Dua mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menorehkan prestasi di kancah internasional pada ajang International Mathematics Competition (IMC) 2026. Dalam ajang bergengsi tersebut, Muhammad Hanif berhasil meraih medali perunggu (Third Prize), sementara Fajar Arif Shodiqin berhasil memperoleh Honorable Mention. Keduanya merupakan mahasiswa dari Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM.
Kompetisi yang berlangsung di Blagoevgrad, Bulgaria, pada 27 Juli – 3 Agustus 2026 tersebut diikuti 447 mahasiswa dari 48 negara. Indonesia mengirimkan lima mahasiswa sebagai delegasi, dengan dua diantaranya berasal dari UGM. Dari lima wakil Indonesia tersebut, dua mahasiswa meraih medali perunggu dan tiga lainnya memperoleh Honorable Mention.
Bagi Hanif dan Fajar, capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam menekuni kompetisi matematika. Keduanya sebelumnya telah memiliki pengalaman dalam Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA). Hanif sebelumnya merupakan peraih medali emas di ONMIPA 2025, sedangkan Fajar juga berhasil menyabet medali emas di ONMIPA 2026. Pencapaian ini yang kemudian menjadi salah satu bekal untuk mengikuti seleksi menuju IMC 2026.
Dalam mempersiapkan diri menuju kompetisi, Hanif menyebut bahwa dirinya sempat melakukan persiapan secara mandiri sembari menunggu kepastian mengenai keikutsertaan Indonesia dalam IMC 2026. Kondisi itu membuat semangat belajarnya sempat naik turun karena belum ada kepastian mengenai keberangkatan. “Tantangannya tetap konsisten belajar. Pada saat itu belum ada kejelasan dari panitia apakah Indonesia berangkat IMC atau tidak. Jadi, mencari semangat belajarnya naik turun karena tidak ada informasi mau berangkat atau tidak,” jelas Hanif saat diwawancarai, Selasa (18/8).
Kondisi tersebut membuat waktu persiapan menuju seleksi menjadi relatif singkat. Ia menyebut, informasi mengenai seleksi IMC diterima sekitar tiga hari sebelum seleksi berlangsung. Setelah dinyatakan lolos, ia bersama peserta terpilih menjalani pembinaan intensif secara daring dan luring selama sekitar dua pekan. “Kalau pembinaan luring berlangsung di Departemen Matematika FMIPA UGM,” tuturnya.
Salah satu perbedaan yang dirasakan pada kompetisi IMC 2026 dibandingkan dengan kompetisi ONMIPA adalah penggunaan bahasa Inggris dalam soal. Keduanya mengaku belum terbiasa menjawab soal melalui bahasa inggris dan lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Dari sisi materi, Hanif menuturkan terdapat sejumlah perbedaan dengan ONMIPA dan tingkat kesulitannya juga lebih tinggi. “Perbedaannya mungkin karena soalnya pakai bahasa Inggris, jadi perlu membiasakan diri lagi karena biasanya mengerjakannya pakai bahasa Indonesia. Kalau dari materi mungkin ada perbedaan sedikit, lebih sulit,” jelasnya.
Ajang IMC 2026 ini menjadi pengalaman pertama mereka dalam mengikuti kompetisi matematika di luar negeri. Berada di lingkungan baru dan berhadapan dengan peserta dari berbagai negara membuat keduanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Hanif mengaku suasana kompetisi internasional membuat dirinya merasakan tekanan yang berbeda dibandingkan ketika mengikuti ONMIPA di Indonesia. “Baru pertama kali kompetisi internasional, apalagi lawannya juga orang luar. Jadi masih belum terbiasa. Sedikit merasa tertekan, tidak percaya diri kalau di ONMIPA,” tuturnya.
Fajar pun juga merasakan tekanan serupa. Selain menghadapi suasana kompetisi yang baru, ia harus beradaptasi dengan komunikasi menggunakan bahasa asing ketika berinteraksi dengan pengawas maupun peserta dari negara lain. “Tidak terbiasa juga, mungkin ngobrolnya belum terlalu lancar kalau mau ngobrol sama pengawas dan orang-orang lain,” katanya.
Bagi Hanif, pengalaman mengikuti IMC 2026 menjadi pembelajaran mengenai pentingnya menjaga motivasi ketika tujuan yang ingin dicapai belum sepenuhnya pasti. Ia mengatakan sejak awal tetap belajar karena memang memiliki keinginan untuk mengikuti kompetisi tersebut. “Dari awal saya juga belajar karena sebenarnya ingin ikut IMC, tapi juga tidak tahu ada IMC atau tidak. Jadi, seperti menikmati saja belajarnya,” ujar Hanif.
Pengalaman di IMC 2026 juga tidak serta-merta membuat Hanif dan Fajar berhenti mengejar tantangan akademik lainnya. Keduanya kini mulai memikirkan target setelah kompetisi, termasuk menyelesaikan studi di UGM. Adapun Hanif membuka kemungkinan untuk kembali mengikuti IMC apabila mendapatkan kesempatan pada masa mendatang. Selain itu, ia berencana mencoba kompetisi matematika lain seperti kompetisi Consortium for Mathematics and Its Applications (COMAP) jika kembali mendapatkan kesempatan untuk membentuk tim. “Kalau diundang IMC lagi, mungkin belajar untuk IMC lagi. Selain itu, ada kompetisi COMAP yang mungkin mau saya coba ikuti lagi kalau ada tim,” jelas Hanif.
Sementara itu, Fajar menargetkan untuk dapat menyelesaikan studinya. Ia tengah mengerjakan skripsi dan menargetkan dapat menyelesaikan pendidikan sarjana sebelum melanjutkan ke jenjang berikutnya. Setelah lulus, ia berencana mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi S2. “Kalau dari saya kurang lebih sama, tapi mungkin ada tambahan, karena lagi mengejar kelulusan. Mungkin sekarang fokus mengerjakan tugas akhir dulu,” jelas Fajar.
Keduanya berharap pengalaman yang diperoleh di IMC 2026 dapat menjadi bekal untuk terus mengembangkan kemampuan. Hanif berpesan kepada mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi matematika agar memperbanyak latihan, membangun lingkungan belajar yang mendukung, serta tidak ragu belajar secara mandiri. “Banyak belajar, bisa mencari teman yang frekuensinya sama untuk belajar. Kalau tidak ada, bisa belajar secara mandiri. Manfaatkan teknologi yang sudah ada seperti AI dan sebagainya,” jelas Hanif.
Fajar menambahkan, motivasi menjadi salah satu hal penting yang perlu dimiliki sebelum seseorang memutuskan untuk mengikuti kompetisi. Motivasi tersebut, kata Fajar, dapat menjadi pengingat ketika proses persiapan mulai terasa berat. “Cari motivasi kenapa ingin ikut. Kalau sudah dapat motivasinya, selalu ingat itu terus,” pungkas Fajar.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim
