Keterbatasan waktu dan tenaga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pengrajin batik di Sentra Batik Sutari, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dalam memenuhi permintaan konsumen. Usaha batik cap yang telah berjalan sejak 2005 tersebut mampu memproduksi sekitar 100 potong atau 200 meter kain batik dalam satu minggu. Namun, proses produksi yang masih dilakukan secara manual dan berulang membuat satu siklus produksi membutuhkan waktu hingga empat hari.
Kondisi tersebut mendorong Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Iptek (PKM-PI) Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi yang dinamakan Siprotex, kependekan dari Sistem Integrasi Proses dan Roll Textile. Inovasi ini mengintegrasikan tiga tahapan produksi batik, mulai dari tahapan pewarnaan, pelorotan malam, dan pemerasan kain dalam satu alat. Penerapan Siprotex diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus membuat proses produksi lebih efisien dan efektif.
Inovasi ini dikembangkan oleh lima mahasiswa UGM, yakni Marshall Gibran Wisnujati, Halim Kusuma Putra, Amalisa Putri Defita, Tsabita Afidati, dan Rafif Hauzan di bawah bimbingan dosen pendamping Ir. Maun Budiyanto, S.T., M.T., IPU. Melalui penelitian berjudul “Implementasi Alat Siprotex pada Sentra Batik Sutari di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah”, tim merancang alat yang menggabungkan unit celup atau bak dengan roller dalam satu sistem.
Ketua Tim PKM-PI Siprotex Marshall Gibran Wisnujati, menjelaskan bahwa inovasi ini dikembangkan sebagai solusi atas proses produksi batik yang masih dilakukan secara manual. Menurutnya, integrasi beberapa tahapan produksi dalam satu alat dapat membuat proses kerja lebih praktis dan sistematis. “Dengan Siprotex, proses pewarnaan, pelorotan, dan pemerasan dapat dilakukan secara terintegrasi sehingga proses menjadi lebih praktis dan sistematis dalam satu alat. Selain mempercepat proses produksi, cairan pewarna hasil pewarnaan dan pemerasan dapat ditampung untuk digunakan kembali oleh mitra,” tuturnya dalam keterangan yang dibagikan Rabu (2/9).
Secara teknis, Siprotex menggabungkan unit celup atau bak dengan roller. Unit celup digunakan untuk proses pewarnaan dan pelorotan malam serta dilengkapi sistem pemanas berbasis LPG. Setelah itu, roller membantu mengurangi kadar cairan pada kain sehingga proses pemerasan menjadi lebih optimal. Alat ini juga dilengkapi Variable Frequency Drive (VFD) dan tombol emergency untuk mendukung pengoperasian yang aman.
Selain mengintegrasikan tahapan produksi, ia menuturkan bahwa Siprotex dirancang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan dan tenaga kerja. “Nantinya, cairan pewarna yang tertampung setelah proses pewarnaan dan pemerasan dapat digunakan kembali untuk proses berikutnya. Sementara itu, pemerasan menggunakan roller membantu mengurangi kadar air pada kain sehingga waktu penjemuran dapat dipersingkat,” jelasnya.
Melalui penerapan Siprotex, waktu produksi berpotensi berkurang menjadi tiga hari untuk satu siklus. Dengan begitu, Sentra Batik Sutari diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas kemampuan dalam memenuhi permintaan pasar. “Waktu produksi berpotensi berkurang dari empat hari menjadi tiga hari untuk satu siklus. Kami berharap teknologi ini dapat membantu Sentra Batik Sutari meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas kemampuan dalam memenuhi permintaan pasar,” pungkas Marshall.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim
