Tantangan global berupa krisis iklim, kerentanan pangan, dan degradasi biodiversitas menuntut pengembangan ilmu Biologi tidak berhenti pada menghasilkan riset mutakhir. Perguruan tinggi perlu memperkuat kolaborasi lintas sektor dan membawa hasil penelitian hingga ke dunia industri agar inovasi Biologi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Tantangan masa depan, seperti krisis iklim, kerentanan pangan, dan degradasi biodiversitas global, menuntut institusi perguruan tinggi untuk terus berinovasi,” ujar Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., dalam sambutannya pada Rapat Terbuka Senat dalam rangka Dies Natalis ke-71 Fakultas Biologi UGM, Senin (21/9).
Ia menyebut pengembangan synthetic biology, bioinformatics, nanobiology, hingga entrepreneurship menjadi bagian penting dalam merespons tantangan masa depan sekaligus memperkuat kemandirian dan kedaulatan bangsa.
Menurut Ova, pengembangan Biologi perlu diikuti dengan penguatan ekosistem kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, dan sektor industri. Kolaborasi tersebut penting agar pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi tidak berhenti sebagai capaian akademik, tetapi dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata.
Dekan Fakultas Biologi UGM Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., mengatakan penguatan kompetensi profesional menjadi salah satu bagian dari upaya Fakultas Biologi merespons perkembangan kebutuhan di bidang keanekaragaman hayati. Salah satu langkah yang dilakukan Fakultas Biologi adalah mengembangkan Program Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati (PKKH). Program tersebut menjadi pendidikan profesi yang secara khusus menyiapkan tenaga profesional untuk melakukan kurasi, pengelolaan, dan pendataan koleksi keanekaragaman hayati. “PKKH Fakultas Biologi UGM merupakan program profesi pertama di Indonesia dan Asia yang berfokus pada bidang tersebut,” ujarnya.
Pengembangan profesi tersebut menjadi semakin relevan bagi Indonesia sebagai negara megabiodiversitas yang membutuhkan sumber daya manusia dengan kompetensi khusus dalam pengelolaan kekayaan hayati. Pada Agustus 2026, Fakultas Biologi UGM kembali melantik lima lulusan PKKH sehingga total lulusannya mencapai 22 orang. “Program tersebut menjadi bagian dari upaya untuk memperluas pengembangan kompetensi profesional di bidang keanekaragaman hayati,” ungkap Budi.
Budi mengatakan keunggulan Fakultas Biologi tidak semata-mata diukur dari capaian akademik dan pengembangan ilmu, tetapi juga dari kemampuan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan, masyarakat, dan kemanusiaan. Arah tersebut sejalan dengan Rencana Strategis Fakultas Biologi UGM 2023–2028 melalui penguatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, jejaring, dan kolaborasi.
Melalui tema “Biosinergi Berkelanjutan, Mengglobal dalam Keunggulan”, Dies Natalis ke-71 Fakultas Biologi UGM menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara sivitas akademika, pemerintah, lembaga riset, dunia industri, dan masyarakat. Sinergi tersebut diarahkan agar pengembangan ilmu Biologi tidak hanya menghasilkan keunggulan akademik, tetapi juga inovasi yang dapat diadopsi dan memberikan manfaat bagi pembangunan berkelanjutan.
Mantan Anggota DPR RI sekaligus alumnus Fakultas Biologi UGM tahun 1993, Drs. Abdul Hakim Naja, M.Si., dalam pidato ilmiah menekankan pentingnya mengubah hasil penelitian menjadi inovasi yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi, “Jangan sampai riset itu hanya berhenti di proposal, kertas kerja, artikel di jurnal. Tidak benar-benar sampai diadopsi untuk tingkat di dunia industri dan bermanfaat untuk masyarakat luas,” ungkap Abdul Hakim.
Ia mengatakan hilirisasi perlu menjadi bagian dari ekosistem penelitian, termasuk melalui penguatan perlindungan kekayaan intelektual dan paten. Menurutnya, paten tidak hanya berfungsi melindungi hasil penelitian, tetapi juga dapat membuka peluang komersialisasi serta memperkuat kerja sama strategis antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri.
Abdul Hakim juga melihat perkembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru sebagai ruang baru bagi lulusan Biologi. Perubahan tersebut, menurutnya, berpotensi menciptakan kebutuhan terhadap profesi dan kompetensi baru. Namun, peluang tersebut perlu diikuti kesiapan pengetahuan dan keterampilan agar lulusan mampu menjawab perubahan kebutuhan dunia kerja.
Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan Biologi karena kekayaan biodiversitas dan karakteristik Biologi Tropika yang dimiliki. Potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber inovasi yang memiliki keunggulan dan nilai ekonomi, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam perkembangan Biologi global. “Karena itu, pendidikan Biologi juga perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Kemampuan membaca perubahan teknologi dan kebutuhan industri dinilai penting agar lulusan Biologi memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dunia kerja,” pungkasnya.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
