Universitas Gadjah Mada dan Australian Catholic University (ACU) memperkuat kolaborasi pengembangan Human Flourishing Center atau Pusat Penelitian Kesejahteraan Manusia. Pengembangan pusat penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan riset, inovasi, serta solusi berbasis masyarakat yang dapat memberikan dampak sosial terukur. Dalam konteks pengembangan kecerdasan artifisial, UGM menekankan pentingnya memastikan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Hal itu mengemuka dalam UGM–ACU Human Flourishing Dialogue dan Indonesia–Australia AI Roundtable di Balai Senat UGM, Kamis (20/8). Forum ini membahas pengembangan Human Flourishing Center sekaligus mendiskusikan peluang, risiko, etika, dan tata kelola kecerdasan artifisial yang berorientasi pada manusia. Dialog ini menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan agenda kolaborasi yang berdampak bagi masyarakat.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyampaikan Human Flourishing Center menjadi platform yang menghubungkan pendidikan, penelitian, inovasi, pengabdian kepada masyarakat, dan kebijakan publik.Rektor menyinggung soal pengembangan AI dalam memperkuat kapasitas dan kompetensi manusia. Menurutnya, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti penilaian maupun tanggung jawab manusia, melainkan sebagai instrumen untuk mendukung kehidupan manusia secara lebih baik. Indonesia dan Australia memiliki peluang untuk berkontribusi dalam membangun model pengembangan AI yang bertanggung jawab, etis, dan inklusif di kawasan. “AI yang berpusat pada manusia harus berfungsi untuk meningkatkan kemampuan manusia, bukan menggantikan penilaian manusia dan bukan pula mengurangi tanggung jawab manusia,” tegasnya.

Vice-Chancellor and President ACU, Prof. Zlatko Skrbis, mengajak peserta melihat human flourishing sebagai gagasan yang telah menjadi pertanyaan manusia selama ribuan tahun. Ia mengutip pemikiran filsuf Yunani, Socrates dan Aristoteles, tentang kehidupan yang baik serta pentingnya hubungan manusia dengan orang lain. Kehidupan yang berkembang secara utuh, menurut Zlatko, tidak dapat dilepaskan dari relasi, persahabatan, komunitas, serta kondisi material yang memungkinkan manusia menjalani kehidupan dengan baik. “Tidak ada satu model global tentang human flourishing yang dapat begitu saja diterapkan. Setiap tradisi dan setiap tempat membawa pemahamannya sendiri,” tuturnya.
Pengalaman Indonesia juga dinilai memberikan perspektif penting dalam memahami human flourishing. Zlatko menyoroti kuatnya relasi sosial dan rasa kebersamaan yang ia temukan ketika berkunjung ke Indonesia, dibandingkan kecenderungan individualisasi yang berkembang di sejumlah masyarakat Barat. Hubungan sosial, kepercayaan, dan koneksi antarmanusia menjadi bagian penting dalam menciptakan masyarakat yang stabil, kreatif, dan tangguh. Kolaborasi UGM dan ACU diharapkan menjadi ruang bagi kedua institusi untuk saling belajar mengenai faktor-faktor yang memungkinkan manusia dan masyarakat berkembang secara utuh.

Pembahasan human flourishing kemudian berlanjut pada pertanyaan mengenai posisi manusia di tengah perkembangan kecerdasan artifisial. Zlatko menilai AI tidak semata-mata merupakan persoalan teknologi, melainkan juga menyentuh cara manusia memahami dirinya sendiri serta bagaimana hubungan sosial dibentuk. Perkembangan AI membawa pertanyaan yang lebih mendasar mengenai tujuan dan peran manusia dalam dunia yang semakin dipengaruhi teknologi. “Yang menjadi inti persoalan bukan teknologinya, melainkan sisi antropologis dari integrasi teknologi,” jelasnya.
Perspektif tersebut diperkuat dalam diskusi akademik yang menghadirkan Prof. Michael Champion dari ACU. Pengembangan AI perlu ditempatkan dalam kerangka yang mempertimbangkan dampaknya terhadap pendidikan, institusi, dan kehidupan masyarakat. Diskusi juga menyoroti pentingnya melihat perubahan yang dibawa AI secara sistemik, termasuk bagaimana teknologi memengaruhi proses pengambilan keputusan dan hubungan manusia dengan institusi. Dalam forum tersebut, pengembangan AI ditempatkan sebagai bagian dari agenda yang lebih luas untuk memastikan teknologi memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, dalam penutupannya, menegaskan kembali pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan teknologi. AI dan teknologi perlu digunakan untuk mempermudah kehidupan manusia serta memperkuat kualitas hidup dan kesempatan yang setara. Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai Pancasila dapat menjadi kompas moral dalam memastikan perkembangan AI tetap memperhatikan martabat manusia, tanggung jawab, partisipasi, dan keadilan sosial. “AI dan teknologi seharusnya membuat kehidupan manusia lebih mudah, bukan bersaing dengan atau menggantikan kemanusiaan,” ujarnya.
Forum tersebut selanjutnya mengarahkan pembahasan pada sejumlah agenda kolaborasi yang dapat dikembangkan UGM dan ACU. Beberapa bidang yang disebut dalam penutupan kegiatan meliputi kesehatan mental, smart farming, digital agriculture, serta pengembangan human-centred AI. Agenda tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan keahlian akademik dengan berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat. “Area-area ini memberikan kesempatan untuk menggabungkan keahlian akademik dengan tantangan sosial yang nyata dan menguji apakah kolaborasi kita dapat menghasilkan perubahan publik yang terukur,” kata Danang.
UGM–ACU Human Flourishing Dialogue dan Indonesia–Australia AI Roundtable menjadi bagian dari upaya memperkuat Human Flourishing Center sebagai platform kolaborasi lintas disiplin dan lintas sektor. Hasil forum diarahkan untuk ditindaklanjuti melalui pengembangan agenda pendidikan dan penelitian bersama, penguatan jejaring, serta identifikasi prioritas kolaborasi yang memiliki dampak nyata. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan perspektif akademik, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan organisasi keagamaan dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi dan pembangunan manusia.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie
