Infeksi cacing hati tidak hanya mengganggu kesehatan sapi, tetapi juga dapat menurunkan produktivitas ternak dan merugikan peternak. Penyakit yang lebih dikenal dengan sebutan fasciolosis ini disebabkan oleh cacing Fasciola sp. yang dapat menyebabkan organ hati sapi harus diafkir saat pemeriksaan pascapemotongan. Di sisi lain, Fasciola sp. juga merupakan parasit zoonotik yang dapat menginfeksi manusia melalui konsumsi pangan atau paparan lingkungan yang terkontaminasi metaserkaria, bentuk infektif dari parasit tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 yang terdiri atas lima mahasiswa ini mengembangkan penelitian pemanfaatan ekstrak biji pepaya (Carica papaya L.) dan carica (Vasconcellea pubescens) sebagai kandidat agen ovisidal terhadap telur Fasciola sp. Tim tersebut terdiri atas Nabila Hanifa Putri dari Fakultas Kedokteran Hewan angkatan 2024, Annisa Azka Nadine Wiseman dari Fakultas Biologi angkatan 2024, Fitriana Tsabita Utami dari Fakultas Kimia angkatan 2024, Aulia Tamara Jannati dari Program Studi Gizi angkatan 2024, dan Putri Lala Kirana dari Pengembangan Produk Agroindustri angkatan 2024.
Di bawah bimbingan Dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Dr. drh. Vika Ichsania Ninditya, tim PKM yang bernama FASCIORICA tersebut memilih biji pepaya dan carica sebagai bahan alam yang diteliti untuk menghambat perkembangan telur cacing hati. Adapun kedua bahan tersebut dipilih karena dinilai masih kurang dimanfaatkan padahal mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan sebagai agen ovisidal alami.
Ketua Tim PKM-RE 2026 FASCIORICA, Nabila Hanifa Putri, menyampaikan bahwa penelitian tersebut dilakukan untuk mengeksplorasi potensi bahan alam yang selama ini belum banyak dimanfaatkan dalam pengendalian fasciolosis. Ia menuturkan, pemanfaatan biji pepaya dan carica juga dipilih karena kedua bahan tersebut tersedia cukup melimpah sebagai sisa dari proses pengolahan buah. “Kami ingin melihat apakah bahan yang selama ini dianggap sebagai sisa pengolahan buah dapat memiliki nilai tambah dalam pengendalian parasit,” ujar Nabila, dalam keterangan yang dikirim, Rabu (16/9).
Dalam prosesnya, tim melihat urgensi pengendalian fasciolosis melalui tingginya kasus di lapangan. Berdasarkan penelitian sebelumnya di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tercatat prevalensi fasciolosis pada sapi mencapai 47,2 persen. Sementara itu, pengendalian parasit pada ternak masih banyak bergantung pada penggunaan obat antiparasit sintetis. “Penggunaan obat tersebut menghadapi sejumlah tantangan, termasuk potensi resistensi dan perbedaan efektivitas terhadap stadium parasit,” katanya.
Lebih lanjut, tim memperoleh biji pepaya dari sisa pengolahan buah di wilayah Sleman, sedangkan biji carica berasal dari Wonosobo yang dikenal sebagai salah satu sentra pengolahan buah carica. Kedua bahan tersebut kemudian diolah menjadi ekstrak untuk selanjutnya diuji terhadap telur Fasciola sp. Setelah memperoleh ekstrak, penelitian berlanjut pada pengujian terhadap telur Fasciola sp. telur diberikan perlakuan menggunakan ekstrak biji pepaya, ekstrak biji carica, serta kombinasi keduanya dalam beberapa konsentrasi.
Adapun telur yang telah diberi perlakuan kemudian diinkubasi dan diamati menggunakan mikroskop untuk melihat respons yang terjadi. Tim kemudian membandingkan perkembangan telur pada setiap perlakuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak dalam menghambat perkembangan dan menurunkan viabilitas telur Fasciola sp.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak menyebabkan perubahan morfologi telur berupa perubahan bentuk, kerusakan atau terbukanya dinding telur, serta keluarnya isi telur. Setelah 48 jam, mortalitas telur meningkat, terutama pada perlakuan kombinasi ekstrak biji pepaya dan carica yang mencapai sekitar 50–65%. Hasil analisis juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarkelompok perlakuan (p<0,05). Pada pengamatan 24 jam, ekstrak carica menunjukkan efek ovicidal yang lebih cepat dibandingkan ekstrak pepaya, sedangkan kombinasi kedua ekstrak menunjukkan potensi aktivitas ovicidal terhadap telur Fasciola gigantica.
Melalui penelitian ini, tim berharap pemanfaatan bahan alam dari limbah pengolahan buah dapat menjadi salah satu alternatif yang terus dikembangkan dalam pengendalian parasit pada sektor peternakan. “Penelitian ini tidak hanya mengeksplorasi alternatif pengendalian parasit, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan hasil samping pengolahan buah menjadi bahan bernilai tambah,” pungkasnya.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific, Tim PKM
