Bencana kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Indonesia saat ini menjadi persoalan yang tidak dapat diabaikan. Sejumlah wilayah mulai mengalami kekurangan air. Bahkan, beberapa aliran sungai disebut telah mengering akibat panjangnya periode tanpa hujan. Kondisi tersebut harus segera direspons dengan tindakan, bukan sekadar kekhawatiran. Masyarakat, pemerintah desa, hingga pemerintah daerah perlu bergerak bersama untuk menghadapi kekeringan yang sedang berlangsung sekaligus mempersiapkan ketahanan air untuk musim kemarau berikutnya.
Pakar hidrologi UGM, Prof. Agus Maryono, mengatakan langkah yang dapat dilakukan di saat kekeringan melanda antara lain mencari dan melindungi sumber air yang masih tersedia, termasuk mata air yang debitnya kecil. Agus menilai sumber air sekecil apa pun tetap memiliki arti bagi masyarakat yang menghadapi kekeringan. “Mata air itu, meskipun kecil, satu liter saja berarti untuk seribu orang. Kalau seperempat liter, berarti 250 orang bisa selamat dari itu,” ujarnya Agus Maryono, dalam kegiatan Sekolah Wartawan yang bertajuk “Gerakan Restorasi Sungai Indonesia dan Pengembangan Pariwisata Sungai di Jogja” di Ruang Fortakgama UGM, Kamis (8/10).
Untuk kondisi sungai yang telah mengering, kata Agus, masyarakat dapat mencari kembali sumber air yang masih tersimpan di bawah aliran sungai. Agus menyebut pengerukan pada bagian tertentu dan pembuatan sumur-sumur kecil dapat dilakukan agar air yang masih berada di bawah permukaan dapat dimanfaatkan hingga hujan kembali turun. “Sungai-sungai yang mengering itu coba dikeruk. Dibuat sumuran kecil. Itu airnya masih ada di sungai itu. Di bawah sungai itu air ada,” jelasnya.
Upaya menghadapi kekeringan juga perlu dilakukan pada sisi hulu dan sumber air. Agus mendorong masyarakat untuk menghidupkan kembali embung yang telah mati, melakukan reboisasi, serta memasukkan air hujan ke dalam tanah melalui sumur-sumur yang tidak lagi digunakan. Menurutnya, langkah tersebut perlu dilakukan secara lebih luas dan tidak hanya menunggu program pemerintah.
Ia juga mendorong adanya program bersama yang berbasis masyarakat untuk menghadapi kekeringan saat ini sekaligus mengantisipasi kemarau berikutnya. Menurutnya, kondisi cuaca ke depan tidak dapat dipastikan sehingga ketahanan air perlu dibangun sejak sekarang. “Kita harus membuat program bersama-sama masyarakat, serentak, program serentak berbasis masyarakat menyelesaikan masalah kemarau sekarang dan untuk kemarau yang akan datang,” ujarnya.
Bagi Agus, pengelolaan air perlu bersifat preventif. Air hujan pada musim penghujan perlu dipersiapkan sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari perubahan cara pandang terhadap sungai, bukan hanya menangani persoalan ketika air sudah habis, tetapi membangun sistem agar air tetap tersedia. “Untuk air itu preventif. Memikirkan air hujan, musim hujan untuk musim kemarau,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan gerakan restorasi sungai yang dimulai dari Yogyakarta pada 2014 berkembang dari satu hingga dua komunitas menjadi lebih dari 2.500 komunitas di berbagai wilayah Indonesia. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan sungai dapat tumbuh menjadi gerakan masyarakat ketika kepedulian terhadap lingkungan dibangun melalui pengetahuan, kebersamaan, dan keberlanjutan.
Rasa cinta dan peduli terhadap sungai menjadi titik awal terbentuknya gerakan. Ketika masyarakat mulai merasa memiliki dan peduli terhadap kondisi sungai, kepedulian tersebut dapat berkembang menjadi kebersamaan, semangat, dan motivasi untuk melakukan perubahan. “Kalau itu kita tumbuhkan, maka kita akan bisa mengembalikan semua itu menjadi bersih lagi. Kemudian kebersamaan, kemudian spirit dan motivasinya muncul,”
Dikatakan Agus, gerakan restorasi sungai membutuhkan masyarakat yang memiliki rasa cinta terhadap sungai dan kemauan untuk bergerak bersama. Hal tersebut disampaikan Agus Namun, Agus menekankan bahwa gerakan tidak cukup hanya mengandalkan semangat dan tenaga masyarakat. Pengetahuan diperlukan agar gerakan mampu memahami persoalan sungai secara lebih menyeluruh. “Gerakan itu tidak hanya semangat, tapi ilmu. Tidak hanya otot, tapi ilmunya harus diisi,” ujarnya.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana membuat gerakan tersebut bertahan. Menurut Agus, kegiatan restorasi yang hanya mengandalkan kerja sukarela dapat menghadapi persoalan keberlanjutan dan regenerasi. Tidak semua masyarakat dapat terus-menerus terlibat tanpa adanya manfaat yang dapat dirasakan.
Karena itu, pengembangan wisata sungai dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan keberlanjutan gerakan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Sungai yang telah dipulihkan dapat dikembangkan sebagai ruang wisata lingkungan yang mempertemukan kepentingan ekologis dengan aktivitas ekonomi lokal. “Wisata itu bisa realistis kalau di sungai itu bisa mensejahterakan masyarakatnya secara signifikan,” kata Agus.
Menurutnya, wisata sungai dapat menciptakan pergerakan manusia, informasi, dan ekonomi melalui berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari UMKM, kuliner, parkir, penyediaan fasilitas, hingga kegiatan edukasi lingkungan. Masyarakat, lanjutnya, perlu ditempatkan sebagai pengelola kawasan, bukan sekadar tenaga kerja. “Dengan demikian, terbentuk siklus ketika sungai yang terjaga menarik pengunjung, aktivitas wisata memberikan manfaat ekonomi, dan manfaat tersebut mendorong masyarakat untuk kembali menjaga lingkungan sungai,” pugkasnya.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto, Antara
