Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan penggunaan Peta Bumi Setara (Equal Earth) untuk mendorong penggambaran luas benua yang lebih proporsional, terutama Afrika. Meskipun keputusan PBB tidak bersifat absolut, resolusi ini mendorong sejumlah lembaga internasional untuk beralih dari proyeksi Mercator ke Equal Earth.
Kepala Laboratorium Kartografi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Dr. Ari Cahyono, menjelaskan bahwa perubahan tampilan wilayah pada peta dunia berkaitan dengan sistem proyeksi yang digunakan. Proyeksi peta merupakan metode untuk memindahkan kenampakan permukaan bumi yang melengkung ke bidang datar. Proses ini tidak dapat dilakukan tanpa menimbulkan distorsi atau perubahan pada aspek tertentu, seperti bentuk, luas, jarak, maupun sudut. “Dari bentuk yang bidang lengkung ke bidang datar itu pasti akan timbul distorsi. Sehingga peta yang dihasilkan itu tidak mungkin 100 persen semua aspek benar. Tidak mungkin dia bisa mempertahankan bentuk wilayah, luas wilayah, jarak, maupun sudut, semuanya dengan benar,” jelasnya, Jumat (9/10).
Mercator dan Equal Earth
Proyeksi Mercator dikembangkan oleh Gerardus Mercator pada abad ke-16 untuk mendukung kebutuhan navigasi laut. Sistem ini mempertahankan arah dan sudut sehingga membantu pelaut menentukan jalur pelayaran. Namun, karakteristik tersebut menimbulkan distorsi luas yang semakin besar pada wilayah berlintang tinggi atau semakin jauh dari ekuator.
Akibatnya, wilayah seperti Greenland dan Antarktika tampak jauh lebih besar daripada ukuran relatifnya yang sebenarnya. Sejumlah wilayah lain, termasuk Amerika Utara dan Eropa, juga terlihat lebih luas dibandingkan jika menggunakan proyeksi yang mempertahankan luas. Sementara itu, wilayah di sekitar ekuator mengalami distorsi luas yang relatif lebih kecil.
Menurut Ari, karakteristik Mercator tidak dapat dilepaskan dari tujuan awal pembuatannya. Proyeksi ini tetap berguna untuk navigasi karena mempertahankan sudut dan arah, tetapi kurang tepat apabila digunakan untuk membandingkan luas wilayah secara langsung.
“Kalau peta gunanya untuk pelayaran, Mercator tetap bagus. Tapi ketika ingin memberikan persepsi orang akan suatu wilayah, yang mana persepsi antarnegara satu dengan negara lain itu punya persepsi yang sama akan kondisi wilayah yang sebenarnya, maka lebih cocok pakai Equal Earth,” paparnya.
Berbeda dengan Mercator, Equal Earth merupakan proyeksi peta dunia yang dirancang untuk mempertahankan perbandingan luas wilayah secara proporsional. Proyeksi ini memungkinkan masyarakat membandingkan luas benua dan negara tanpa distorsi luas yang menjadi ciri khas Mercator.
Penggunaan Equal Earth juga berkaitan dengan cara masyarakat memahami posisi dan ukuran suatu wilayah dalam peta dunia. Ari menilai, representasi visual dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap kondisi geografis. Ketika suatu wilayah tampak lebih besar daripada luas relatifnya, pembaca peta berpotensi membentuk pemahaman yang kurang tepat mengenai perbandingan wilayah tersebut.
“Karena peta itu sebagai representasi visual, maka tentu kita bicara persepsi visual manusia. Persepsi kita dalam membaca peta yang benar dengan persepsi kita akan wilayah yang kita bayangkan tadi pasti juga berpengaruh,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dorongan untuk menggunakan proyeksi yang mempertahankan luas juga berkaitan dengan upaya menghadirkan penggambaran wilayah yang lebih setara. Melalui Equal Earth, perbandingan luas Afrika dengan benua lain dapat ditampilkan secara lebih proporsional, sehingga masyarakat tidak hanya mengandalkan kesan visual yang terbentuk dari proyeksi tertentu.
