Tim Ekspedisi Patriot (TEP) UGM mendorong sinergi antar kelembagaan sekaligus mengembangkan inovasi produk berbasis potensi lokal demi memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting melalui program “Kembara: Kelembagaan Masyarakat Berdaya” di Kampung Mandekman, Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Adapun program yang hadir untuk mendorong kelembagaan masyarakat kampung agar semakin aktif dan inovatif tersebut melibatkan berbagai unsur kelembagaan masyarakat, yakni kelompok Muslimat, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kampung, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Kelompok Jemaat Gereja Katolik, serta Pondok Pesantren. Melalui keterlibatan berbagai kelompok masyarakat in dapat terjalin sinergi antar kelembagaan dalam mengembangkan inovasi produk berbasis potensi lokal sekaligus membangun ekosistem pemberdayaan yang inklusif.
Tim yang dipimpin Prof. Dr. Agustinus Supriyanto, S.H., M.Si., selaku Ketua Tim, dan M. Yusril Mirza, S.Ark., M.A., selaku Wakil Ketua Tim tersebut beranggotakan empat orang, yakni Amara Elvira, S.I.P., Divya Ayunda Pramesti, S.Hut., Dea Nurfath Ramadhani, S.E., dan Retno Dwi Hastuti, S.I.P.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UGM PS014, Agustinus Supriyanto, menyampaikan bahwa keberhasilan pembangunan kawasan transmigrasi tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi dan kelembagaan yang dimiliki. “Kelembagaan masyarakat merupakan fondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi. Melalui Program Kembara, kami ingin mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama yang mampu menciptakan inovasi dan mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan,” ujar Agustinus, dalam keterangan yang dikirim, Selasa (22/9).
Lebih lanjut, dalam prosesnya, tim melakukan pemberdayaan masyarakat sekaligus penelitian dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Adapun program memperkuat kelembagaan masyarakat berdaya dirancang dalam tiga rangkaian utama, yaitu pelatihan, pendampingan, dan diseminasi inovasi produk kampung.
Mulanya, rangkaian Program Kembara dilaksanakan melalui kegiatan yang terdiri atas dua agenda pelatihan utama, yakni Focus Group Discussion (FGD) dan Pelatihan Hilirisasi Produk Pertanian yang melibatkan akademisi Universitas Musamus sebagai narasumber. Kegiatan pertama membahas tentang Tata Kelola Kelembagaan dan Literasi Keuangan Dasar yang berlangsung di Balai Kampung Mandekman, Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Minggu (20/9). Dengan metode FGD, masyarakat dapat memahami tata kelola kelembagaan, meliputi aspek kepemimpinan, struktur organisasi, pembagian tugas dan fungsi, serta pengelolaan administrasi dan keuangan sederhana.
“Kami akan melakukan pelatihan hilirisasi produk pertanian sederhana yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi produk pertanian lokal melalui proses pengolahan sederhana, pengemasan, dan penerapan strategi pemasaran dasar sehingga mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah ekonomi yang lebih optimal,” ujarnya.
Setelah tahap pelatihan, program akan dilanjutkan melalui proses pendampingan kepada setiap kelembagaan masyarakat dari bulan September hingga November 2026. Pendampingan ini bertujuan untuk meningkatkan aktivasi kelembagaan, membangun kemandirian masyarakat transmigrasi dalam mengembangkan ide program produktif, serta memperkuat ekonomi kelembagaan melalui inisiasi produk kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Di tahap akhir, kata Agustinus, program Kembara akan ditutup melalui kegiatan Mini Expo Inovasi Produk Kampung yang menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan hasil inovasi kelembagaan yang telah dikembangkan selama rangkaian program sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi berbasis kelembagaan masyarakat melalui potensi lokal.
Salah satu peserta program Kembara, Siti Lainah dari Pesantren Mandekman, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut yang dinilainya memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat dalam mengelola kelembagaan dan mengembangkan potensi lokal. Ia berpendapat, masih terdapat berbagai potensi masyarakat di kampung yang belum dikembangkan secara maksimal. Selama ini banyak potensi masyarakat yang belum dikembangkan secara maksimal. Dengan pendampingan ini kami berharap dapat lebih mandiri dan mampu menghasilkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Siti.
Sementara itu, Kepala Distrik Ulilin, Junaidi, S.IP., M.A.P., yang hadir pada saat peluncuran program, berharap agar kehadiran Tim Ekspedisi Patriot UGM dapat memperkuat sinergi antara masyarakat transmigrasi dan masyarakat asli Papua, terutama dalam sektor ekonomi. Dikatakan oleh Junaidi, kehadiran tim tersebut juga diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pengembangan potensi lokal dan penguatan kemandirian ekonomi. “Semoga kedatangan Tim Ekspedisi Patriot UGM dapat memberikan kebermanfaatan dan dampak yang luar biasa bagi sinergi masyarakat transmigrasi dan asli Papua, khususnya untuk meningkatkan ekonomi,” harap Junaidi.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Tim Ekspedisi Patriot
