Perkawinan antarayam yang memiliki hubungan kekerabatan atau inbreeding dapat menjadi salah satu metode dalam pemuliaan ayam ketawa untuk mempertahankan dan menyeragamkan karakter genetik tertentu seperti suaranya. Namun, inbreeding perlu dilakukan secara terencana disertai dengan seleksi yang ketat agar tidak menurunkan kualitas biologis keturunan.
Kepala Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), Prof. Dyah Maharani, menjelaskan bahwa inbreeding dapat digunakan ketika peternak ingin mempertahankan karakter tertentu yang dianggap unggul, seperti suara, tipe suara, postur, warna bulu, maupun sifat lainnya. Cara ini digunakan untuk meningkatkan keseragaman genetik yang keberhasilannya bergantung pada kualitas induk yang dipilih. “Inbreeding bukan berarti secara otomatis menghasilkan keturunan yang lebih unggul. Metode ini terutama berfungsi meningkatkan keseragaman genetik. Keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas induk yang dipilih dan ketelitian dalam melakukan seleksi,” jelasnya, rabu (7/10).
Menurut Rani, perkawinan yang memiliki hubungan kekerabatan dapat meningkatkan peluang keturunan menerima alel yang sama dari kedua induknya. Kondisi tersebut akan meningkatkan homozigositas, sehingga sifat tertentu yang sebelumnya masih bervariasi dapat menjadi lebih seragam pada generasi berikutnya. Dalam pemuliaan ayam ketawa, inbreeding dapat diarahkan untuk mempertahankan karakter suara tertentu, pola atau tipe kokok, kualitas suara, bentuk tubuh, maupun karakter penampilan yang menjadi ciri khas suatu rumpun atau galur. Namun demikian, metode tersebut juga dapat memunculkan gen resesif yang merugikan. “Seekor ayam dapat membawa alel resesif yang tidak terlihat pada penampilannya. Ketika dua ayam yang sama-sama membawa alel resesif tersebut dikawinkan, peluang anak menerima alel resesif dari kedua induknya menjadi lebih besar. Akibatnya, sifat atau kelainan genetik yang sebelumnya tersembunyi dapat muncul pada keturunannya,” paparnya.
Ia menganalogikan inbreeding sebagai metode yang memperbesar peluang munculnya “isi genetik” dalam suatu garis keturunan, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Selain munculnya sifat atau kelainan genetik tertentu, jika dilakukan terlalu sering dan tanpa pengelolaan yang baik, metode tersebut juga dapat menyebabkan inbreeding depression. Kondisi tersebut merupakan penurunan performa biologis akibat meningkatnya homozigositas dan berdampak pada pertumbuhan yang kurang, penurunan daya tahan tubuh, fertilitas atau daya tetas yang rendah, ukuran tubuh menurun, lemahnya vitalitas anak ayam, hingga meningkatnya kemungkinan munculnya kelainan tertentu. “Semakin dekat hubungan kekerabatan dan semakin lama inbreeding dilakukan tanpa seleksi serta pengelolaan yang tepat, semakin besar pula risikonya,” kata Rani.
Lebih jauh, Rani menekankan bahwa tujuan pemuliaan ayam ketawa bukan sekadar menghasilkan ayam yang semakin “murni”, melainkan menghasilkan keturunan yang sehat, produktif, serta memiliki karakter unggul yang konsisten. Peternak perlu memilih induk berdasarkan rekam jejak keturunan dan hubungan kekerabatan dari hasil perkawinan setiap generasi. Selain menyeleksi suara, peternak perlu memperhatikan kesehatan, fertilitas, daya tetas, pertumbuhan, dan vitalitas keturunan. Evaluasi secara berkala diperlukan untuk memastikan kualitas keturunan benar-benar meningkat dan tidak mengalami penurunan. “Inbreeding adalah alat pemuliaan, bukan tujuan akhir. Jika digunakan secara terencana dan disertai seleksi yang ketat, inbreeding dapat membantu memperkuat dan menyeragamkan karakter unggul ayam ketawa. Namun, jika dilakukan tanpa pengendalian, metode yang sama dapat memperbesar munculnya sifat merugikan dan menurunkan kualitas biologis ayam” pungkasnya.
Kontributor: Satria/Humas Fapet UGM
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Dok.Humas Fapet UGM dan Panennews
