Menyelesaikan pendidikan doktor bukanlah suatu perkara mudah. Terlebih ketika harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab akademik. Namun, tantangan tersebut berhasil dilalui oleh Fildza Huwaina Fathnin, wisudawati Program Doktor Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), yang berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 dengan predikat cum laude pada Wisuda Pascasarjana pada 28-29 Oktober lalu. Padahal IPK rata-rata 270 lulusan Program Doktor adalah 3,86.
Fildza merupakan salah satu dari 54 orang lulusan yang memiliki IPK tertinggi sama yaitu 4,00. Ia mengungkapkan rasa syukur dan bahagia atas capaian yang diraihnya karena menurutnya suatu hal yang dilakukan dengan baik, hasilnya akan baik juga. “Ketika berproses di Doktor Ilmu Farmasi, tentunya banyak sekali kegiatan yang dilaksanakan, dari mulai kuliah hingga penyelesaian tugas akhir atau disertasi. Dari sulitnya kegiatan-kegiatan tersebut, akhirnya mendapat IPK 4,0 dan juga predikat cum laude ini juga alhamdulillah memuaskan,” ungkapnya, Senin (2/11).
Fildza menceritakan dirinya saat memulai pendidikan doktor di UGM, ia masih berada dalam masa awal menjadi seorang ibu dan mengungkapkan bahwa ketika memulai perkuliahan, anaknya baru berusia dua bulan. Tak hanya itu, di tengah tanggung jawab mengasuh anak, ia juga harus menjalankan tugasnya sebagai dosen di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Semarang.
Kondisi tersebut membuatnya harus mengatur perjalanan pulang-pergi Semarang–Yogyakarta agar tetap dapat menjalankan berbagai tanggung jawabnya. Menurutnya, dukungan lingkungan akademik, khususnya dalam pengaturan jadwal perkuliahan, turut membantu dirinya menjalani studi. Jadwal yang telah disusun jauh hari membuatnya dapat mengatur perjalanan sekaligus memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. “Rata-rata tidak ada jadwal yang dadakan. Jadi, saya sudah bisa merencanakan kapan harus ke Yogyakarta. Itu sangat membantu bagi kami yang sudah berumah tangga dan memiliki anak,” tuturnya
Di tengah tugas, tanggung jawab, dan menjaga konsistensi selama studi, Fildza menerapkan manajemen waktu dengan membagi target jangka panjang dan jangka pendek. Baginya, memahami tujuan utama menempuh pendidikan menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan semangat belajar. Ia juga membiasakan diri membuka dan mengerjakan disertasi secara rutin, setidaknya tiga hingga empat hari dalam seminggu.
Salah satu kebiasaan yang dijalaninya adalah bangun dini hari untuk beribadah sebelum melanjutkan pekerjaan akademik hingga waktu subuh. Waktu tersebut dimanfaatkannya untuk menulis disertasi maupun menyelesaikan revisi publikasi ilmiah. Ia memilih waktu pagi karena harus menyesuaikan aktivitas akademik dengan tanggung jawab mengasuh anak dan pekerjaan sebagai dosen.
“Setiap minggu saya selalu berusaha membuka tugas akhir. Biasanya saya bangun pukul 02.00, kemudian salat terlebih dahulu dan melanjutkan menulis sampai waktu subuh. Setidaknya ada satu sampai satu setengah jam setiap hari untuk mengembangkan pekerjaan akademik,” jelasnya.
Menurutnya, perjalanan akademiknya tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terberat yang dihadapinya adalah proses publikasi ilmiah sebagai bagian dari persyaratan pendidikan doktor. Ia mengaku pernah mengalami penolakan hingga tujuh kali terhadap satu manuskrip penelitian sebelum akhirnya terus memperbaiki dan mencari jurnal yang sesuai. Selama menempuh studi doktor, ia berhasil menghasilkan empat manuskrip, termasuk tiga manuskrip yang berkaitan dengan penelitian sebelumnya.
