Ketersediaan pakan ternak yang terbatas menjadi tantangan tersendiri bagi peternak di Kawasan Transmigrasi Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Menjawab persoalan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Gadjah Mada mendorong pengembangan sektor peternakan di wilayah tersebut melalui penguatan ketersediaan pakan ternak. Salah satunya dengan mengenalkan dan menanam rumput Gama Umami sebagai sumber hijauan pakan yang diharapkan dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan masyarakat.
Seperti diketahui, Gama Umami (Pennisetum purpureum Var Gama Umami) merupakan jenis rumput unggul yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber hijauan pakan ternak berkualitas yang dikembangkan oleh tim peneliti Fakultas Peternakan UGM diketuai oleh Prof. Nafiatul Umami. Rumput ini merupakan hasil mutasi dari rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang telah diradiasi dengan sinar gamma yang telah diradiasi dengan sinar gamma. Rumput jenis ini selain cocok untuk ternak juga memiliki keunggulan produksi yang lebih tinggi dibanding rumput gajah lokal dengan masa panen 6 kali dalam setahun.
Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D., selaku ketua TEP 1 UGM bersama Tri Ariani, S.T.P., Khulaimi, S.P., Ilham Mubarok, S.T.P., Ariqonitahanif Putri Rahim, S.Si., dan Fariz Jordan Fadillah, S.Pt., M.Sc., tengah mengembangkan potensi ekonomi di Muting dengan pendekatan yang mengintegrasikan berbagai aspek, mulai dari pertanian, agronomi, sumber daya air, pemetaan wilayah, ekonomi, hingga peternakan.
Chandra Setyawan menuturkan sektor peternakan menjadi salah satu potensi yang mendapat perhatian khusus di kawasan transmigrasi Muting. Masyarakat sudah melakukan budidaya ternak sapi dan ayam sejak lama. Potensi peternakan di wilayah ini sangat menjanjikan dengan lahan yang masih cukup luas dan belum termanfaatkan secara optimal, baik untuk area penggembalaan maupun pengembangan sumber hijauan pakan.
Salah satu subsektor utama yaitu sapi potong, yang umumnya dipelihara secara individual dengan jumlah sekitar 3–4 ekor per peternak. Jenis sapi yang banyak dipelihara adalah sapi Bali, sementara pola pemeliharaan didominasi oleh sistem umbaran, yaitu ternak dilepas untuk mencari pakan sendiri di area penggembalaan. “Ketersediaan dan kontinuitas pakan menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan peternakan di Muting,” ujarnya, Selasa (8/9).
Selanjutnya, Tim TEP UGM melakukan penelusuran lokasi sasaran kegiatan ditentukan dari banyaknya populasi ternak di wilayah yang berada di Kampung Boewer, Distrik Elikobel memiliki populasi ternak yang cukup besar serta memiliki kelompok peternak aktif sehingga dinilai strategis untuk menjadi lokasi percontohan pengembangan sumber pakan.
Fariz Jordan Fadillah, S.Pt., M.Sc., anggota TEP 1 UGM yang berfokus pada bidang peternakan mengatakan bahwa langkah awal penguatan ketersediaan pangan dilaksanakan dengan penanaman rumput Gama Umami. Penanaman dilakukan pada awal september dalam bentuk demplot (demonstration plot) atau plot percontohan, yang dirancang sebagai lokasi untuk memperkenalkan dan memperagakan secara langsung pemanfaatan Gama Umami sebagai sumber hijauan pakan ternak kepada masyarakat setempat.
Melalui demplot ini, masyarakat dapat melihat secara langsung proses penanaman dan pengembangan hijauan pakan, yang selanjutnya diharapkan dapat direplikasi secara mandiri pada lahan-lahan lain di sekitar kampung. Pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan hijauan secara lebih terencana, sehingga peternak tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sistem penggembalaan yang selama ini dijalankan. “Pengembangan Gama Umami tidak hanya diarahkan pada penanaman rumput, tetapi juga bagaimana pakan tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan dan mudah dimanfaatkan oleh peternak,” ujarnya.
Demplot tersebut selanjutnya akan dikembangkan lebih lanjut melalui konsep Bank Pakan Ternak. Konsep ini diarahkan sebagai sistem penyediaan dan penyimpanan cadangan pakan yang dapat dimanfaatkan peternak ketika ketersediaan hijauan di lapangan menurun. Pengembangan bank pakan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju sistem peternakan yang lebih terencana. “Sumber pakan yang ditanam dan dikelola secara kolektif oleh kelompok peternak, masyarakat memiliki alternatif untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak tanpa sepenuhnya mengandalkan ketersediaan rumput alami di lahan penggembalaan,” jelasnya.
Dikatakana Faiz, Program ini juga menjadi bagian dari pendekatan ekonomi hijau yang dikembangkan TEP 1 UGM di Kawasan Transmigrasi Muting. Pengembangan peternakan dalam program ini tidak hanya dilihat dari sisi peningkatan produksi ternak semata, tetapi juga dikaitkan erat dengan pengelolaan sumber daya lahan, air, dan pakan secara berkelanjutan, sejalan dengan prinsip pembangunan yang ramah lingkungan.
Melalui demplot Gama Umami dan pengembangan konsep Bank Pakan Ternak, TEP 1 UGM berharap dapat memberikan model percontohan yang sederhana, aplikatif, dan mudah direplikasi oleh masyarakat secara mandiri. “Ke depan, pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian pakan bagi peternak lokal, meningkatkan produktivitas peternakan di Kawasan Transmigrasi Muting, sekaligus mendukung pengembangan ekonomi masyarakat secara lebih luas dan berkelanjutan di wilayah tersebut,” pungkasnya.
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Tim TEP UGM
