Pemerintah Kabupaten Berau menggandeng Pusat Studi Pariwisata (Puspar) Universitas Gadjah Mada dalam menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) Pengelolaan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Wilayah Kabupaten Berau Tahun 2026–2030. Penyusunan dokumen tersebut merupakan bagian dari upaya menyiapkan arah pengelolaan kawasan berbasis warisan bumi dan pembangunan berkelanjutan.
Peneliti Puspar UGM sekaligus Ketua Tim Kajian, Dr. Destha Titi Raharjana, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa RAD memuat pemetaan 15 geosite unggulan yang tersebar di 12 kecamatan serta rancangan tata kelola pengelolaan kawasan. Dokumen tersebut disiapkan sebagai pedoman bagi perangkat daerah dan pemangku kepentingan dalam mengelola geosite secara terarah. “Kabupaten Berau kini berada di titik balik transisi dari era ekstraktif menuju era pembangunan berkelanjutan. Maksud dari penyusunan RAD ini adalah menyediakan pedoman operasional bagi perangkat daerah dan pemangku kepentingan,” ujar Destha, Selasa (22/9).

Destha menyampaikan bahwa pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat membutuhkan kesiapan dari sisi infrastruktur dasar, kelembagaan lokal, dan keterlibatan masyarakat adat. Arah pengembangan tersebut dirangkum melalui tema ‘Menjelajahi Keajaiban Biokarst dan Bentang Alam Bahari Berau’ dengan menempatkan potensi alam sebagai modal pengembangan jangka panjang. “Melalui penguatan Tim Teknis, pelibatan masyarakat adat, dan optimalisasi pilar geopark, kita optimis Berau siap menjadi destinasi geowisata kelas dunia yang kompetitif, berkualitas dan berkelanjutan,” tegasnya.
Kajian Puspar UGM juga turut memetakan kekayaan geologi Berau yang mencakup jejak samudra purba, evolusi Cekungan Berau, manifestasi hidrotermal, proses geomorfologi aktif, serta bentang alam karst tropis dan marine lake. Peneliti Puspar UGM, Ulfa Ambarwati, S.T., menyebut kawasan tersebut memiliki nilai ilmiah yang tinggi dan menyimpan keragaman warisan geologi. “Berau menyimpan keragaman warisan geologi berstandar global yang sangat langka dan memiliki nilai ilmiah yang tinggi,” ungkap Ulfa.
Untuk menerjemahkan potensi tersebut ke dalam pengalaman wisata yang terarah, kajian turut merumuskan empat skema perjalanan terpadu atau geotrail. Rancangan tersebut mempertimbangkan tema perjalanan, keterhubungan antardestinasi, durasi, aksesibilitas, serta karakter wisatawan. Salah satu skema menawarkan perjalanan satu hari bertema Ancient Ocean & Hydrothermal, sementara skema lainnya mengangkat lanskap karst dan budaya masyarakat Dayak Lebo melalui perjalanan empat hari tiga malam dengan pendekatan community-based geotourism.

Selain kekayaan geologi, pengembangan kawasan juga ditopang keanekaragaman hayati hutan hujan tropis, karst, ekosistem air tawar, pesisir, dan kepulauan. Wijaya, S.Hut., M.Sc., peneliti Puspar UGM, menjelaskan bahwa kekayaan tersebut sekaligus menjadi bagian penting dari keseimbangan ekologis dan kehidupan ekonomi masyarakat. “Kawasan geosite kita merupakan wilayah dengan ekosistem yang lengkap dan langka, mulai dari hutan hujan tropis, hutan lindung karst dataran tinggi, ekosistem air tawar, pesisir dan pulau, hingga fenomena air laut-tawar di Labuan Cermin,” jelas Wijaya.
Di sisi lain, pengelolaan kawasan menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi dalam pelaksanaan RAD. Kajian mengidentifikasi alih fungsi lahan untuk perkebunan dan pertambangan, tekanan over-tourism pada sejumlah geosite populer, serta kebakaran hutan dan lahan sebagai persoalan yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan ekosistem. Penerapan daya dukung kawasan dan pengelolaan yang memperhatikan aspek konservasi menjadi bagian penting dalam menjaga nilai geologi dan keanekaragaman hayati Berau. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung Berau mengembangkan destinasi geowisata yang berkualitas dan berkelanjutan dengan tetap menjaga nilai alam serta budaya yang menjadi kekuatan kawasan.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Tim Peneliti Puspar UGM
