitar 30 persen nafta dapat diubah menjadi etilena dan sekitar 20 persen menjadi propilena, sementara sisanya menjadi produk lain seperti residu karbon dan senyawa rantai pendek,” ujarnya.
Sementara status Indonesia sebagai net importer minyak bumi, kenaikan harga nafta maupun gangguan pasokan global dapat langsung berdampak pada biaya produksi industri petrokimia hingga sektor hilir. “Nafta juga dipakai untuk bahan bakar seperti bensin, sehingga ada persaingan penggunaan antara kebutuhan energi dan kebutuhan industri petrokimia,” terang Prof. Rochmadi.
Rochmadi menuturkan bahwa rencana substitusi bahan baku dari nafta ke LPG secara teknis memungkinkan dilakukan. Namun, perubahan tersebut memerlukan penyesuaian pada proses produksi maupun desain pabrik yang selama ini dirancang khusus untuk nafta. “LPG itu kandungannya C3, C4, dan C5. Yang paling mendekati nafta ringan adalah C4 dan C5. Tetapi kalau terlalu banyak campuran C3, sifatnya menjadi agak berbeda,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan LPG kemungkinan besar membutuhkan modifikasi unit proses atau bahkan penggantian sebagian peralatan industri. “Karena desain awal pabrik dibuat untuk nafta, ketika disubstitusi dengan LPG tentu perlu evaluasi ulang terhadap kondisi prosesnya. Jadi secara teknis bisa dilakukan, tetapi ada konsekuensi biaya tambahan,” tambahnya.
Meski demikian, Rochmadi menegaskan bahwa perubahan bahan baku tersebut tidak akan mempengaruhi kualitas akhir plastik yang dihasilkan. “Kalau sudah menjadi etilena dan propilena, kualitas plastiknya sebenarnya sama saja. Jadi polyethylene dan polypropylene yang dihasilkan tetap sama kualitasnya. Yang berbeda hanya bahan baku dan rute prosesnya,” jelasnya.
Di tengah ketergantungan terhadap minyak bumi, berbagai negara mulai mengembangkan alternatif bahan baku yang lebih berkelanjutan. Ia mendorong pemerintah mengembangkan alternatif bahan baku dari biomassa. Rochmadi mencontohkan Brasil yang dinilai cukup maju dalam pengembangan etilena berbasis etanol biomassa. “Brasil sudah berhasil membuat etilena dari etanol berbasis biomassa. Karena mereka produsen etanol terbesar, pengembangannya lebih maju dibanding negara lain,” katanya.
Menurutnya, jalur berbasis biomassa berpotensi menjadi alternatif penting di masa depan apabila harga minyak bumi terus meningkat. “Kalau nanti harga minyak bumi semakin mahal, kemungkinan teknologi berbasis biomassa seperti di Brasil akan semakin berkembang,” pungkasnya.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific
