Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Tim PKM-RE BRANOVATE mengembangkan plester transdermal berbasis nanoemulsi ekstrak bekatul beras putih sebagai kandidat terapi dislipidemia pada sindrom metabolik. Inovasi ini memanfaatkan bekatul, hasil samping penggilingan padi, sebagai sumber senyawa bioaktif yang dikembangkan melalui teknologi penghantaran obat melalui kulit. Gagasan tersebut berangkat dari potensi bekatul yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai hasil samping pertanian, sementara di dalamnya terdapat komponen yang berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan produk farmasi. Melalui penelitian ini, mahasiswa UGM mencoba menggabungkan pemanfaatan bahan alam dengan teknologi farmasi untuk menghasilkan kandidat terapi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Pengembangan BRANOVATE berangkat dari persoalan dislipidemia yang menjadi salah satu gangguan pada sindrom metabolik. Kondisi ini berkaitan dengan peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Ketua Tim BRANOVATE, Fauzia Amrina Rosyada, mengatakan tim melihat bekatul beras putih memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk menjawab persoalan tersebut. “Di tengah permasalahan sindrom metabolik, kami melihat limbah bekatul beras putih memiliki kandungan yang berpotensi membantu memperbaiki profil lipid,” ujarnya, Selasa (1/9).

Bekatul beras putih (Oryza sativa L.) dipilih karena mengandung berbagai komponen bioaktif, salah satunya γ-oryzanol. Sejumlah penelitian yang menjadi landasan ide tim menunjukkan potensi γ-oryzanol dalam membantu memperbaiki profil lipid. Namun, pemanfaatan bekatul sebagai kandidat bahan terapi masih menghadapi tantangan dalam penghantaran dan bioavailabilitas. Karena itu, tim mengembangkan ekstrak bekatul dalam bentuk nanoemulsi yang kemudian diformulasikan menjadi plester transdermal.
Pemilihan bentuk plester menjadi bagian dari upaya tim mencari sistem penghantaran yang sesuai bagi ekstrak bekatul. Ekstrak terlebih dahulu dibuat dalam sistem nanoemulsi, kemudian dimasukkan ke dalam matriks plester transdermal yang dapat menghantarkan bahan aktif melalui kulit. Menurut Fauzia, pendekatan tersebut dipilih karena pemanfaatan bekatul secara oral masih memiliki keterbatasan dalam hal bioavailabilitas. “Namun, pemanfaatannya secara oral masih memiliki keterbatasan bioavailabilitas, jadi kami mengembangkan bekatul dalam bentuk nanoemulsi transdermal,” jelasnya.
Untuk mengetahui potensi formula yang dikembangkan, penelitian dilanjutkan melalui serangkaian pengujian laboratorium dan praklinis. Tim menggunakan 25 tikus jantan yang dibagi secara acak ke dalam lima kelompok, yaitu kontrol normal, kontrol negatif sindrom metabolik, kontrol positif dengan statin, kelompok plester plasebo, dan kelompok perlakuan menggunakan plester nanoemulsi ekstrak bekatul. Model sindrom metabolik dibentuk melalui induksi lemak dan streptozotocin-natrium (STZ-Na). Efektivitas perlakuan akan dilihat melalui perubahan profil lipid, terutama kolesterol total, trigliserida, dan LDL.
Hingga tahap pelaporan kemajuan, tim telah menyelesaikan preparasi dan ekstraksi bekatul serta analisis awal ekstrak. Profiling awal menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT), karakterisasi nanoemulsi, dan pembuatan plester juga telah dilakukan. Tahap berikutnya adalah pengujian pelepasan serta pengujian in vivo untuk mengevaluasi perubahan profil lipid pada hewan uji. Hasil dari tahapan tersebut akan menjadi bagian dari proses memperoleh bukti praklinis awal mengenai sistem penghantaran berbasis ekstrak bekatul.
Tim BRANOVATE terdiri atas Fauzia Amrina Rosyada dan Elvira Nathania Ardiani dari Program Studi Farmasi angkatan 2023, Aurora Khanifa Jati dan Cika Aida Pusparani dari Program Studi Farmasi angkatan 2024, serta Najwa Rachma Marsanti dari Program Studi Kedokteran angkatan 2025. Penelitian ini didampingi oleh Dr. apt. Adhyatmika dari UGM. Tim menargetkan penelitian tersebut dapat menjadi bukti praklinis awal bagi pengembangan sistem penghantaran berbasis bekatul sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil samping pertanian menjadi inovasi farmasi bernilai tambah.
Penulis : Triya Andriyani
Foto : Indiamart dan Dok. Tim
