Dampak perubahan lingkungan seperti krisis iklim dan pemanasan global semakin menegaskan pentingnya peran kedokteran hewan dalam menjaga kesehatan dan keseimbangan ekosistem. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH) UGM diminta terus memperkuat pendekatan one health, ekosistem riset dan inovasi berkelanjutan, serta kolaborasi lintas disiplin di tingkat nasional maupun global. “Melalui penguatan pendekatan one health, terdapat sinergi antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan yang menjadi kunci dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang sehat, aman, dan berkelanjutan,” kata Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., dalam pidato sambutan di Rapat Senat Terbuka dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-80, Senin (21/9), di Auditorium FKH UGM.
Ova juga mengapresiasi inovasi dan upaya FKH UGM yang dilakukan selama ini telah memberikan dampak nyata di masyarakat. Inovasi tersebut yakni mengoperasikan Smart Veterinary Teaching Farm (SVTF) di Kabupaten Gunungkidul, DIY. Langkah inovasi ini, kata Ova, ditujukan sebagai living lab yang dapat menjalankan fungsi pendidikan, pusat penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Tentunya berbagai inovasi lain di bidang kedokteran hewan yang memiliki peran strategis untuk menjawab tantangan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan,” jelasnya.
Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH, Kementerian Pertanian RI, drh. Hendra Wibawa, M.Si., Ph.D., dalam pidato ilmiah Dies Natalis mengatakan inovasi di bidang veteriner perlu ditopang tata kelola yang kuat agar dapat memberikan dampak luas bagi kesehatan hewan, masyarakat, ketahanan pangan, dan perekonomian nasional. “Inovasi veteriner hanya akan berdampak luas apabila ditopang oleh tata kelola yang kuat. Karena itu, transformasi tata kelola veteriner Indonesia menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesehatan hewan yang modern, tangguh, dan adaptif menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.
Adapun penguatan tata kelola tersebut mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia veteriner, penguatan surveilans dan layanan kesehatan hewan, modernisasi laboratorium, pemanfaatan teknologi digital, serta kesiapsiagaan menghadapi penyakit baru dan ancaman global.
Ia juga menyoroti berdirinya Konsil Veteriner Indonesia (KVI) pada Mei 2026 sebagai langkah penting dalam memperkuat tata kelola profesi veteriner di Indonesia. Menurutnya, KVI hadir sebagai embrio Veterinary Statutory Body di Indonesia dengan mandat registrasi nasional profesi veteriner, penetapan standar kompetensi dan pendidikan, serta pengawasan etik dan disiplin profesi. “Kelembagaan ini menjadi fondasi untuk menjaga mutu pendidikan, memastikan kompetensi, melindungi masyarakat, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik dan pengakuan internasional terhadap sistem kesehatan hewan Indonesia,” katanya.
Dekan FKH UGM, Prof. drh. Teguh Budipitojo, M.P., Ph.D. dalam laporannya menyampaikan berbagai capaian kinerja, transformasi kelembagaan, serta kontribusi nasional fakultas selama periode kepemimpinan 2021-2026 yang terbagi dalam tiga horizon transformasi, yakni pemulihan dan konsolidasi, penguatan mutu dan kapasitas, serta peletakan pondasi masa depan. Selama berjalannya periode tersebut, seluruh program studi di FKH UGM berhasil mempertahankan akreditasi Unggul, disertai pengakuan internasional melalui sertifikasi ASIIN untuk Program Sarjana dan Profesi serta AUN untuk Program Magister.
Di bidang riset dan pengabdian, FKH UGM mencatat 506 penelitian dengan menghasilkan 589 publikasi internasional serta 51 produk hilirisasi. Penguatan kontribusi nasional juga diwujudkan melalui pendampingan pendirian program studi kedokteran hewan di sejumlah perguruan tinggi, keterlibatan dalam pengembangan uji kompetensi profesi dokter hewan, serta pengawalan penyusunan RUU Kedokteran Hewan dan pembentukan Konsil Veteriner Indonesia. “Lima tahun ini kami jalani sebagai sebuah perjalanan transformasi, dari pemulihan dan konsolidasi, penguatan mutu dan kapasitas, hingga peletakan fondasi masa depan. Ke depan, FKH UGM perlu terus memperkuat peran sebagai institution builder dan national steward dalam membangun ekosistem veteriner nasional,” tutup Teguh.
Mengusung tema ‘80 Tahun Perjalanan FKH UGM: Inovasi Veteriner untuk Kesehatan Hewan, Manusia, dan Lingkungan’, peringatan Dies Natalis kali ini menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan delapan dekade FKH UGM sekaligus memperkuat kontribusi ilmu kedokteran hewan dalam menjawab tantangan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
