Perubahan fungsi kawasan yang terjadi dari ruang usaha batik di Kampung Batik Kauman Solo menjadi ruang wisata dan hiburan (gentrifikasi), seperti kafe dan tempat swafoto dengan gaya klasik tradisional, memberikan tekanan bagi masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan dari kawasan dengan tingkat sosial dan ekonomi berpenghasilan rendah menjadi kawasan kelas atas.
Lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim Gentriset dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) meneliti sejauh mana respons masyarakat setempat terhadap tekanan perubahan sosial dan ekonomi tersebut. Riset ini digagas oleh lima mahasiswa lintas disiplin, yaitu Hanel Aulia Afro (S1 Sosiologi) sebagai ketua tim, bersama Nasywa Izzati Firdaus (S1 Politik dan Pemerintahan), Elang Gading Permana (D4 Sistem Informasi Geografis), Laras Dwi Anggraeny (S1 Politik dan Pemerintahan), dan Nasywa Adinda Ibrahim (S1 Antropologi Budaya). Tim ini dibimbing oleh Odam A. Artosa, M.A., dosen Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.
Hasil penelitian yang mereka temukan saat ini, masyarakat setempat memilih beradaptasi untuk bisa bertahan. Hal itu berdasarkan data yang dikumpulkan dari lapangan. “Terlihat jelas bahwa masyarakat Kauman tidak hanya diam menghadapi tekanan gentrifikasi. Mereka melakukan adaptasi usaha melalui digitalisasi pemasaran dan inovasi motif batik, tetapi ada juga yang memilih menyewakan lahan atau beralih ke usaha kuliner,” ujar Nasywa Adinda Ibrahim selaku anggota tim, Senin (24/8).
Soal strategi ekonomi yang warga setempat lakukan menghadapi perubahan tersebut dengan melakukan digitalisasi pemasaran melalui media sosial untuk membangun branding kawasan. Bahkan sebaran pelaku usaha yang mulai memasarkan diri secara daring ini dapat dipetakan melalui pergeseran jumlah retail. “Kami juga meneliti untuk melihat apakah adaptasi digital ini berkorelasi dengan ketahanan usaha di titik-titik tertentu di kawasan Kauman,” kata Elang Gading Permana, anggota tim yang lainnya.
Menurut Elang, kehadiran paguyuban dan koperasi di Kampung Kauman ini ternyata memiliki kontribusi penting terhadap adaptasi yang dilakukan sebab warga setempat karena berperan sebagai penguat ekosistem permodalan, menyediakan akses modal dan pelatihan peningkatan skill bagi anggota, termasuk modal bagi mereka yang memilih beralih usaha dari batik ke kuliner sehingga transisi ekonomi warga tetap terfasilitasi meski keluar dari sektor batik.
Menariknya, kata Elang, untuk menjaga revitalisasi tidak sepenuhnya menggeser identitas lokal Kauman, paguyuban tersebut dan warga setempat melakukan kesepakatan sosial berupa pembatasan kepemilikan lahan oleh orang nonlokal.
Tidak hanya itu, masyarakat Kauman tidak hanya berusaha mempertahankan usaha batik dan identitas lokalnya, tetapi juga berusaha mempertahankan budaya dan tradisi mereka supaya tidak hilang ketika kawasan semakin menjadi tempat wisata melalui regenerasi pengrajin muda lewat komunitas Pengusaha Muda Kauman serta pengenalan kembali tradisi Pambiworo kepada generasi muda. “Masyarakat Kauman tidak hanya beradaptasi secara ekonomi, tetapi juga berupaya memastikan identitas dan budaya lokal tetap terjaga,” ungkap Laras.
Dari hasil publikasi penelitian ini, Laras berharap nantinya ada program penguatan kompetensi pemasaran pariwisata yang bersinergi antar Dinas di Pemerintah daerah dengan Kampung Batik Kauman bahkan penyelenggaraan dan event bertaraf nasional atau internasional. Dengan begitu, kampung Batik Kauman menjadi pariwisata unggulan di Solo sekaligus sebagai contoh kawasan wisata berbasis kampung.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim PKM
