Mahasiswa Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada, Fajar Rasyid Ariandhika (21), menorehkan prestasi membangggkan usai terpilih sebagai juara 2 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional tahun 2026 dalam kategori Mahasiswa Disabilitas Berprestasi yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kemdiktisaintek RI pada 4–8 Agustus lalu di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Banten. Untuk pertama kalinya, Pilmapres membuka kategori Mahasiswa Disabilitas Berprestasi, melengkapi kategori Program Sarjana dan Program Diploma yang telah diselenggarakan pada tahun-tahun sebelumnya.
Fajar mengungkapkan rasa syukur atas prestasinya yang diraihnya ini. Ia berkisah, informasi informasi kompetisi ini ia dapatkan dari Unit Layanan Disabilitas (ULD) melalui grup WhatsApp disabilitas. Berbekal rasa penasarannya akan hal baru, Fajar pun kemudian mencoba mendaftar, meskipun prosesnya ternyata penuh dengan tantangan. “Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan juara dan menunaikan amanah yang diberikan oleh UGM,”katanya, Rabu (26/8).
Tantangan yang dirasakan Fajar selama prosesnya mengikuti kompetisi tersebut antara lain adalah membagi waktu antara akademik dan persiapan Pilmapres. Selain itu, dalam penyusunan gagasan kreatif, Fajar merasa tema kali ini cukup menantang karena harus melibatkan aspek disabilitas dan membantu penyandang disabilitas. Selain itu, kesulitan lain yang dirasakannya adalah penggunaan bahasa Inggris dalam menyampaikan presentasi deskripsi diri, sedangkan Fajar sendiri memiliki kendala artikulasi bahasa, terlebih karena kondisi yang dimilikinya sebagai penyandang disabilitas rungu.
Untuk mengatasinya, Fajar pun mencoba mengatur waktu kuliah agar dapat lebih fokus menyelesaikan gagasan kreatif dan capaian unggul, terutama karena waktu menuju tenggat waktu tingkat wilayah sudah cukup dekat. “Alhamdulillah, Ditmawa UGM dan teman-teman Unit Layanan Disabilitas sangat membantu saya dalam melatih percakapan bahasa Inggris. Ini benar-benar hal baru dalam melatih artikulasi saya agar dapat dipahami oleh para juri,” kenang Fajar.
Sebelumnya, Fajar, yang juga merupakan Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) kategori Difabel UGM 2026 ini, sudah mengantongi lebih dari 20 prestasi selama berkuliah, baik dalam bentuk kompetisi, relawan, organisasi, dan lainnya. Tak hanya itu, saat ini ia pun menjabat sebagai Ketua Departemen Research and Innovation di Lembaga Penelitian Kajian Teknik Aplikatif (LPKTA) FT UGM.
Selama berkuliah di UGM, terutama pada satu tahun pertama, Fajar mengaku sempat merasa salah jurusan dan merasa tidak mampu mengikuti perkuliahan. Namun, ia menyadari bahwa dirinya tidak bisa hanya pasrah dengan keadaan. Fajar pun mulai mencari solusi, salah satunya dengan banyak belajar dari mahasiswa akademik yang bagus dan mencoba mengubah gaya belajarnya yang sebelumnya terbentuk saat SMA. Tak hanya itu, ia pun bersyukur karena dosen pengampu akademiknya (DPA) selalu memberikan semangat dan mendorongnya untuk terus belajar menjadi lebih baik dan tidak mudah menyerah.
Selain itu, teman-teman sekelasnya juga sangat membantu Fajar dalam memahami materi perkuliahan. Dijelaskannya bahwa ia sering belajar bersama teman-temannya, bahkan mereka membantu menjelaskan materi dengan bahasa yang lebih sederhana sehingga saya lebih mudah memahami apa yang dipelajari.
“Seiring berjalannya waktu, saya mulai melihat bahwa ilmu Teknik Fisika yang saya pelajari sebenarnya memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui berbagai kompetisi. Bagi saya, lomba menjadi salah satu kesempatan untuk menuangkan ide dan menerapkan ilmu yang saya dapatkan di perkuliahan ke dalam suatu solusi nyata,” pungkas Fajar.
Semenjak itu, Fajar semakin bersyukur dapat berkuliah di Teknik Fisika. Ia belajar bahwa proses meraih prestasi bukan hanya tentang menjadi juara, tetapi juga tentang bagaimana ilmu yang kita pelajari dapat digunakan untuk menghasilkan ide, menyelesaikan masalah, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Fajar mengaku tidak memiliki strategi khusus untuk meraih prestasi. Menurutnya, hal yang paling penting adalah berani untuk mencoba hal-hal baru. Namun, keberanian saja tidak cukup; kita juga harus mau belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya agar bisa menjadi lebih baik. Ia menegaskan bahwa jika ingin berkembang lebih cepat, kita juga bisa belajar dari orang-orang yang sudah memiliki pengalaman, misalnya mahasiswa berprestasi, orang yang pernah memenangkan lomba, pemimpin organisasi, atau siapa pun yang memiliki pengalaman yang bisa dipelajari. “Saya sendiri juga banyak belajar dari buku dan berbagai platform seperti YouTube dan Instagram. Saya pernah mempelajari buku tentang manajemen organisasi dan mengikuti kelas KTI, salah satunya dari Science Hunter Indonesia,” jelasnya.
Selain itu, menurutnya, penting untuk memiliki teman atau tim yang bisa diajak bekerja sama dan saling mendukung. Karena dalam proses meraih prestasi, kita tidak selalu bisa berjalan sendiri. Yang paling penting bagi Fajar, selain dukungan teman-teman dan keinginan untuk mencoba hal baru, adalah konsistensi. “Kita mungkin pernah kalah, mengalami kegagalan, bahkan merasa burnout. Itu adalah bagian dari proses. Jangan sampai satu kegagalan membuat kita berhenti. Istirahat boleh, mengevaluasi diri perlu, tetapi setelah itu coba lagi dan terus belajar,” pesannya.
Fajar pun berpesan kepada teman-teman lain yang mungkin saat ini masih tak percaya diri agar tidak hanya berfokus pada kelemahan yang ada pada diri sendiri, seperti disabilitas, tetapi fokuslah pada kemauan diri sendiri untuk terus berkembang. Ia mengingatkan untuk terus berusaha mencari berbagai cara untuk berkembang dan menjadi lebih baik, karena hal yang paling penting adalah tetap konsisten dan menjaga amanah yang sudah diberikan.
Penulis : leony
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Fajar
