Universitas Gadjah Mada melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk membantu petani menghadapi gangguan hama, penyakit tanaman, dan satwa liar di Kabupaten Gunungkidul. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, pada Sabtu (24/10). Kegiatan yang diselenggarakan Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM ini diikuti petani dan pekebun dari Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo. Program tersebut menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat melalui skema desa binaan untuk meningkatkan kapasitas petani dalam menghadapi permasalahan pertanian.
Petani di ketiga kalurahan membudidayakan beragam komoditas, mulai dari padi, jagung, kacang tanah, cabai, dan bawang merah hingga buah-buahan seperti alpukat dan mangga. Produktivitas tanaman tersebut menghadapi ancaman dari berbagai organisme pengganggu tanaman, termasuk penggerek daun, penggerek batang, dan penyakit patah leher pada padi. Masyarakat juga menghadapi gangguan iguana mini invasif dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang menyerang tanaman pertanian maupun perkebunan. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang tepat agar gangguan dapat dikendalikan tanpa mengabaikan keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Untuk membantu petani mengenali dan menangani gangguan tanaman, kegiatan ini menghadirkan Dr. Suputa, S.P., M.P., ahli hama dari Fakultas Pertanian UGM, serta Dr. Sri Wahyuni Budiarti, S.P., M.Si., peneliti penyakit tanaman dari BRIN. Keduanya memberikan pembekalan mengenai pengenalan hama dan penyakit, identifikasi gejala serangan, serta strategi pencegahan dan pengendalian sesuai karakteristik tanaman dan kondisi lapangan. Melalui pelatihan tersebut, petani diharapkan mampu mendeteksi gangguan sejak dini dan menentukan tindakan penanganan yang tepat. “Petani perlu memahami gejala serangan hama dan penyakit sejak awal agar dapat menentukan langkah pengendalian yang sesuai dengan kondisi tanaman. Penerapan pengendalian yang tepat diharapkan membantu mengurangi risiko kehilangan hasil panen dan menjaga produktivitas pertanian,” ujar Suputa.

Persoalan gangguan monyet ekor panjang menjadi perhatian tersendiri karena penanganannya berkaitan dengan perlindungan tanaman, keselamatan manusia, dan konservasi satwa liar. Untuk membahas persoalan tersebut, kegiatan menghadirkan Edi Warsito dari BKSDA Daerah Istimewa Yogyakarta wilayah Gunungkidul. Ia memberikan penjelasan mengenai upaya pengendalian populasi monyet yang selama ini menjadi tantangan bagi masyarakat. Penanganan gangguan satwa liar memerlukan koordinasi antara warga, pemerintah kalurahan, dan instansi berwenang agar langkah yang diambil sesuai dengan ketentuan konservasi. “Gangguan satwa liar perlu ditangani dengan mempertimbangkan keselamatan masyarakat sekaligus perlindungan satwa. Karena itu, koordinasi antara masyarakat, pemerintah kalurahan, dan instansi terkait menjadi bagian penting dalam mencari solusi yang tepat,” jelas Edi.
Kepala Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia FMIPA UGM, Dr. Endang Astuti, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan secara berkelanjutan di Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo. Program desa binaan dirancang untuk membangun hubungan dengan masyarakat melalui kegiatan yang menjawab kebutuhan di lapangan. Keterlibatan pakar perguruan tinggi, peneliti, instansi konservasi, dan pemerintah kalurahan diharapkan membantu masyarakat memperoleh pengetahuan serta dukungan yang relevan dengan persoalan pertanian mereka. “Program desa binaan ini kami laksanakan untuk mendukung peningkatan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kami berharap pengetahuan yang dibagikan dapat diterapkan untuk membantu mengatasi persoalan pertanian dan perkebunan di wilayah Wunung, Duwet, dan Mulo,” tutur Endang.
Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM juga menyerahkan bantuan sprayer elektrik kepada perwakilan Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo. Bantuan ini melengkapi pembekalan teknis yang diberikan kepada petani dan pekebun dalam kegiatan pengabdian tersebut. Melalui program desa binaan, UGM berupaya menghubungkan pengetahuan akademik dan kebutuhan masyarakat untuk mendukung pengelolaan pertanian yang lebih produktif. Kolaborasi dengan BRIN, BKSDA, pemerintah kalurahan, dan masyarakat diharapkan menjadi pijakan bagi upaya penanganan gangguan pertanian secara tepat dan berkelanjutan.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Dok. FMIPA