Di tengah proses penyelesaian disertasi, Filzah juga harus menghadapi kondisi keluarga ketika ibunya mengalami sakit dan menjalani operasi besar. Situasi tersebut sempat membuat pengerjaan disertasinya tertunda selama sekitar dua bulan. Meski demikian, ia tetap berupaya menyelesaikan studinya sesuai target.“Selama kita ada kemauan dan berusaha memberikan yang terbaik, pasti ada jalan. Saya percaya bahwa setiap kesulitan akan selalu disertai kemudahan,” tuturnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Fildza mengaku pernah mengalami kejenuhan hingga mempertanyakan kembali keputusannya menempuh pendidikan doktor. Ia bahkan sempat menangis ketika memikirkan alasan dirinya harus menyelesaikan studi S3, sementara di luar sana masih banyak masyarakat yang menghadapi kesulitan hidup, mulai dari persoalan kelaparan hingga keterbatasan pekerjaan dan penghasilan.
“Pernah suatu ketika saya menangis di jalan dan bertanya kepada diri sendiri, ‘Ngapain sih aku S3?’ Ketika melihat masih banyak orang kelaparan, banyak orang susah, bahkan untuk membeli kebutuhan pokok saja kesulitan. Lalu, saya berpikir, apa yang sebenarnya saya lakukan dengan menempuh S3 ini?” ceritanya.
Namun, melalui percakapan dengan suaminya, Fildza mulai memahami bahwa setiap orang memiliki amanah dan peran masing-masing. Menurutnya, pendidikan doktor yang telah ditempuh bukan alasan untuk menjauh dari persoalan masyarakat, melainkan menjadi bekal untuk memberikan kontribusi sesuai bidang keilmuan yang dimiliki.
Selain menjaga rutinitas akademik, Fildza juga memiliki cara tersendiri untuk mengatasi kejenuhan selama menyelesaikan disertasi. Ia biasanya mengambil waktu istirahat dengan melakukan aktivitas bersama keluarga, mengajak anak dan suaminya berjalan-jalan, atau sekadar berbincang dengan suami untuk menceritakan berbagai hal yang dihadapinya.
Menariknya, aktivitas sederhana di rumah juga menjadi salah satu cara Fildza menyegarkan pikiran. Ia mengaku terkadang memilih mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti memasak dan menyetrika, ketika membutuhkan jeda dari pekerjaan akademik.
“Kalau sudah jenuh, saya biasanya beralih ke aktivitas lain. Bisa mengajak anak dan suami jalan-jalan, mengobrol, atau mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak dan menyetrika. Jadi, tidak harus terus-menerus memaksakan diri mengerjakan disertasi. Setelah pikiran lebih segar, baru mulai lagi,” ungkapnya.
Bagi Fildza, keberhasilan meraih gelar doktor bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan juga membawa tanggung jawab untuk memberikan manfaat yang lebih luas. Sebagai dosen di bidang farmasi komunitas atau social behavioral administration., ia berharap ilmu yang diperolehnya selama studi dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, baik dalam pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
“Setelah selesai S3, pasti ada amanah berikutnya yang relevan dengan keilmuan saya. Sebagai dosen, saya harus mengajar lebih baik, melakukan penelitian yang berdampak, dan melaksanakan pengabdian dengan cakupan yang lebih luas kepada masyarakat,” ujarnya.
Kepada mahasiswa yang memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor, Fildza berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai keterbatasan. Menurutnya, setiap orang memiliki kondisi dan titik awal perjuangan yang berbeda. Karena itu, penting untuk memiliki tujuan yang jelas, terus berikhtiar, serta menjaga konsistensi dalam menjalani proses pendidikan.
“Ketika kita berniat melakukan sesuatu, tegakkan niat itu dan munculkan ikhtiarnya. Jangan kemudian putus asa hanya karena memikirkan keterbatasan yang kita miliki. Setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing, tetapi bukan berarti tidak ada jalan untuk mencapainya,” pungkasnya.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Filzah
