Sepuluh produk usaha masyarakat Kawasan Transmigrasi Muting dibawa menembus pasar yang lebih luas melalui uji coba pemasaran kolektif Tim Ekspedisi Patriot Muting (TEP) UGM Tim 16 di Festival Kalimaro, Papua Selatan, 1–5 Oktober 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari program Kasuari yang mendorong kelompok usaha masyarakat membangun akses pasar melalui kerja sama dan pengelolaan sumber daya secara bersama. Kesepuluh produk usaha tersebut diantaranya produk kopi khas Muting, hilirisasi ubi kayu, produk paket pariwisata, dan pengembangan tanaman endemik lokal.
Ketua Tim 16 Ekspedisi Patriot Muting UGM Rindu S. M. Firdaus mengatakan pemasaran kolektif menjadi langkah awal untuk memperkenalkan pola kerja sama antarkelompok usaha dalam menjangkau pasar yang lebih luas. “Uji coba pemasaran kolektif ini merupakan langkah awal untuk menunjukkan bahwa kelompok-kelompok usaha masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting dapat saling menguatkan melalui kerja sama.” ujar Rindu, Senin (12/10).
Menurut Rindu, pendekatan kolektif memungkinkan kelompok usaha mengelola kebutuhan pemasaran dan operasional secara bersama. Model tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat menghadapi sejumlah kendala dalam memperluas pasar, seperti biaya promosi, distribusi produk, hingga kebutuhan tenaga kerja untuk kegiatan penjualan.
Selain memperkenalkan produk lokal, Tim 16 turut mempromosikan tiga titik pariwisata yang dikelola kelompok masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting. Potensi wisata tersebut dinilai memiliki peluang pengembangan apabila didukung promosi berkelanjutan, penguatan tata kelola kelompok, serta perluasan jejaring pasar dan kemitraan.
Uji coba pemasaran kolektif ini juga melibatkan kolaborasi dengan tim lain dalam Ekspedisi Patriot Muting UGM. Tim 9 berkontribusi melalui pengembangan prototipe produk kopi, Tim 12 melalui hilirisasi ubi kayu, Tim 13 melalui bidang pariwisata, dan Tim 17 melalui pengembangan tanaman endemik lokal. Kolaborasi lintas tim tersebut dibangun melalui berbagai kegiatan pendampingan yang berfokus pada pengembangan potensi masyarakat, mulai dari peningkatan nilai tambah produk hingga kesiapan untuk diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas. Produk-produk yang dibawa ke Festival Kalimaro kemudian dihimpun dalam satu kegiatan pemasaran.
Keikutsertaan Tim 16 dalam festival juga mendapat respons dari pengunjung. Sejumlah masyarakat yang mendatangi stan menyampaikan ketertarikan terhadap produk yang dipamerkan dan menanyakan informasi mengenai produsen produk tersebut.
Rindu menjelaskan, pendekatan pemasaran kolektif tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan penjualan, tetapi juga membangun hubungan antarkelompok usaha. “Melalui pendekatan kolektif, kami ingin membuktikan bahwa akses terhadap pasar yang lebih luas dapat dibangun secara lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.”
Program Kasuari (Konektivitas Usaha Ekonomi, Adat, Jender, dan Inklusivitas) menempatkan penguatan ekonomi lokal sebagai bagian dari upaya membangun kelembagaan masyarakat yang inklusif. Pendekatan tersebut mempertemukan kepentingan masyarakat adat dan masyarakat eks-transmigran melalui kerja sama antarkelompok usaha di Kawasan Transmigrasi Muting.
Hasil uji coba di Festival Kalimaro selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi dan diskusi untuk kegiatan piloting serta pendampingan yang direncanakan pada Oktober–November 2026. Tim 16 juga tengah membangun platform berbasis situs web untuk memperkenalkan berbagai potensi lokal di Kawasan Transmigrasi Muting.
Melalui rangkaian pendampingan tersebut, Tim 16 berharap pola pemasaran kolektif dapat dikembangkan secara lebih terstruktur sehingga kelompok masyarakat semakin mampu memperluas jejaring pasar, mengelola potensi ekonomi dan pariwisata, serta membangun kerja sama secara mandiri dan berkelanjutan.
Penulis : Adinda Putri Rahma
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. TEP Muting
