Keberagaman sumber daya pangan tidak hanya berasal dari daratan, tetapi juga dari laut dan perairan yang masih perlu dieksplorasi secara berkelanjutan. Apalagi sekitar 70 persen atau dua pertiga wilayah wilayah Indonesia adalah laut. Di tengah ancaman krisis pangan, dampak perubahan iklim serta jumlah penduduk yang semakin meningkat, pengembangan sektor perikanan menjadi salah solusi dalam penyediaan pangan biru atau blue food. Seperti diketahui, pangan biru adalah semua jenis makanan yang berasal dari perairan, seperti ikan, kerang, dan rumput laut, yang ditangkap atau dibudidayakan di laut maupun air tawar.
Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., menuturkan pengembangan blue food menjadi suatu langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan di Indonesia. Ia menuturkan jika masa depan ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian di daratan, tetapi juga pada potensi sumber daya perairan yang harus dikelola secara bijaksana, inovatif, dan berkelanjutan. Karena itu, ia mendorong ilmu pengetahuan, teknologi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menghadirkan solusi yang mampu menjawab tantangan pangan di masa depan. “Kekayaan perairan juga harus dikelola secara bijaksana, inovatif, dan berkelanjutan. Di sinilah ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menghasilkan solusi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Jaka Widada dalam Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) dengan mengusung tema bertajuk “Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal” pada Sabtu (25/7) di Auditorium Harjono Danoesastro.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menegaskan blue food memegang peran penting dalam mendukung program ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat, terutama sebagai sumber protein bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia. Danang mendorong penguatan kampanye konsumsi ikan di tengah masyarakat yang selama ini lebih akrab dengan sumber protein lain seperti daging dan telur. “Dukungan kebijakan, riset maupun teknologi, blue food nantinya benar-benar menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kita,” harap Danang.
Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Erwin Dwiyana, S.Pi., M.Sc., menjelaskan bahwa transformasi sistem blue food menjadi suatu kebutuhan mendesak seiring proyeksi pertumbuhan populasi dunia menjadi 9,66 miliar jiwa pada 2050. Kondisi tersebut diperkirakan berdampak pada kebutuhan protein ikan naik hingga 67 persen. Di sisi lain, sistem pangan berbasis daratan menghadapi tantangan berupa keterbatasan lahan, perubahan iklim, degradasi lingkungan, hingga alih fungsi lahan pertanian. Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa pengembangan blue food perlu didasari atas lima dimensi utama, yakni ketersediaan, keterjangkauan, pemenuhan gizi, mutu dan keamanan pangan, serta keberlanjutan, sehingga mampu menciptakan sistem pangan yang tangguh dari hulu hingga hilir. “Transformasi blue food harus diarahkan pada peningkatan produktivitas, pengembangan produk bernilai tambah, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Sedangkan Dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., dalam pemaparan hasil risetnya memperkenalkan strategi inkorporasi mikroalga dan makroalga dalam matriks pangan sebagai kunci dalam mendukung keberhasilan blue food agar dapat diterima oleh masyarakat luas.
Menurutnya, alga tidak lagi hanya dikonsumsi sebagai suplemen atau obat, melainkan diintegrasikan ke dalam produk pangan harian, seperti mie, mochi, dan es krim. “Mari kita beraksi dengan kolaborasi untuk menciptakan makanan yang lezat, karena tidak akan ada artinya makanan yang kita buat dengan macam-macam kalau tidak lezat dan meningkatkan minat masyarakat,” pungkasnya.
Ketua panitia Seminar, Dr. Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si menyampaikan seminar kali ini menjadi forum dalam mempertemukan hasil-hasil riset perikanan dan kelautan sekaligus mendorong lahirnya gagasan baru bagi pengembangan sektor perikanan Indonesia. Seminar ini diikuti oleh 109 pemakalah, 4 peserta non pemakalah, serta perwakilan dari 15 institusi dan perguruan tinggi di Indonesia. Melalui penyelenggaraan seminar perikanan ini diharapkan dapat menjadi wujud komitmen bersama dalam membangun sistem pangan akuatik yang berdaya saing, berbasis sains, dan berkelanjutan.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific
