Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Litera-Wayang UGM menghidupkan kembali Pakem Grĕntĕng, manuskrip pedalangan kuno khas Kulon Progo, melalui pengembangan kreativitas siswa pedalangan SMK Negeri 1 Kasihan, Bantul. Program bertajuk ‘PKM-PM Litera-Wayang: Peningkatan Kreativitas Siswa Pedalangan melalui Transformasi Literasi Kuno Pakem Grĕntĕng di SMK Negeri 1 Kasihan’ tersebut memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa 2026 dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa). Pendanaan itu menjadi pijakan bagi tim untuk mendampingi siswa mengolah naskah kuno menjadi karya pedalangan yang kemudian dipentaskan di lingkungan sekolah.
Tim Litera-Wayang yang terdiri atas Dian Nitami, Rafif Wicaksana, Najwa Aulya Aliff Na’im, dan Subekti Hari Prabowo dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM menjalankan program bersama siswa Konsentrasi Keahlian Pedalangan SMK Negeri 1 Kasihan. Didampingi dosen FIB UGM Dr. Aprillia Firmonasari, S.S., M.Hum., DEA, tim menjadikan Pakem Grĕntĕng sebagai sumber pembelajaran sekaligus ruang eksplorasi kreativitas. Alih wahana dilakukan agar isi manuskrip dapat dipahami dan dikembangkan dalam bentuk yang lebih dekat dengan proses belajar siswa pedalangan. “Melalui Litera-Wayang, kami ingin mengenalkan kembali Pakem Grĕntĕng kepada siswa dengan cara yang dekat dengan dunia mereka, sehingga manuskrip kuno tersebut dapat dipahami sekaligus dikembangkan menjadi karya yang mereka ciptakan sendiri,” ujar anggota tim, Najwa Aulya Aliff Na’im, Kamis (3/9).

Proses tersebut diawali dengan alih wahana manuskrip dan diskusi bedah naskah. Siswa diajak membaca serta memahami cerita yang terdapat dalam Pakem Grĕntĕng, kemudian mengolahnya menjadi lakon yang dapat dipentaskan. Tahap berikutnya diisi dengan pelatihan pembuatan dan tatah sungging wayang kulit, sehingga proses pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman teks. Pendekatan ini sekaligus mempertemukan literasi naskah dengan keterampilan seni pedalangan yang dipelajari siswa di sekolah.
Dari rangkaian tersebut lahir dua lakon, yaitu Bima Kutu Walang Taga dan Gathotkaca Siyung. Keduanya merupakan hasil alih wahana Pakem Grĕntĕng yang dikembangkan secara kreatif oleh siswa selama mengikuti program. Bagi tim, proses kreatif tersebut menjadi bagian penting karena siswa diberi ruang untuk menginterpretasikan sumber cerita, menyusunnya menjadi lakon, sekaligus mewujudkannya dalam bentuk wayang. “Kami melihat siswa bukan hanya sebagai penerima materi, tetapi sebagai pelaku utama yang mengolah naskah menjadi karya. Dari proses membaca, berdiskusi, membuat wayang, sampai mempersiapkan pementasan, mereka terlibat secara langsung,” tutur Najwa.
Hasil karya siswa kemudian dipentaskan dalam Pagelaran dan Pameran Wayang Kulit sebagai puncak program. Empat siswa kelas XI Konsentrasi Keahlian Pedalangan tampil sebagai dalang dengan membawakan dua lakon tersebut, sementara siswa kelas X dan XI lainnya terlibat dalam karawitan dan penataan panggung. Pementasan dihadiri Kepala SMK Negeri 1 Kasihan, Ketua Konsentrasi Keahlian Pedalangan, para guru, siswa, serta perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul. Bagi pihak sekolah, pagelaran berbasis pengembangan manuskrip ini menjadi pengalaman pertama yang dilaksanakan di lingkungan sekolah.
Salah seorang siswa kelas XI Pedalangan sekaligus dalang dalam pementasan, Deka, merasakan langsung perubahan yang diperoleh selama mengikuti program. Ia belajar membaca dan menyusun lakon dari sumber manuskrip, kemudian membuat wayang berdasarkan tokoh yang dikembangkan hingga membawanya ke atas panggung. “Kami jadi bisa memahami serat Pakem Grĕntĕng yang sangat menarik. Kami juga belajar membaca dan menyusun lakon atau cerita, membuat wayang dari Pakem Grĕntĕng, seperti tokoh wayang Bima Kutu Walang Taga dan Gathotkaca Siyung. Kami sangat bahagia dan takjub pada proses awal hingga pementasan ini karena wayang itu hasil karya kami dan ditonton oleh warga SMK Negeri 1 Kasihan,” ungkap Deka.

Selain pagelaran, tim menghadirkan pameran keliterasian dan dokumentasi program yang memperlihatkan perjalanan siswa selama mengikuti kegiatan. Materi yang ditampilkan meliputi dokumentasi visual, materi pembelajaran yang dapat diakses melalui kode QR, serta foto-foto proses kreatif sejak pembelajaran, bedah naskah, pembuatan wayang, hingga persiapan pementasan. Pameran tersebut memberi kesempatan kepada warga sekolah untuk melihat bagaimana sebuah manuskrip kuno dikembangkan melalui proses pembelajaran menjadi karya seni siswa.
Antusiasme juga datang dari pihak sekolah dan siswa yang mengikuti rangkaian program. Kepala SMK Negeri 1 Kasihan menyampaikan apresiasi atas kolaborasi dengan Tim Litera-Wayang UGM dan melihat sekolah sebagai ruang yang dapat menjadi laboratorium seni bagi pengembangan kreativitas mahasiswa. Sementara itu, Deka berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan karena program memberinya pengalaman baru dalam belajar dan bekerja bersama. “Saya berharap program ini terus berjalan ke depannya. Program ini memberikan banyak wawasan dan pengetahuan. Kami juga belajar kerja sama, tidak egois, dan membangun chemistry antarwarga sekolah juga pihak universitas,” tambahnya.
Keberlanjutan program disiapkan melalui penyusunan buku pedoman yang dapat digunakan sekolah sebagai panduan untuk melanjutkan transmisi pengetahuan tentang Pakem Grĕntĕng. Materi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara mandiri dan diadaptasi sebagai pelengkap pembelajaran di sekolah. Bagi Tim Litera-Wayang, keberadaan pedoman menjadi salah satu cara agar pengetahuan yang telah diperkenalkan selama program tetap dapat digunakan setelah rangkaian pendampingan selesai.
Melalui program PKM-PM Litera-Wayang, UGM menghadirkan pendekatan pelestarian budaya yang menempatkan siswa sebagai bagian aktif dalam proses penciptaan. Pakem Grĕntĕng tidak berhenti sebagai manuskrip lama, tetapi ditafsirkan kembali menjadi lakon, wayang, dan pertunjukan yang lahir dari kreativitas generasi muda. Pengalaman tersebut diharapkan dapat membantu menjaga keberlanjutan literasi budaya sekaligus memberi ruang bagi siswa pedalangan untuk mengenali dan mengembangkan warisan budaya melalui proses kreatif mereka sendiri.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Dok. Tim PKM
