Limbah medis yang dihasilkan seperti sarung tangan lateks dan bahan tambal gigi terus dihasilkan dari aktivitas perawatan pasien. Berdasarkan penelitian yang terbit di The Journal of Contemporary Dental Practice mengatakan bahwa klinik gigi menghasilkan sekitar 0,5–2,5 kg limbah per kunjungan pasien. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi limbah tersebut adalah dengan pendekatan green dentistry. Konsep ini berfokus pada pencegahan dibandingkan dengan pengobatan (kuratif).
Melalui fokus konsep tersebut, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat International Dental Summer Course (IDSC) 2026. Kegiatan ini diikuti puluhan mahasiswa peserta summer course dari beberapa universitas di Indonesia dan mancanegara. Mereka berkunjung ke SD Negeri Baturan 1, Gamping, Sleman, Yogyakarta, untuk memberikan edukasi dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut gratis pada Rabu (15/7).
Drg. Fania Chairunisa, M.P.H., Ph.D., selaku koordinator kegiatan menjelaskan bahwa salah satu komponen utama dalam konsep sustainability dan green dentistry adalah upaya pencegahan (preventif). Upaya ini dilakukan untuk mengurangi beban perawatan di masa depan yang diharapkan dapat menekan penggunaan beberapa bahan medis yang belum ramah lingkungan. “Langkah preventif lainnya, kita juga bisa memanfaatkan teledentistry, yaitu layanan konsultasi gigi jarak jauh menggunakan teknologi telekomunikasi seperti video call atau aplikasi khusus. Hal ini dapat mengurangi emisi karbon dari kendaraan kalau harus pergi ke dokter gigi,” ucap Fania dalam keterangan yang dikirim Selasa (28/7).
Selain pemeriksaan gigi, siswa juga diberikan Topical Application of Fluoride (TAF), sebuah metode perlindungan dini yang dilakukan dengan mengoleskan zat fluorida pada gigi anak guna menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies. Metode ini dinilai efektif memperkuat email gigi, mencegah terbentuknya karies, sekaligus menghentikan proses pembusukan awal akibat asam dan bakteri.
Salah satu peserta summer course, Gina, mahasiswa semester 2 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) mengungkapkan bahwa kemampuan komunikasi interpersonal merupakan kompetensi yang cukup krusial, terutama dalam penanganan pasien anak. Pendekatan yang tepat diperlukan agar anak tidak mengalami trauma medis. “Kita harus bisa beradaptasi dan dekat dengan adik-adik ini agar mereka merasa nyaman dan tidak takut. Komunikasi di lapangan seperti ini harus sering dibiasakan,” jelas Gina.
Sementara itu, Asri Ningtyas selaku guru SD Negeri Baturan 1, menyambut positif kehadiran peserta summer course FKG UGM. Ia berharap kolaborasi dengan institusi pendidikan tinggi dapat menjadi agenda rutin tahunan untuk menjamin keberlanjutan pemantauan kesehatan gigi anak-anak sejak dini. “Edukasi menyikat gigi ini sangat bermanfaat untuk melengkapi program sekolah. Mereka jadi aware kembali bahwa selain makan bergizi harus ada kesehatan gigi dan mulut yang dijaga,” pungkas Asri.
Reportase: Fajar Budi Harsakti/Humas FKG
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Dok. FKG UGM
