Universitas Gadjah Mada terus memperkuat perannya dalam pengembangan jejaring akademik dan kolaborasi internasional melalui partisipasi dalam rangkaian kegiatan PROACT 2026 Winter School dan 3rd International Scientific Conference “One World, One Health” yang diselenggarakan oleh Badr University in Cairo (BUC), Mesir. Partisipasi tersebut diwakili oleh Prof. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.M.K. (K), selaku Ketua One Health UGM, dan Dr.rer.nat. Abdul Rahman Siregar, S.Si., M.Biotech., yang berlangsung pada 17–21 Oktober 2026 di Kairo dan Ain Sokhna, Mesir.
Tri Wibawa, selaku Ketua One Health UGM, menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Sebab, permasalahan seperti penyakit zoonotik, resistensi antimikroba, perubahan lingkungan, dan keamanan pangan membutuhkan solusi terpadu yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, sektor, dan negara. Oleh karenanya, pentingnya keterlibatan One Health UGM dalam PROACT 2026. “UGM memiliki perhatian yang besar pada isu ini dan mendapat respons yang sangat baik oleh para peserta konferensi,” ujarnya, Jumat (30/10)
Dalam pemaparannya, Tri menjelaskan sejumlah inisiatif Indonesia untuk memperkuat penerapan pendekatan One Health. Upaya tersebut mencakup pembentukan konsorsium antaruniversitas dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pengembangan pendidikan, penguatan riset kolaboratif lintas disiplin, serta pengabdian kepada masyarakat.
“Kita bentuk konsorsium antaruniversitas dengan BRIN, kemudian, di pendidikan, kita advokasi ke program studi untuk dimasukkan isu One Health ke dalam pendidikan hingga dibuatkan peminatan One Health pada program studi magister Kesehatan Masyarakat. Kita juga meluncurkan buku referensi berjudul The One Health Concept in Asian Contexts yang diterbitkan Springer,” katanya.
Di bidang riset, pihaknya mendorong riset kolaboratif antarbidang ilmu dengan melibatkan mitra nasional maupun internasional. Sementara itu, dalam pengabdian kepada masyarakat, kita melakukan berbagai kegiatan seperti webinar, penyuluhan, desa binaan, promosi kesehatan melalui media sosial, termasuk melalui program KKN tematik.
Pada forum yang sama, Dr. Abdul Rahman Siregar, dosen Fakultas Biologi UGM sekaligus Koordinator Indonesia untuk program PROACT 2026, menjadi salah satu pembicara dalam panel internasional bertajuk “Borders & Boundaries: Global One Health Paradigms”.
Diskusi tersebut mengangkat pentingnya melampaui batas geografis, sektoral, dan kelembagaan dalam menghadapi tantangan kesehatan global. Menurut keterangan Prof. Tri, salah satu pesan utama yang ditekankan dalam diskusi tersebut adalah perlunya kesamaan persepsi di antara para ahli dan praktisi mengenai penerapan One Health sebagai gerakan bersama.
“Perlu persamaan persepsi dan platform yang sama di antara para ahli dan praktisi tentang bagaimana One Health digunakan sebagai gerakan bersama dalam menjaga kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan ini menuntut keterlibatan berbagai bidang keilmuan dan sektor agar persoalan kesehatan tidak ditangani secara terpisah. Koordinasi antarpihak dan kerja sama lintas negara pun menjadi bagian penting dalam mendorong implementasi One Health secara berkelanjutan.
Keterlibatan UGM juga membuka peluang pengembangan kerja sama dengan mitra internasional. Rangkaian kegiatan ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari 12 negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Program PROACT 2026 melibatkan UGM, Leipzig University, Jerman, dan Badr University in Cairo, Mesir, dengan dukungan German Academic Exchange Service (DAAD).
Tri menyebut jejaring internasional yang terbentuk selama kegiatan tersebut membuka peluang kolaborasi lebih lanjut, terutama dalam bidang pendidikan dan penelitian.“Peluang kerja sama sangat besar. Akan ada pertemuan rutin lanjutan untuk membahas implementasi One Health, baik dalam bidang pendidikan maupun riset,” ungkapnya.
Menurutnya, jejaring tersebut diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui kolaborasi konkret yang memperkuat kontribusi UGM dalam pengembangan pendekatan kesehatan terpadu di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui partisipasi ini, UGM terus mendorong kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara untuk menghadapi tantangan kesehatan global, termasuk penyakit zoonotik, resistensi antimikroba, perubahan lingkungan, dan keamanan pangan.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tri Wibawa
