Rendahnya produktivitas tanaman kopi menjadi salah satu keresahan petani di Kawasan Transmigrasi (KT) Muting, Merauke, Papua Selatan. Saat ini, produktivitas kopi berada pada kisaran 560 gram green beans/pohon/tahun. Sementara hasil yang diharapkan dapat mencapai sekitar 1,5 kg green beans/pohon/tahun. Kondisi tersebut mendorong Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 Universitas Gadjah Mada menggandeng Universitas Musamus (Unmus), Merauke, untuk memperkuat sektor hulu kopi Muting melalui pelatihan pengendalian hama.
Ketua TEP UGM 1 Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D., mengatakan kawasan transmigrasi Muting memiliki potensi perkebunan yang cukup baik, salah satunya komoditas kopi yang mulai dikembangkan sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat. “Kopi Muting memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena telah menjadi bagian dari aktivitas perkebunan masyarakat dan memiliki potensi untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi lebih tinggi,” kata Chandra dalam keterangan yang dikirim Kamis (10/9).
Namun kesenjangan produktivitas kopi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang yang besar untuk meningkatkan hasil melalui sektor hulu, yaitu perbaikan praktik budidaya dan penanganan organisme pengganggu tanaman. Menurut Chandra, salah satu permasalahan yang menjadi perhatian petani adalah serangan Penggerek Buah Kopi (PBKo), Hypothenemus hampei (Ferr.), yaitu kumbang yang menyerang buah dan biji kopi. “Serangan hama tersebut tidak hanya berpotensi menurunkan kuantitas hasil, tetapi juga dapat memengaruhi mutu biji kopi sehingga diperlukan penanganan yang tepat sejak dari sektor hulu,” sebutnya.
Serangan PBKo menjadi salah satu tantangan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi Muting karena hama tersebut dapat berkembang dan merusak bagian dalam buah kopi. “Buah yang terserang umumnya menunjukkan adanya lubang gerekan pada bagian buah yang menjadi pintu masuk serangga menuju biji. Kerusakan pada biji dapat menyebabkan kualitas fisik kopi menurun dan berpotensi mempengaruhi karakteristik mutu hasil panen,” paparnya.
Melihat permasalahan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot UGM mendorong penguatan kapasitas petani melalui pelatihan pengendalian hama kopi. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan menggandeng Universitas Musamus (Unmus) dengan menghadirkan dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Unmus, Dr. Jefri Sembiring, S.P., M.Si., sebagai narasumber. Pelatihan penanganan hama kopi tersebut diikuti oleh sekitar 80 peserta yang berasal dari empat kelompok tani kopi di Kampung Seed Agung.
Dalam pelatihan tersebut, Jefri memberikan pemahaman teknis mengenai pengelolaan tanaman dan pengendalian hama. Kolaborasi UGM dan Unmus menjadi langkah penting karena penanganan persoalan produktivitas kopi membutuhkan pendekatan berbasis pengetahuan sekaligus menyesuaikan dengan kondisi kebun masyarakat. “Petani sebaiknya mampu mengenali serangan hama lebih awal dan menerapkan tindakan pengendalian yang lebih tepat,” tuturnya.
Petani juga diberikan pemahaman bahwa pengendalian hama tidak hanya dilakukan ketika serangan telah parah, tetapi perlu diawali dengan pengamatan dan pemantauan kondisi tanaman secara berkala. “Pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menjadi salah satu prinsip penting yang dapat diterapkan melalui kombinasi tindakan budidaya, sanitasi kebun, pengelolaan tanaman, pengamatan populasi hama, serta pengendalian secara mekanis maupun biologis sesuai kondisi lapangan,” terangnya.
Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu petani mengurangi ketergantungan pada tindakan pengendalian yang bersifat reaktif dan mendorong pengelolaan kebun yang lebih terencana. Dengan jumlah peserta yang cukup besar dan keterlibatan empat kelompok tani, kegiatan ini diharapkan dapat memperluas transfer pengetahuan dan memperkuat kapasitas petani kopi di Kampung Seed Agung.
Sedangkan pelatihan mengenai Perancangan Model Bisnis dan Peta Jalan Hilirisasi Kopi Muting. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Moh. Wahyudin, S.T.P., M.Sc., Ph.D., menegaskan peningkatan nilai ekonomi kopi Muting harus dimulai dari kemampuan petani menghasilkan buah dan biji kopi dengan produktivitas serta kualitas yang lebih baik. “Penanganan PBKo menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut karena pengendalian hama yang tepat dapat membantu mengurangi kerusakan buah dan mempertahankan kualitas hasil panen,” katanya.
Selain memberikan pelatihan pengendalian hama, UGM juga memperkenalkan pupuk cair organik FAPET POC yang diproduksi oleh Fakultas Peternakan UGM sebagai salah satu alternatif input pertanian yang diharapkan dapat mendukung pertumbuhan dan peningkatan produktivitas tanaman kopi. Pengenalan pupuk cair organik tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan inovasi perguruan tinggi yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. “Sinergi antara UGM dan Unmus diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi pendampingan, pengembangan teknologi, dan penerapan inovasi yang sesuai dengan kondisi lokal,” harap Wahyudin.
Kegiatan pelatihan ini menjadi ruang bagi petani untuk memperoleh pengetahuan secara langsung mengenai berbagai permasalahan yang dapat mempengaruhi produktivitas dan kualitas tanaman kopi. Petani diajak untuk mengenali jenis organisme pengganggu tanaman, khususnya PBKo, gejala serangan, siklus dan karakteristik hama, serta langkah pengendalian yang dapat diterapkan pada tingkat kebun.
Dengan penguatan sektor hulu secara berkelanjutan, kopi Muting diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, mempertahankan kualitas, memperkuat posisi kelompok tani, dan pada akhirnya memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap peningkatan pendapatan serta perekonomian masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. TEP
