Universitas Gadjah Mada resmi menjadi anggota ICT Virtual Organization of ASEAN Institutes and NICT (ASEAN IVO), sebuah jejaring kerja sama yang mempertemukan perguruan tinggi dan lembaga riset di kawasan ASEAN dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. Keanggotaan tersebut disetujui setelah melalui proses reviu selama kurang lebih satu bulan yang mencakup pemaparan berbagai inisiatif transformasi digital UGM. Bergabungnya UGM ke dalam ASEAN IVO menjadi langkah strategis untuk memperluas jejaring internasional di bidang teknologi digital dan kecerdasan artifisial. Keanggotaan ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai institusi di kawasan Asia Tenggara.
ASEAN IVO merupakan jaringan virtual yang diinisiasi untuk mendorong kolaborasi riset dan inovasi dalam menjawab berbagai tantangan regional melalui pemanfaatan teknologi. Jejaring ini melibatkan universitas, lembaga penelitian, serta mitra strategis yang berfokus pada pengembangan solusi digital di berbagai bidang. Topik yang menjadi perhatian mencakup kecerdasan artifisial, kesehatan digital, smart society, hingga pengembangan teknologi untuk ketahanan dan keberlanjutan kawasan. Melalui jejaring ini, anggota memiliki kesempatan untuk mengembangkan riset bersama dan memperkuat pertukaran pengetahuan lintas negara.
Pengajuan keanggotaan UGM diinisiasi oleh Biro Transformasi Digital (BTD) UGM sebagai bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi di bidang transformasi digital. Dalam proses penilaian, UGM mempresentasikan sejumlah program dan inovasi unggulan yang telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengembangan UGM AI sebagai bagian dari upaya pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan layanan masyarakat. Presentasi tersebut menunjukkan komitmen UGM dalam membangun ekosistem transformasi digital yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Kepala BTD UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, S.E., Ak., M.T., menyampaikan bahwa keanggotaan ASEAN IVO menjadi peluang penting bagi UGM untuk memperluas kerja sama internasional. Menurutnya, jejaring ini dapat mempertemukan para peneliti dan inovator dari berbagai negara untuk mengembangkan solusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kolaborasi lintas negara dinilai semakin penting untuk menjawab berbagai persoalan yang membutuhkan pendekatan multidisiplin dan berbasis teknologi. “Keanggotaan ini menjadi langkah penting bagi UGM untuk memperkuat jejaring internasional di bidang transformasi digital dan kecerdasan artifisial. Melalui ASEAN IVO, UGM memiliki peluang untuk terlibat dalam kolaborasi riset, inovasi, dan pengembangan solusi digital yang berdampak bagi masyarakat dan kawasan ASEAN,” ujarnya, Rabu (24/6).
Menurut Mardhani, keanggotaan ASEAN IVO juga memperlihatkan kuatnya kolaborasi lintas disiplin yang berkembang di lingkungan UGM. Berbagai inisiatif yang dipresentasikan melibatkan dosen dan peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Fakultas Teknik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Sekolah Vokasi, Sekolah Pascasarjana, hingga Fakultas Teknologi Pertanian. Keterlibatan berbagai unit menunjukkan bahwa transformasi digital di UGM tidak berjalan secara sektoral, melainkan dibangun melalui kolaborasi lintas bidang ilmu. Pendekatan ini menjadi modal penting dalam menjawab tantangan yang semakin kompleks di era digital.
Lebih lanjut, bidang-bidang yang berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi ASEAN IVO sejalan dengan berbagai fokus riset yang telah berkembang di UGM. Pengembangan kesehatan digital, pendidikan berbasis teknologi, ketahanan pangan, dan smart society menjadi beberapa area yang memiliki peluang besar untuk diperkuat melalui kerja sama internasional. Dukungan jejaring regional memungkinkan pertukaran pengalaman dan praktik terbaik yang dapat memperkaya pengembangan inovasi di lingkungan kampus. Kolaborasi tersebut juga diharapkan dapat menghasilkan solusi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat di kawasan ASEAN.
Bergabungnya UGM dalam ASEAN IVO menjadi langkah strategis untuk memperkuat peran universitas dalam pengembangan riset dan inovasi digital di tingkat regional. Keanggotaan ini membuka ruang kolaborasi yang lebih luas sekaligus memperkaya perspektif dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan melalui pemanfaatan teknologi. Melalui jejaring tersebut, UGM diharapkan dapat semakin aktif berkontribusi dalam pengembangan solusi yang relevan bagi masyarakat ASEAN. “Kami berharap keanggotaan ini tidak hanya memperluas jejaring UGM, tetapi juga menghadirkan lebih banyak kolaborasi yang menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat di Indonesia maupun kawasan ASEAN,” tutup Mardhani.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Dok. Humas
