Universitas Gadjah Mada melalui Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM bersama RSGM UGM Prof. Soedomo meluncurkan Program Subsidi Pelayanan Koas FKG UGM, Kamis (1/10), di RSGM UGM Prof. Soedomo. Program ini ditujukan untuk mendukung kelancaran pendidikan klinis mahasiswa dalam menjalani tahapan pendidikan profesi dokter gigi sekaligus menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D., mengatakan program subsidi tersebut merupakan salah satu gagasan yang telah lama diupayakan sejak dirinya mulai menjabat sebagai dekan. Program ini diharapkan dapat mengurangi beban mahasiswa pendidikan profesi dalam memenuhi kebutuhan pelayanan pasien selama menjalani pendidikan klinis. “Sebenarnya (program ini) cita-cita saya sejak awal menjadi Dekan. Bagaimana anak-anak koas ini tidak terbebani untuk membayar pasien. Kemudian saya sampaikan ke Direktur RSGM dan alhamdulillah direspons dengan baik sampai akhirnya program ini bisa terwujud,” ujar Suryono.
Suryono menyampaikan, dukungan subsidi yang diberikan mencapai sekitar Rp5 miliar per tahun. Anggaran tersebut sebelumnya menjadi biaya yang harus ditanggung mahasiswa koas untuk memenuhi kebutuhan pelayanan pasien selama pendidikan profesi.
Program ini juga akan menyesuaikan dengan jumlah mahasiswa yang menjalani pendidikan profesi. Suryono menyebut saat ini terdapat sekitar 49 koas yang diterima, dan jumlah tersebut dapat bertambah seiring dengan semakin banyaknya lulusan program sarjana kedokteran gigi yang melanjutkan ke tahap pendidikan profesi. “Sekarang sekitar 49 yang diterima. Nanti jumlahnya akan bertambah sesuai dengan jumlah mahasiswa S1 yang masuk ke profesi,” katanya.
Menurut Suryono, kebutuhan subsidi juga berkaitan dengan adanya kesenjangan dukungan pembiayaan pendidikan antara jenjang sarjana dan profesi. Mahasiswa penerima KIP maupun Bidikmisi umumnya mendapatkan dukungan pada jenjang S1, sementara dukungan tersebut tidak berlanjut ketika mahasiswa memasuki pendidikan profesi. Kondisi ini dapat menjadi tantangan bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan finansial.
Meski demikian, subsidi pelayanan diberikan secara merata kepada seluruh koas dan tidak dibedakan berdasarkan status penerima KIP atau Bidikmisi. Dengan demikian, mahasiswa tetap mendapatkan dukungan yang sama dalam memenuhi kebutuhan pelayanan klinis selama mengikuti pendidikan profesi.
Kepala Pendidikan dan Penelitian RSGM UGM Prof. Soedomo, Dr. Rini Widyaningrum, menjelaskan subsidi diberikan terutama untuk memenuhi kebutuhan minimal koas dalam menjalankan persyaratan klinis. Hampir seluruh kebutuhan minimal tersebut dibebaskan dari biaya pada kesempatan atau pelayanan pertama, dengan pengecualian biaya pendaftaran pasien.
Rini menjelaskan bahwa setiap koas memiliki buku kendali yang digunakan untuk mencatat dan memantau pemenuhan persyaratan klinis selama menjalani pendidikan profesi. Buku tersebut memuat tahapan pelayanan yang harus diselesaikan mahasiswa di berbagai departemen, seperti konservasi gigi, prostodonsia, periodonsia, kedokteran gigi anak, ortodonsia, bedah mulut, dan penyakit mulut. Selain mencatat tahapan perawatan, buku kendali juga menjadi acuan dalam penggunaan bahan dan peralatan yang dibutuhkan mahasiswa untuk menyelesaikan kompetensi klinisnya.“Jadi setiap mahasiswa itu punya satu buku kendali. Di situ ada persyaratan-persyaratan klinisnya, apa yang harus diselesaikan, termasuk bahan dan alat yang digunakan,” jelas Rini.
Rini turut mengungkapkan mekanisme subsidi dan konsep pembayaran yang ditanggung oleh mahasiswa Koas dulunya. Untuk biaya pendaftaran, pasien sebelumnya dikenakan tarif Rp25.000 setiap kunjungan. Melalui program subsidi ini, RSGM UGM memberikan subsidi sebesar Rp10.000, sehingga pasien cukup membayar Rp15.000 per kunjungan.“Jadi yang tadinya pendaftaran Rp25 ribu, kita subsidi Rp10 ribu sehingga pasien membayar Rp15 ribu,” jelas Rini.
Rini mengatakan, subsidi terutama diberikan pada kesempatan pertama pelayanan. Apabila pelayanan harus diulang, pembiayaan selanjutnya tidak otomatis masuk dalam subsidi. Mekanisme tersebut diharapkan mendorong mahasiswa memberikan pelayanan secara optimal sejak awal sekaligus menggunakan bahan dan peralatan secara bertanggung jawab.“Harapannya mereka juga termotivasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik pada kesempatan pertama,” katanya.
Subsidi diberikan selama mahasiswa masih berada dalam periode pendidikan profesi yang normal. Masa pendidikan koas berlangsung sekitar dua tahun, dengan tambahan masa toleransi sekitar tiga bulan. Setelah periode tersebut berakhir, mahasiswa akan mendapatkan peringatan dan selanjutnya buku kendali dapat ditarik sehingga mahasiswa tidak lagi mendapatkan fasilitas subsidi.
Rini menegaskan, keberadaan subsidi tidak mengurangi standar pelayanan yang diberikan kepada pasien. Pelayanan koas tetap berada dalam pengawasan langsung dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), dengan standar pelayanan dan sterilisasi yang sama sebagaimana pelayanan oleh dokter gigi umum maupun dokter gigi spesialis.
Direktur RSGM UGM Prof. Soedomo, drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG., Subsp.KR(K)., Ph.D., menyampaikan bahwa peluncuran program tersebut menjadi bagian penting dari komitmen bersama FKG UGM dan RSGM UGM dalam mendukung pendidikan profesi sekaligus pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, pendidikan klinis tidak hanya menuntut mahasiswa menguasai keterampilan klinis, tetapi juga menghadapkan mereka pada berbagai kebutuhan selama memberikan pelayanan kepada pasien. Melalui program ini, beban tersebut mulai ditanggung bersama oleh institusi. “ Saya kira ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan pendidikan klinis kita. Untuk pertama kalinya, beban tersebut kita tanggung bersama antara rumah sakit dan fakultas melalui program subsidi pelayanan koas,” ujar Margareta.
Ia menambahkan, program tersebut merupakan hasil dari proses kerja sama yang telah terjalin antara FKG UGM dan RSGM UGM. Melalui dukungan pembiayaan ini, RSGM UGM berharap proses pendidikan klinis mahasiswa dapat berjalan lebih baik tanpa mengesampingkan kualitas pelayanan yang diterima masyarakat.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Jesi
