Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait kerusakan lingkungan. Deforestasi, alih fungsi kawasan hutan, eksploitasi sumber daya alam, hingga meningkatnya frekuensi banjir dan tanah longsor menunjukkan bahwa tekanan terhadap ekosistem alam terus berlangsung di banyak wilayah. Melihat kondisi tersebut, Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Dr. Arqom Kuswanjono, S.Ag., M.A., menilai krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan alam, melainkan juga sebagai krisis moral manusia.
Mulanya, Arqom membedakan antara peristiwa alam dengan bencana moral. Menurutnya, gempa bumi, letusan gunung api, maupun berbagai gejala alam lainnya pada dasarnya merupakan mekanisme alam yang berlangsung secara alami. Peristiwa tersebut kemudian disebut sebagai bencana ketika menimbulkan korban atau kerugian bagi manusia. Sementara itu, berbagai kerusakan ekologis akibat ulah manusia lebih tepat disebut sebagai bencana moral. “Bencana moral merupakan bencana yang disebabkan oleh perilaku manusia. Banjir, longsor, dan berbagai kerusakan lingkungan memang ada pengaruh faktor alam, tapi di dalamnya juga terdapat persoalan moralitas. Manusia, karena keserakahannya, terus merusak alam,” ujarnya, saat ditemui di Fakultas Filsafat UGM, jumat (10/7).
Menurut Dosen Departemen Filsafat Agama tersebut, akar persoalan krisis lingkungan terletak pada keserakahan manusia. Demi keuntungan ekonomi maupun kepentingan tertentu, manusia mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan keseimbangan yang telah dibangun lewat hukum-hukum alam. Padahal, alam sesungguhnya memiliki mekanisme untuk menjaga dirinya sendiri. “Alam itu sebenarnya bisa mengelola dirinya sendiri lewat hukum alam. Ketika ada intervensi manusia yang merasa bebas menguasai alam, dan ingin merekayasa alam tanpa memperhatikan hukum-hukum alam, maka terjadilah kerusakan,” tegasnya.
Manusia, lanjut Arqom, tidak pernah merasa cukup terhadap apa yang dimilikinya. Dorongan untuk terus memperoleh keuntungan dan memenuhi keinginan membuat manusia mengeksploitasi alam secara berlebihan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Padahal, menurutnya, alam sesungguhnya telah menyediakan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia apabila dimanfaatkan secara bijaksana. “Alam semesta cukup untuk memenuhi semua kebutuhan manusia, tapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan manusia,” ujarnya sembari mengutip pernyataan Mahatma Gandhi.
Sementara itu, dalam perspektif teologi, Arqom menilai banyak orang keliru memahami ajaran agama yang menempatkan manusia sebagai makhluk dengan kedudukan istimewa di antara ciptaan Tuhan. Menurutnya, kedudukan tersebut bukanlah legitimasi untuk mendominasi atau mengeksploitasi alam, melainkan amanat untuk menjaga dan memeliharanya. Ia mencontohkan konsep manusia sebagai khalifah atau wakil Tuhan di bumi dalam ajaran Islam. “Manusia itu harus mencontoh sifat Tuhan, yakni pengasih dan penyayang. Menguasai alam bukan berarti kemudian manusia punya kebebasan untuk merusak. Manusia diberi kuasa atas burung, hutan, dan alam semesta bukan untuk merusaknya, tetapi untuk menjaganya,” terangnya.
Lebih jauh, Arqom menjelaskan bahwa upaya menjaga lingkungan perlu diawali dengan kesadaran filosofis mengenai posisi manusia di alam. Dari sisi ontologis, manusia harus memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari alam, bukan penguasa yang bebas mengeksploitasinya. Kesadaran tersebut kemudian menjadi landasan epistemologis, yakni membangun cara berpikir, pengetahuan, dan kesadaran mengenai relasi manusia dengan alam yang dapat ditanamkan melalui pendidikan, kurikulum, maupun berbagai bentuk pembelajaran. Pada akhirnya, sambung Arqom, seluruh proses tersebut harus bermuara pada aksiologi, yaitu pembentukan etika dan tanggung jawab moral dalam melindungi lingkungan. “Dari ontologi muncul epistemologi. Setelah mengetahui posisi manusia dengan alam, lalu manusia membangun pengetahuan dan kesadaran terhadap alam yang pada ujungnya membangun rasa tanggung jawab terhadap lingkungan,” jelasnya.
Tak lupa, Arqom juga menyoroti paradoks kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, berbagai bentuk eksploitasi alam, mulai dari penebangan hutan, pengembangan industri, hingga aktivitas lain yang menghasilkan polusi dan memicu perubahan iklim, justru kerap dilakukan atas nama pembangunan dan kemajuan teknologi. Karena itu, ia menilai manusia modern perlu belajar dari masyarakat adat yang masih memandang alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. “Kadang-kadang manusia harus belajar dari masyarakat pedalaman. Mereka lebih santun kepada alam. Yang perlu dipelajari bukan mitologinya, tetapi kesantunan mereka terhadap alam,” katanya.
Di akhir pemaparannya, Arqom mengajak masyarakat mengubah paradigma dalam memandang alam. Menurutnya, alam tidak boleh diperlakukan sebagai warisan yang bebas dieksploitasi, melainkan sebagai titipan bagi generasi mendatang yang harus dijaga, dipelihara, dan jika memungkinkan diwariskan dalam kondisi yang lebih baik. Dengan cara pandang seperti ini, manusia akan menyadari bahwa setiap kerusakan lingkungan pada akhirnya bukan hanya akan mengancam kelestarian alam, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. “Ketika alam rusak, bukan hanya alam yang rusak, tapi manusia sendiri juga akan rusak. Bumi ini adalah titipan untuk anak cucu kita, bukan warisan yang boleh kita habiskan,” tutupnya.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific
