Keberhasilan berwirausaha tidak cukup ditentukan oleh ide dan pengetahuan, tetapi juga oleh keberanian untuk menjalankan ide tersebut menjadi tindakan nyata. “Kita boleh punya modal ilmu, kita boleh punya alat, kita boleh punya apa pun, network, tapi yang menentukan adalah eksekusi,” ungkapnya Dr. Rico Tedyono, Co-Founder dan Chief Operating Officer (COO) Komunal Indonesia, General Lecture UGMPreneurs 2026: Scaling Up UKM di Auditorium Kamarijani Soenjoto, FTP UGM, Sabtu (17/10).
Rico mengajak mahasiswa memahami pentingnya mengambil inisiatif, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dan menggunakan teknologi digital untuk mendukung usaha. Ia juga menyoroti pentingnya membangun jejaring sejak dini karena interaksi langsung dengan praktisi dapat membuka kesempatan untuk belajar, memperoleh masukan, dan menjajaki peluang kerja sama.
Selain itu, ia mengingatkan pelaku usaha untuk memahami kondisi keuangan bisnis dan membangun tim yang memiliki literasi keuangan. “Pengelolaan keuangan yang baik membantu pemilik usaha dan karyawan mengambil keputusan secara lebih tepat, menjaga keberlangsungan perusahaan, serta mengantisipasi risiko ketika menghadapi perubahan kondisi bisnis,” ujarnya.
Sementara itu, Ricky Afrianto Ricky Afrianto, S.E., selakuGlobal Marketing Director Mayora Group menyoroti tantangan pemasaran di tengah banyaknya iklan dan informasi yang diterima konsumen setiap hari. Menurutnya, kemudahan beriklan melalui media digital tidak serta-merta membuat pesan sebuah produk diperhatikan atau diingat oleh konsumen.
Karena itu, pelaku usaha perlu menyampaikan pesan pemasaran secara sederhana, jelas, dan mudah dipahami. Produk juga perlu memiliki keunikan serta alasan yang kuat agar konsumen dapat membedakannya dari produk pesaing.
Ricky turut menekankan pentingnya menjaga relevansi merek di tengah perubahan generasi dan perilaku konsumen. Merek yang telah lama dikenal tetap perlu beradaptasi melalui inovasi produk, pembaruan kemasan, dan komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar. “Yang ngurus brand boleh tua, yang buat bisnis boleh tua, tapi brand-nya enggak boleh tua,” ujarnya, menekankan bahwa merek perlu terus diperbarui agar tetap dekat dengan konsumen.
Ia juga menjelaskan bahwa strategi pemasaran perlu menyeimbangkan upaya mendorong penjualan dalam jangka pendek dengan pembangunan merek untuk jangka panjang. Promosi dapat menarik pembelian dalam waktu singkat, tetapi konsistensi dalam membangun identitas dan kepercayaan terhadap merek diperlukan agar konsumen terus mengingat dan memilih produk tersebut.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FTP UGM, Prof. Dr. Yudi Pranoto, S.T.P., M.P., mengatakan UGMPreneurs 2026, menjadi wadah untuk mempertemukan mahasisw pembelajaran akademik dengan praktisi yang memiliki pengalaman praktis di dunia usaha. Kegiatan ini diharapkan membantu mahasiswa mengembangkan pola pikir kewirausahaan, mengubah ide menjadi tindakan, serta memahami strategi untuk membangun bisnis yang berkelanjutan dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. “Kita ingin membekali mahasiswa dengan wawasan mengenai pengembangan ide menjadi usaha, pembangunan jejaring, serta strategi pemasaran dan penguatan merek agar bisnis mampu berkembang di tengah persaingan,” pungkasnya.
Penulis : Adinda Putri Rahma
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok FTP
