Di usianya yang belum genap menginjak 28 tahun, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) lulusan angkatan 2021 itu berhasil membangun usaha peternakan modern bernama Kerabat Ternak 1-3 yang kini dikenal luas hingga berbagai daerah di Jawa Timur.
Di tengah adanya stigma bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki dan sulit menghadirkan kesejahteraan, Mila justru membuktikan sebaliknya. Bersama sang suami, Sahroni, ia mengembangkan usaha kambing dan domba yang kini memiliki berbagai lini bisnis, mulai dari penggemukan, pembibitan, ternak perah, hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak). Dari usaha yang dahulu dimulai secara sederhana, kini perputaran omset Kerabat Ternak mampu mencapai ratusan juta rupiah.
Perjalanan Mila tidak lepas dari berbagai macam tantangan. Saat memutuskan menempuh pendidikan di Fakultas Peternakan UGM, pilihannya sempat diragukan oleh keluarga. Namun, keraguan tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk membuktikan bahwa peternakan dapat menjadi profesi yang menjanjikan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. “Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,” kenang Mila saat ditemui di kandang Kerabat Ternak, Tuban, Jawa Timur, Senin (29/6).
Lahir pada 1 Januari 1999 dari keluarga sederhana, dengan ayah yang berprofesi sebagai pengusaha kayu dan ibu sebagai ibu rumah tangga, Mila tumbuh dengan karakter pekerja keras dan terbiasa hidup mandiri sejak kecil. Ketertarikannya pada dunia peternakan sudah muncul sejak remaja. Bahkan jauh sebelum menjadi mahasiswa, tepatnya saat masih duduk di bangku SMA kelas 2 pada 2014, ia mulai memelihara lima ekor domba sebagai langkah awal menekuni usaha yang kini telah berkembang pesat.
Usai menyelesaikan pendidikan di Fapet UGM pada 2020, Mila memutuskan untuk fokus menekuni usaha peternakan. Berbekal ilmu yang diperoleh selama kuliah menjadi pondasi penting dalam menjalankan bisnisnya. Baginya, proses pembelajaran di Fakultas Peternakan UGM tidak hanya menekankan pada aspek teori, melainkan juga praktik serta pengalaman lapangan yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha. “Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha,” ujarnya.
Selama menempuh pendidikan tinggi, Mila aktif memperkaya pengetahuannya dengan belajar langsung melalui para dosen, praktisi, hingga peternak senior di berbagai daerah. Ia percaya bahwa keberhasilan peternakan lahir dari perpaduan ilmu pengetahuan dan pengalaman lapangan. “Teori itu penting, tapi tidak cukup. Harus turun langsung ke lapangan,” katanya.
Adapun perjalanan bisnisnya tidak selalu berjalan mulus. Mila pernah mengalami kerugian akibat kematian ternak yang ia pelihara. Meskipun begitu, setiap kejadian kematian hewan ternak selalu dijadikan bahan evaluasi melalui observasi sebagai bahan pembelajaran agar tidak terulang. Melalui pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami manajemen kesehatan ternak, mulai dari pneumonia akibat perubahan suhu hingga berbagai infeksi lain yang umum menyerang kambing dan domba.
Kini, Kerabat Ternak 1-3 berkembang menjadi usaha peternakan yang tidak hanya berfokus pada jumlah populasi, tetapi juga fokus menjaga kualitas ternak dan kenyamanan hewan. Selain menjaga kebersihan kandang, ia juga mengelola pakan secara optimal dengan memanfaatkan lahan hijauan seluas sekitar 1,5 hektare yang dipadukan dengan pakan tambahan, seperti ampas tahu dan kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.
Alih-alih fokus mengejar jumlah populasi, Mila lebih menitikberatkan pada peningkatan kualitas dan genetika ternak. Strategi tersebut terbukti berhasil memberikan nilai tambah yang sangat signifikan. Untuk kambing kualitas unggul, harga jual bisa mencapai Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sementara untuk kambing lokal berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta. Selain menyediakan ternak untuk kebutuhan hewan kurban dan aqiqah, Kerabat Ternak juga mengembangkan usaha penjualan sapronak, mulai dari susu cempe, vitamin, hingga berbagai perlengkapan peternakan yang telah dipasarkan ke sejumlah wilayah di Jawa Timur.
Momentum Iduladha menjadi salah satu puncak usaha mereka. Dalam dua bulan menjelang musim kurban tahun 2024, omzet Kerabat Ternak disebut mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta. Sementara pada hari biasa, usaha aqiqah, penjualan bibit, susu, dan sapronak menghasilkan perputaran sekitar Rp50 juta per bulan, ditambah bisnis sarana produksi ternak sekitar Rp75 juta. Jangkauan pemasarannya pun terus berkembang hingga Lamongan, Bojonegoro, dan berbagai wilayah lain di Jawa Timur.
Tidak hanya berhenti di usaha ternak saja, Mila juga aktif berbagi pengetahuan kepada masyarakat melalui media sosial sejak tahun 2023 melalui media sosial TikTok. Beragam konten edukatif yang diunggah menjadi media untuk memperkenalkan praktik peternakan modern sekaligus menunjukkan pentingnya penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha peternakan.
Di sisi lain, keberadaan Kerabat Ternak juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Saat ini, Mila dan suaminya mempekerjakan dua orang karyawan serta aktif membangun kelompok ternak bersama masyarakat. Salah satunya dirasakan oleh Erma, anggota kelompok ternak binaan. Menurutnya, keberadaan Kerabat Ternak sangat membantu peternak kecil, terutama dalam hal pemasaran susu kambing dan peningkatan pengetahuan mengenai peternakan. “Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak,” ujarnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Agung Setiawan, siswa Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari SMK Negeri 4 Bojonegoro. Ia mengaku memperoleh banyak pengetahuan serta pengalaman selama menjalani PKL di Kerabat Ternak. “Banyak ilmu yang saya peroleh selama PKL di sini,” katanya.
Bagi Mila, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan semata, melainkan juga dari kemampuan menghadirkan ruang belajar dalam memberdayakan masyarakat serta menciptakan sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Berawal dari lima ekor domba yang dipelihara semasa SMA, kini ia tumbuh menjadi salah satu peternak muda inspiratif yang membawa semangat peternakan modern berbasis ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan pemberdayaan masyarakat.
Keberanian menembus stigma masyarakat, ketekunan dalam menghadapi kegagalan, serta konsistensinya membangun usaha menjadikan Mila layak menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan. Ia menunjukkan bahwa sektor peternakan juga memiliki prospek yang menjanjikan sekaligus mampu menjadi ruang berkarya bagi perempuan. Di balik kandang-kandang ternaknya, tersimpan cerita tentang keberaniannya untuk bermimpi, ketangguhannya dalam menghadapi kegagalan, dan keyakinannya bahwa peternakan bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan pengabdian yang mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat luas.
Reportase : Satria/Humas Fakultas Peternakan
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Humas Fakultas Peternakan
