Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional Kementerian Pertahanan RI, Sabrang Mowo Damar Panuluh, menilai pendidikan ketahanan nasional perlu mendorong lahirnya pemikiran yang lebih adaptif terhadap perubahan situasi global. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun cara berpikir strategis yang tidak berhenti pada pemahaman normatif mengenai negara. “Kita harus menemukan akar. Kenapa harus mempertahankan Indonesia? Apa yang dipertahankan? Baru kemudian kita bisa mengidentifikasi ancaman,” kata Sabrang dalam Seminar Nasional Transformasi Kurikulum yang bertajuk Membangun Ekosistem Ilmu Ketahanan Strategis Bangsa untuk Meneguhkan Kejayaan Indonesia Raya Menuju Abad Kedua Kemerdekaan di ruang seminar Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM, Senin (27/7).
Sabrang menyebutkan, ancaman terhadap bangsa terus berkembang, mulai dari aspek politik, ekonomi, teknologi, hingga kecerdasan artifisial yang memengaruhi cara masyarakat berpikir dan mengambil keputusan. Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi menyiapkan lulusan yang mampu membaca perubahan secara cepat melalui sistem pendidikan yang adaptif. Ia berpandangan kurikulum harus terus berkembang mengikuti percepatan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. “Kalau cara pendidikannya tidak berubah, saya jamin ketinggalan. Satu-satunya hukum untuk survival adalah adaptasi,” tegasnya.
Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat, Mayjen TNI Dr. Agustinus Purboyo, memaparkan bahwa konsep pertahanan telah berkembang menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Perubahan geopolitik, perang informasi, hingga ancaman nonmiliter menuntut hadirnya pendekatan yang lebih menyeluruh dalam membangun ketahanan nasional. Karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi berbagai bentuk ancaman tersebut. “Pertahanan modern bukan hanya kekuatan militer, tetapi kemampuan mengintegrasikan seluruh instrumen nasional untuk bisa diorkestrasi menjadi satu harmoni yang indah agar kita bisa mempertahankan Indonesia dan survive di abad kedua kemerdekaan,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi faktor utama dalam menjaga keberlangsungan bangsa di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat. Menurutnya, Indonesia perlu meninggalkan ego sektoral dan memperkuat kolaborasi antarlembaga melalui pendekatan whole of government dan whole of society. Upaya tersebut akan memperkuat daya tahan nasional dalam menghadapi berbagai tantangan strategis di masa depan. “Hapus ego sektoral, mulai kita berpikir Bhinneka Tunggal Ika itu diwujudkan dan diimplementasikan. Berbeda tetapi tetap satu,” ujarnya.
Ketua Umum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Indonesia, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, menambahkan bahwa kerukunan merupakan fondasi penting dalam membangun ketahanan nasional. Nilai-nilai persatuan menjadi modal utama untuk menjaga keutuhan bangsa sekaligus memastikan pembangunan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Ia berharap transformasi kurikulum Ilmu Ketahanan Nasional mampu memperkuat ekosistem pengetahuan yang melahirkan pemimpin dan ilmuwan dengan perspektif strategis bagi Indonesia. “Dengan kerukunan kita akan bisa menjaga persatuan kita. Dengan kerukunan yang kokoh barulah kita bisa membangun bangsa,” pungkasnya.
Seminar yang diselenggarakan Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Ketahanan Nasional SPS UGM ini menghadirkan akademisi, pemerintah, TNI, dan tokoh masyarakat untuk merumuskan arah pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap tantangan masa depan. Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., mengatakan transformasi kurikulum menjadi langkah penting untuk memperkuat kapasitas bangsa melalui pendidikan tinggi. “Kurikulum tidak boleh dipahami sebagai susunan materi. Kurikulum harus menjadi arsitektur pembentukan ilmu, riset, kepemimpinan, sistem peringatan dini, dan jejaring kebijakan,” ujarnya.
Ketua Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Dr. Priyono Suryanto, menyampaikan bahwa transformasi kurikulum dilakukan untuk menjaga relevansi keilmuan sekaligus memperkuat mandat strategis program studi. Proses penyusunannya dilakukan melalui kajian terhadap berbagai teori, perkembangan lingkungan strategis, dan kurikulum di sejumlah perguruan tinggi dunia. Hasil kajian tersebut menjadi dasar penyusunan arah baru pendidikan Ilmu Ketahanan Nasional yang lebih responsif terhadap tantangan global. “Momentum strategis ini kita gunakan dalam rangka transformasi kurikulum,” ungkapnya.
Ia menjelaskan kurikulum baru dirancang untuk menghasilkan lulusan yang mampu menjadi pemikir strategis sekaligus pengembang pengetahuan di bidang ketahanan nasional. Program magister akan diperkuat melalui laboratorium intelijen dan strategi untuk membangun kemampuan antisipasi krisis, sedangkan program doktor difokuskan pada pengembangan paradigma dan konstruksi ilmu pengetahuan baru. Penguatan ekosistem tersebut diharapkan mampu menghasilkan solusi preventif bagi berbagai persoalan strategis bangsa. “Di laboratorium intelijen itulah ekosistem dibangun sehingga navigator crisis bisa dihadirkan,” jelasnya.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Dwi Purwanto/Humas SPs
