Universitas Gadjah Mada meluluskan sebanyak 3.865 wisudawan dan wisudawati pada periode ini, dengan 952 lulusan diantaranya mengikuti prosesi wisuda hari ketiga dari Fakultas Geografi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Jumat (21/8). Dari jumlah tersebut, 37,88% merupakan wisudawan dan 62,12% merupakan wisudawati.
Lebih dari sekadar seremoni penanda berakhirnya masa studi, wisuda menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang yang telah dilalui sekaligus meneguhkan tanggung jawab lulusan setelah kembali ke tengah masyarakat. Semangat tersebut turut tercermin dalam pesan yang disampaikan Anissa Dini Kamila, wisudawan Fakultas Ilmu Budaya, saat mewakili para wisudawan menyampaikan sambutan.
Di hadapan pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, orang tua, serta sesama wisudawan, Anissa mengajak para lulusan untuk memaknai gelar yang diperoleh bukan semata sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai buah dari perjuangan dan pengorbanan yang turut melibatkan keluarga. “Gelar ini seutuhnya adalah milik ayah dan ibu,” ujar Anissa.
Ia menuturkan, bagi sebagian mahasiswa, bertahan dan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi bukanlah hal yang mudah. Menurutnya, berbagai pengorbanan orang tua menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan para wisudawan. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada orang tua yang terus mendukung anak-anak mereka, bahkan dalam kondisi penuh keterbatasan.“Di Universitas Gadjah Mada, kita selalu menggaungkan semboyan kampus kerakyatan. Tapi kawan-kawan, rakyat yang paling nyata menderita demi pendidikan kita adalah orang tua kita sendiri,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Anissa mengingatkan jika perjalanan para lulusan tidak berhenti setelah prosesi wisuda. Para lulusan UGM nantinya akan menempuh beragam jalur profesi, mulai dari akademisi, pengusaha, birokrat, hingga pemangku kebijakan di tingkat nasional dan internasional. Keragaman pilihan tersebut, menurutnya, perlu diiringi dengan komitmen untuk tetap memahami persoalan masyarakat dan menjunjung tinggi integritas. “Kita butuh orang-orang yang pernah merasakan kelaparan, di tengah memperjuangkan pendidikan, yang mengerti penderitaan rakyat kecil untuk merancang kebijakan di negeri ini. Tapi dengan satu syarat mutlak, yaitu jangan pernah tinggalkan integritas,” tegasnya.
Ia juga berpesan agar para lulusan tidak menggunakan pengetahuan dan posisi yang kelak diperoleh untuk menciptakan bentuk penindasan baru. Bagi Annisa, kekuasaan dan materi tidak semestinya menggeser nilai-nilai yang telah dibangun selama menempuh pendidikan. “Jangan menjadi mesin penindas yang baru. Jika suatu saat nanti kekuasaan dan setumpuk uang mencoba menyuap nurani kalian, ingatlah bahwa kita lahir dari rahim Universitas Gadjah Mada,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Anissa juga mengajak para lulusan untuk mempertahankan nalar kritis sebagai bagian dari identitas mereka setelah meninggalkan kampus. Ia menilai, pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik, tetapi juga individu yang mampu melihat persoalan secara kritis dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.
Amalia Susilowati, alumni UGM tahun 1987 yang juga merupakan Ketua Departemen Kemitraan dan Bisnis PP KAGAMA, menyampaikan penghormatan kepada para orang tua yang telah mendampingi perjalanan para wisudawan hingga hari ini. Ia menilai, di balik setiap pencapaian wisudawan, terdapat pengorbanan, kekhawatiran, dan dukungan orang tua yang kerap diberikan tanpa terlihat. “Saya yakin, semua orang tua hanya ingin anaknya melihat harapan, bukan kesulitan,” ungkap Amalia.
Amalia juga mengingatkan para wisudawan bahwa kelulusan menjadi awal dari perjalanan baru sebagai bagian dari keluarga besar KAGAMA. “Mulai hari ini, nama Universitas Gadjah Mada akan selalu melekat di belakang perjalanan kalian semua,” tuturnya.
Ia mengajak para alumni memanfaatkan jejaring KAGAMA untuk belajar, berkolaborasi, dan membuka kesempatan bersama, bukan untuk mencari jalan pintas maupun keistimewaan. Lebih lanjut, Amalia memperkenalkan tiga nilai yang menjadi napas KAGAMA, yakni Guyub, Rukun, dan Migunani. “Guyub berarti kita tidak berjalan sendiri. Rukun berarti kita mampu menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Migunani berarti keberadaan kita harus memberikan manfaat bagi orang lain, negara, dan Ibu Pertiwi,” jelasnya.
Ia berharap para wisudawan kelak mampu menjadi profesional yang berintegritas, ilmuwan yang menghadirkan terobosan, serta pemimpin yang amanah dan memberikan solusi bagi masyarakat dan bangsa.
Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, mengucapkan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana dan meraih berbagai prestasi. Ia mendorong para lulusan menjadikan kelulusan sebagai awal untuk melangkah ke dunia profesional dengan penuh keyakinan. “Jadikan kelulusan dari program Sarjana ini sebagai point of departure untuk terjun ke dunia profesional dengan penuh percaya diri,” tuturnya.
Wening juga mengingatkan para lulusan untuk membawa keberanian dan keuletan dalam menapaki perjalanan setelah lulus. Menurutnya, para wisudawan telah memiliki bekal yang kuat sebagai lulusan universitas berkelas dunia sekaligus perguruan tinggi kerakyatan yang dikenal rendah hati dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. “Kalian harus memiliki audacity, keberanian, dan keuletan karena kalian telah memiliki bekal yang sangat lengkap dan kuat sebagai seorang Sarjana yang lulus dari Universitas berkelas dunia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wening mendorong para wisudawan memanfaatkan reputasi dan jejaring sosial yang dimiliki UGM sebagai modal untuk memasuki dunia yang mereka cita-citakan. “Gunakanlah social capital ini sebagai pintu masuk ke dunia yang kalian cita-citakan,” pesannya.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
