Praktik bercocok tanam di kawasan kota besar dengan memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam menjalan konsep pertanian urban. Di tengah menjamurnya gedung bertingkat dan pencakar langit menyebabkan pertanian urban ini membutuhkan pasokan air dan listrik yang tidak sedikit.
Lima mahasiswa UGM menawarkan gagasan inovasi yang mereka namakan Aurora yang merupakan kependekan dari Autonomous Utility for Renewable Resources, sebuah alat atau sistem yang terintegrasi dengan panel surya dan alat kondensasi air untuk menghadirkan sistem pertanian vertikal yang lebih mandiri, efisien, dan terintegrasi.
Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin mahasiswa UGM yang terbentuk dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VKG). Tim tersebut terdiri dari Orva Linnisa Husaina (S1 Teknik Fisika) sebagai ketua tim bersama keempat rekan lintas jurusannya, yakni Rayhana Azzahra Kusmana (S1 Farmasi), Arfa Fadilah Ramadhan (S1 Teknik Kimia), Nayaka Sandya Kesuma (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan kontrol), dan Faqih Zulfikar Alkaha (S1 Teknik Elektro) yang dibimbing oleh Budi Sumanto, S.Si, M.Eng, dosen Teknik Elektro dan Informatika, SV, UGM.
Orva mengatakan ide besar di balik pengembangan Aurora bermula dari keprihatinan mendalam mereka atas persoalan yang kerap ditemui dalam sektor pertanian modern saat ini. Menurutnya, pertanian urban masih bergantung pada pasokan air dan listrik dari luar, sementara itu pengelolaan kondisi tanaman, seperti mengukur kadar pH, nutrisi, suhu, kualitas air, hingga kondisi tanaman, juga banyak dilakukan secara manual.
Lebih jauh ia menjelaskan mekanisme kerja dari gagasan inovasi Aurora dengan penyediaan energi terbarukan melalui panel surya bifacial berdaya guna tinggi, produksi air mandiri lewat Atmospheric Water Generator (AWG) berbasis kondensasi, hingga pemanfaatan struktur bangunan melalui konsep green passive building guna mengoptimalkan ruang di tengah menjamurnya gedung-gedung pencakar langit. “Distribusi energi dan irigasi dikelola secara real-time berbasis AI-IoT, lengkap dengan kontrol otomatis untuk kapasitas, nutrisi, pH, suhu air, hingga kesehatan tanaman,” jelas Orva, Jumat (28/8).
Rayhana, anggota tim lainnya, menuturkan bahwa inovasi ini dikemas dan disampaikan melalui sebuah Video Gagasan Konstruktif. Format visual ini dipilih agar konsep gagasan dapat divisualisasikan dengan lebih mudah dan menarik bagi masyarakat luas maupun dewan juri. Dalam video tersebut, pihaknya memadukan teknik sinematografi dan storytelling yang kuat, serta didukung oleh visualisasi animasi 3D dan tracking augmented reality (AR) game user interface (UI). “Melalui perpaduan ini, penonton bisa melihat cara kerja Aurora secara visual,” ujar Rayhana.
Rayhan pun berharap inovasi Aurora ini tidak berhenti sekadar sebagai sebuah gagasan kompetisi, melainkan menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan bangsa. “Ketahanan pangan, air, dan energi Indonesia kelak berada di tangan inovasi-inovasi yang inklusif dan berkelanjutan.” pungkasnya.
Penulis : Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim PKM
