Ramzy Izza Wardhana, wisudawan program studi S1 Ilmu Komputer FMIPA UGM dinobatkan menjadi lulusan terbaik pada penghelatan wisuda program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM yang berlangsung di Grha Sabha Pramana UGM, Jumat (21/8). Ramzy berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi yakni 3,99. Sementara IPK rata-rata 3.193 wisudawan program sarjana adalah 3,57.
Ramzi mengaku merasa terkejut sekaligus bersyukur karena awalnya tidak mengetahui bahwa dirinya menjadi salah satu lulusan dengan IPK tertinggi. Ia justru mengetahui kabar tersebut setelah namanya disebut saat penghelatan wisuda. “Saya merasa campur aduk. Ada rasa kaget, sekaligus bersyukur karena ternyata pencapaian itu benar-benar saya raih, ” ungkapnya bahagia, Senin (24/8).
Ramzy merupakan mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM yang juga melakukan international exposure di program studi Artificial Intelligence and Computer Science, University of Birmingham, Inggris.
Alih-alih menempuh studi dalam empat tahun seperti jalur reguler, Ramzy menghabiskan lima tahun dalam perjalanan pendidikan sarjananya. Tambahan satu tahun tersebut menjadi bagian dari program extension yang memungkinkannya menjalani pengalaman akademik di luar negeri. Selama periode itu, ia membagi masa studinya antara UGM dan Inggris.“Saya sebenarnya tiga tahun di Inggris, dua tahun kuliah dan satu tahun kerja. Satu tahun kerja itu namanya industrial placement, yang bisa dijalankan bersamaan dengan program MBKM di sini dan dikonversikan menjadi SKS,” jelasnya.
Selama kuliah, Ramzi tidak hanya berfokus pada perkuliahan. Ia aktif di sejumlah organisasi, antara lain Omah TI, KOMATIK, HIMAKOM, dan Google Developer Program on Campus UGM. Pengalaman organisasi memberinya kesempatan bertemu praktisi industri dari berbagai perusahaan dan memperluas wawasan mengenai dunia profesional.
Ramzy membagi fokus kuliahnya berdasarkan tahapan. Pada tahun-tahun awal, ia lebih banyak membangun soft skill, pengalaman organisasi, volunteering, dan networking, sementara pada tahun ketiga dan keempat ia mulai meningkatkan kompetensi teknis dan mempersiapkan karier profesional. “Karena itu, ketika sampai di Inggris, alokasi waktu saya lebih banyak untuk belajar teknikal, mengikuti perkuliahan, sekaligus mempersiapkan diri untuk magang di sana. Saya memberikan waktu sekitar dua sampai tiga jam setiap hari untuk belajar. Yang penting konsisten.” tuturnya
Ia mengungkapkan cara belajar yang berbeda dengan ketika mulai menjalani perkuliahan. Memasuki dunia kuliah, khususnya pada mata kuliah yang bersifat teknis, ia mulai lebih banyak mengandalkan latihan dan pemahaman materi. “Cara belajar saya juga berubah-ubah. Waktu SMA mungkin saya masih banyak menghafal, kemudian ketika kuliah mulai lebih banyak latihan soal dan memahami konsep. Ketika di Inggris, karena sistemnya lebih banyak self-study, saya harus lebih mandiri mengatur bagaimana saya belajar.” ungkapnya.
Di balik pencapaiannya, Ramzy mengakui ada kompromi yang harus dilakukan. Pada fase tertentu, ia harus mengurangi porsi waktu untuk kehidupan sosial dan aktivitas lain demi mengejar target akademik maupun profesional. “Pasti selalu ada kompromi di sini kalau kita pengen achieve semuanya. Kita sendiri lah itu adalah choice (pilihan). Orang memilih apa yang kita inginkan. Dan memang dalam periode-periode tertentu saya juga harus mengendalikan social life saya. Saya sendiri pribadi suka berteman. Saya di situ juga berteman. Cuman di kala-kala waktu saya harus fokus, misalnya mau ujian atau mau ada interview, di situ saya lebih sering berteman dengan diri sendiri,” kata Ramzy.
Bagi Ramzy, lima tahun masa perkuliahan bukan sekadar perjalanan menuju gelar dan IPK tertinggi. “Life changing,” katanya singkat. Pengalaman merantau, belajar di dua negara, hidup mandiri, hingga mengenal dunia profesional menjadi bagian yang membentuk dirinya hari ini. Namun, perjalanan itu tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia berharap pengalaman yang diperolehnya dapat menjadi bekal untuk ikut memperbaiki persoalan di Indonesia.
“Saya berharap pengalaman dan kesempatan yang saya dapatkan di luar negeri bisa saya gunakan untuk memperbaiki gap yang masih ada di Indonesia. Kita bisa belajar dari negara-negara yang sudah berhasil menyelesaikan berbagai persoalan, seperti sustainability, korupsi, dan tata lingkungan. Pada akhirnya, semua itu membutuhkan kontribusi kolektif dari banyak orang. Karena by the end of the day, ya, kita yang bakal meneruskan pemerintah.” pungkasnya.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Ramzi
