Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan GIK Exhibition Series untuk edisi kedua pada 2026. Mengusung semangat kolaborasi lintas disiplin, rangkaian pameran ini yang berlangsung pada 21 agustus hingga 21 september mendatang di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Jakal Design Week (JDW).
GIK Exhibition Series kali ini menghadirkan pameran Escape Reloaded: Generations Numerique bersama Institut Francais, Artbuff: Concept Art Exhibition bersama Ortholab, International Postcard Exhibition bersama IAI, Arsitektur UGM, dan JDW.
Selain itu, ada pula rangkaian pameran Print Street: Street Furniture Showcase bersama YYAF dan Autoconz, Desingn: Dosa dan Kebisingan Industri bersama YYAF, Menaut Waktu dan Merekam Jejak bersama Jay Afrisando, KITLV, serta Semesta Buku Jogja: Book Festival bersama Semesta Buku Gramedia.
Jay Afrisando, seorang kurator dan seniman menjelaskan bahwa pameran kali ini salah satunya berangkat dari masih kuatnya stigma terhadap disabilitas. Menurutnya, disabilitas masih kerap dipandang sebagai sesuatu yang harus disembuhkan, diperbaiki, atau dikoreksi sebagai bagian dari perspektif kolonial. “Salah satunya karena disabilitas masih dipandang sebagai stigma, sebagai sesuatu yang harus disembuhkan, diperbaiki, atau dikoreksi sebagai bagian dari perspektif kolonial,” ujar Jay.
Alasan menghadirkan kembali sejarah disabilitas karena sampai kini masih kurang dikenali dan diteliti. Selain itu, acara yang dikemas lewat pameran arsip dan kontraarsip kolaboratif tersebut juga menjadi bagian dari upaya untuk melakukan mendekolonisasi disabilitas. Upaya tersebut, sambung Jay, dilakukan dengan melihat kembali bagaimana pengetahuan dan praktik mengenai disabilitas selama ini dibentuk melalui konsep normalitas dan tubuh normal. “Di sini, kami juga ingin menghadirkan sejarah disabilitas di Indonesia yang masih kurang dikenali dan kurang diteliti,” jelasnya.
Lalu pameran Menaut Waktu dan Merekam Jejak, menghadirkan acara bertajuk “Desingn: Dosa dan Kebisingan Industri” yang berkolaborasi dengan Yogyakarta Young Architects Forum (YYAF). Pameran yang berada di Selasar GYM Lantai 2, GIK UGM, tersebut juga mencoba melihat kembali persoalan yang berada di balik praktik arsitektur, termasuk dampak dan persoalan yang kerap luput dari perhatian publik. Salah seorang kolaborator, Zul, menyebut bahwa karya yang dihadirkan berupaya merepresentasikan dosa yang berada di balik praktik pembangunan. “Suatu rumah, di baliknya selalu ada dosa yang tidak terlihat. Nah, ini kita cuma mau melihat itu dan merepresentasikan,” jelasnya.
Rangkaian pameran yang menggandeng sebelas mitra kolaborator dalam delapan pameran ini tidak berdiri sebagai kegiatan tunggal, melainkan menjadi bagian dari Jakal Design Week (JDW). Melalui rangkaian tersebut, berbagai praktik kreatif dan kolaborasi lintas disiplin dihadirkan untuk memperkuat ekosistem seni, desain, dan literasi. Kehadiran GIK Exhibition Series ini pun tidak sekadar menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga membuka ruang interaksi dan perjumpaan antara pelaku kreatif dengan publik.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Salwa
