Teknologi Wolbachia Efektif Atasi Dengue, UGM Luncurkan Proyek SHIELD untuk Perluasan Nasional
Indonesia masih menghadapi beban penyakit dengue yang tinggi. Pada 2025, Indonesia tercatat menempati urutan kedua dunia dalam jumlah kematian akibat dengue, dengan 703 kematian atau sekitar 17 persen dari total kematian dengue secara global. Adapun kondisi tersebut mendorong pengembangan strategi pengendalian dengue yang lebih efektif dan berkelanjutan, salah satunya melalui penerapan teknologi Wolbachia.
“Tingginya beban dengue di Indonesia menjadi salah satu dasar pelaksanaan implementasi teknologi Wolbachia di lima kota,” ujar Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa, dan Tanaman Beracun Kemenkes RI, dr. Fadjar Surya M. Silalahi dalam keterangan yang dikirim ke wartawan, Selasa (3/11).
Dalam pertemuan kick-off meeting Proyek Scaling Health Interventions for Effective Long-term Dengue Control (SHIELD) yang diinisiasi Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM tersebut, Fadjar menjelaskan bahwa penerapan teknologi Wolbachia didasarkan pada hasil penelitian di Yogyakarta yang menunjukkan penurunan kejadian dengue hingga 77 persen dan angka rawat inap sebesar 86 persen. Tak hanya itu, Fadjar juga memaparkan hasil positif yang terlihat dalam implementasi di Kota Semarang. “Tren penurunan kasus dengue tercatat seiring dengan stabilnya proporsi nyamuk ber-Wolbachia di atas 60 persen,” sambungnya.
Bukti manfaat Wolbachia tidak hanya terlihat dari hasil penelitian awal di Yogyakarta. Pendamping Peneliti Utama Proyek SHIELD, Katie Anders, M.Sc., Ph.D., dari Monash University, menjelaskan bahwa dampak penerapan Wolbachia dalam menekan penularan dengue di Yogyakarta masih bertahan hingga tujuh tahun setelah pelepasan nyamuk ber-Wolbachia. “Ini didukung oleh hasil pemantauan pada 2023–2024 yang menunjukkan bahwa proporsi Wolbachia dalam populasi nyamuk Aedes aegypti mencapai 89 persen,” papar Katie.
Selama lima tahun setelah penerapan Wolbachia secara menyeluruh di Kota Yogyakarta, sambung Katie, angka kejadian dengue tercatat 76 persen lebih rendah dibandingkan dengan kota-kota lain di Pulau Jawa yang tidak menerapkan intervensi serupa. Meski begitu, Katie menegaskan bahwa Wolbachia tidak sepenuhnya menghilangkan risiko penularan dengue. “Oleh karena itu, penerapannya tetap perlu menjadi bagian dari strategi pengendalian dengue yang terpadu, bersama dengan upaya pencegahan dan pengendalian lainnya,” ujarnya.
Berangkat dari sinilah, project SHIELD dirancang untuk memahami lebih jauh bagaimana implementasi Wolbachia dapat berjalan efektif dan berkelanjutan di berbagai konteks wilayah.
Ketua Peneliti Proyek SHIELD sekaligus Peneliti PKT UGM, Dr. dr. Citra Indriani, M.P.H., menyampaikan bahwa penelitian ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang pengembangan teknologi Wolbachia di Indonesia. “Melalui SHIELD, kami ingin mengambil pembelajaran dari implementasi di lima kota sebagai dasar untuk menyusun strategi perluasan Wolbachia, baik di tingkat nasional maupun global,” jelas Citra.
Untuk mencapai tujuan tersebut, SHIELD dijalankan melalui empat kelompok kerja (pokja) yang saling melengkapi, yaitu Riset Implementasi, Entomologi, Epidemiologi, dan Pemodelan. Dalam pelaksanaannya, pokja Riset Implementasi berfokus pada identifikasi faktor pendukung dan penghambat implementasi Wolbachia, serta komponen-komponen penting yang menentukan keberhasilan penerapannya. Lebih lanjut, Pokja Entomologi hadir untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan serta keberlanjutan Wolbachia pada populasi nyamuk, termasuk ketahanan intervensi terhadap kondisi panas ekstrem.
Sementara itu, Pokja Epidemiologi mengevaluasi dampak implementasi Wolbachia melalui program pengendalian dengue terhadap penularan dengue dan kesehatan masyarakat di berbagai wilayah dengan karakteristik yang berbeda. Adapun Pokja Pemodelan melakukan analisis manfaat-biaya serta mengembangkan berbagai skenario integrasi Wolbachia dengan strategi pengendalian dengue lainnya, termasuk vaksinasi, untuk memaksimalkan manfaat bagi kesehatan masyarakat dan mendukung pengambilan kebijakan.
Adapun melalui kolaborasi lintas bidang ini, SHIELD diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran yang tidak hanya memperkuat bukti ilmiah mengenai Wolbachia, tetapi juga mendukung perencanaan dan pengambilan kebijakan terkait perluasan penerapannya. “Semoga proyek ini menghasilkan luaran yang bisa kita gunakan untuk penguatan kebijakan perluasan Wolbachia di Indonesia,” harap Citra.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. PKT UGM
