Mahasiswa KKN-PPM UGM Manokwari Menari melakukan revitalisasi bekas bangunan gereja lama di Kampung Sau Abas Manokwari Timur, yang difungsikan sebagai ruang serba guna, termasuk ibadah Minggu anak-anak dan kegiatan pembelajaran. Revitalisasi dilakukan secara gotong royong bersama masyarakat melalui pengecatan ulang, pembuatan mural, penambahan 300 buku bacaan, serta poster edukasi untuk menciptakan ruang belajar yang lebih menarik dan ramah bagi anak.
Kormasit KKN Sau Abas, Alvin Oktavian berharap adanya ruangan ini tidak hanya menjadi tempat untuk membaca dan belajar tetapi juga menjadi ruang yang membuat anak-anak merasa bahwa mereka punya pilihan, punya kesempatan, dan berhak bermimpi setinggi-tingginya.“Ketika suatu hari nanti kami sudah kembali pulang, semoga ruang ini tetap dirawat, digunakan, diisi dengan cerita dan pengetahuan baru. Sehingga apa yang kami mulai hari ini tidak berhenti sebagai sebuah program, tetapi terus menjadi bagian dari perjalanan anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan percaya pada mimpi mereka,” harap Alvin, Senin (7/9).
Bagi Alvin, anak-anak di Kampung Sau Abas menjadi alasan mengapa ruang lama ini kembali dihidupkan. Ketika melihat perubahan yang terjadi, mereka tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih, tetapi juga menyampaikan janji untuk merawat ruang dan buku-buku yang kini menjadi bagian dari perjalanan belajar mereka. “Yang ingin ditinggalkan adalah jendela kesempatan bagi anak-anak Sau Abas untuk melihat masa depan yang lebih luas dan percaya bahwa mereka berhak bermimpi setinggi-tingginya,” katanya.
Fidela Saptea, selaku Project Leader dari program KKN PPM mengatakan revitalisasi ruang belajar merepresentasikan harapan yang ingin ditanamkan melalui ruang tersebut. Setiap buku yang dibaca, pengetahuan yang ditemukan, dan pertanyaan yang muncul di dalam ruang ini menjadi harapan bagi anak-anak Sau Abas untuk mengenal dunia yang lebih luas dan membayangkan masa depan yang ingin mereka capai. Ruang belajar yang dinamakan Future Learning Space ditujukan bagi sekitar 70 anak di Kampung Sau Abas, mulai dari usia balita hingga remaja. Rentang usia tersebut menjadikan ruang ini sebagai ruang belajar lintas generasi, yang dapat digunakan untuk membaca, mengikuti kegiatan edukasi, mengembangkan kreativitas, maupun memperoleh pendampingan belajar sesuai kebutuhan dan tahap perkembangan anak.
Menurutnya, kesetaraan pendidikan bukan berarti setiap anak harus memiliki fasilitas atau pengalaman yang sama. Kesetaraan berarti setiap anak diberikan kesempatan untuk mengetahui bahwa dunia mereka jauh lebih luas daripada apa yang dapat mereka lihat hari ini. Pengalaman berinteraksi dengan anak-anak di Papua semakin memperkuat keyakinan tersebut. “Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, meskipun kesempatan untuk mengenal berbagai pilihan masa depan belum selalu tersedia. Terkadang, kurang bukanlah kemampuan anak untuk bermimpi, tetapi kesempatan untuk mengenal bahwa ada begitu banyak hal yang bisa mereka impikan,” kata Fidela
Salah satu kegiatan yang sudah dilaksanakan sebelumnya adalah Utrecht Sau Abas English Course, kelas Bahasa Inggris gratis yang secara sukarela diajarkan Papa Yafet Maryen tiga kali dalam seminggu. Menurutnya, renovasi tersebut bukanlah sesuatu yang datang tanpa cerita. Ia mengaku telah memiliki mimpi untuk memperbaiki ruang tersebut dengan swadaya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa jalan untuk mewujudkannya justru datang melalui perjumpaan dengan mahasiswa KKN-PPM UGM Manokwari Menari 2026. “Kami sangat terharu, bersyukur, dan senang. Apa yang saya mimpikan akhirnya terwujud. Bagi saya ini panggilan jiwa. Saya bersyukur kalian datang untuk mewujudkan mimpi saya,” ungkap Papa Yafet.
Bagi Papa Yafet, pendidikan anak-anak tidak pernah dipandang sebagai pekerjaan yang sia-sia. Ia mengabdikan pengetahuan kepada anak-anak didiknya yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri untuk bisa melanjutkan talenta yang diberikannya. “Anak-anak yang dididik itu anak saya. Ketika kami mengajarkan kepada anak-anak, kami tidak rugi. Saya mengabdi, semua anak itu anak saya. Agar mereka melanjutkan talenta yang diberikan kepada mereka,” ujarnya.
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Tim KKN-PPM