Meski Equal Earth menawarkan keunggulan dalam perbandingan luas, Ari menegaskan jika proyeksi ini tidak serta-merta lebih baik daripada Mercator untuk seluruh kebutuhan. Pemilihan proyeksi perlu mempertimbangkan tujuan pemetaan, lokasi wilayah, skala peta, serta aspek geografis yang ingin dipertahankan.
Ia menjelaskan, sistem proyeksi dikembangkan dengan karakteristik dan kegunaan yang berbeda. Proyeksi azimutal, misalnya, dapat digunakan untuk pemetaan wilayah kutub. Proyeksi silinder sesuai untuk kebutuhan tertentu di wilayah sekitar ekuator, sedangkan proyeksi kerucut kerap digunakan untuk wilayah lintang tengah. “Tidak ada satu sistem proyeksi pun yang fit for all purpose. Jadi, tidak bisa untuk semua keperluan,” tegasnya.
Dalam konteks Indonesia, yang sebagian besar wilayahnya berada di sekitar ekuator, pemilihan proyeksi peta dunia perlu disesuaikan dengan tujuan penggunaannya. Jika peta digunakan untuk pendidikan dan membantu siswa memahami perbandingan luas benua, Equal Earth dapat menjadi pilihan yang relevan. Namun, untuk kebutuhan navigasi atau pemetaan teknis, sistem proyeksi lain mungkin lebih sesuai.
Ari juga menekankan pentingnya keterlibatan tenaga profesional di bidang kartografi dalam proses pembuatan peta. Pemilihan sistem proyeksi perlu mempertimbangkan tingkat distorsi yang dapat diterima agar informasi yang disajikan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Di Indonesia, Badan Informasi Geospasial (BIG) berperan dalam penyediaan peta dasar sebagai acuan bagi berbagai kegiatan pemetaan.
Memahami Keterbatasan Peta Digital
Pemahaman mengenai distorsi peta juga relevan di tengah penggunaan layanan peta digital, seperti Google Maps. Ari menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami sistem proyeksi yang digunakan sebelum menafsirkan informasi pada peta. Perbedaan proyeksi dan datum geodetik dapat memengaruhi representasi posisi maupun hasil pengukuran.
Google Maps menggunakan Web Mercator untuk tampilan petanya. Sistem ini mendukung penyajian peta digital global, tetapi tetap memiliki keterbatasan, terutama dalam menggambarkan luas wilayah pada lintang tinggi. Karena itu, tampilan suatu wilayah di layar tidak selalu mencerminkan perbandingan luas yang sebenarnya.
Selain itu, perbedaan antara jarak pada peta dan jarak di lapangan dapat dipengaruhi oleh skala, sistem koordinat, datum, serta cara pengukuran yang digunakan. Pengguna perlu membedakan antara peta yang berfungsi sebagai gambaran umum wilayah, peta navigasi, dan peta teknis yang dirancang untuk kebutuhan pengukuran tertentu.
Ari mengingatkan bahwa masyarakat tidak cukup hanya melihat tampilan visual peta, tetapi juga perlu memahami tujuan pembuatannya. Peta yang baik bukanlah peta yang sepenuhnya bebas distorsi, melainkan peta yang mampu menyajikan informasi secara akurat sesuai dengan kebutuhan pengguna.
“Setiap peta pasti ada distorsi yang terjadi karena bentuk aslinya itu bulat, diproyeksikan dari tiga dimensi ke dua dimensi. Namun, pasti ada suatu aspek yang dipertahankan sesuai dengan tujuan pemetaannya,” pungkasnya.
Dengan demikian, penggunaan Equal Earth maupun Mercator perlu ditempatkan sesuai dengan fungsinya. Equal Earth membantu menyajikan perbandingan luas wilayah secara lebih proporsional, sedangkan Mercator tetap relevan untuk kebutuhan navigasi tertentu. Pemahaman terhadap karakteristik setiap proyeksi menjadi langkah penting agar masyarakat dapat membaca peta secara kritis dan memperoleh gambaran geografis yang lebih tepat.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Wikimedia
