Indonesia dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia sejak ribuan tahun lalu dengan kekayaan plasma nutfah yang sangat berharga. Beberapa komoditas rempah unggulan, seperti pala, cengkeh, kapulaga, lada hitam, kayu manis, jahe, kunyit, dan ketumbar, menunjukkan tingginya keragaman morfologi dan genetik yang berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan varietas unggul. Selain itu, hasil bioprospeksi juga mengungkap keberadaan senyawa bioaktif dalam pengembangan pangan fungsional, produk farmasi berbahan alam, serta bioekonomi berkelanjutan yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas rempah Indonesia di tingkat global.
“Rempah nusantara bukan sekadar warisan sejarah, tetapi juga sumber daya strategis yang harus terus dikembangkan melalui riset agar memberikan manfaat bagi kesehatan, industri, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Budi Daryono dalam Seminar Nasional Biologi Tropik ke-10 yang berkolaborasi dengan International Conference on Nusantara Spices and Biodiversity (ICNSB) mengusung tema “Reviving the Glory of Nusantara Spices through Biodiversity Research and Sustainable Innovation” di Fakultas Biologi UGM, Rabu (1/7).
Menurut Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) ini, kekayaan genetik rempah nusantara perlu terus dijaga melalui penguatan riset molekuler, bioprospeksi, dan konservasi sumber daya genetik. Upaya tersebut tidak hanya penting untuk melestarikan biodiversitas rempah Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi dalam pengembangan pangan fungsional, produk farmasi berbahan alam, serta bioekonomi berkelanjutan yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas rempah Indonesia di tingkat global.
Budi menyebutkan salah satu komoditas endemik rempah yang perlu dilestarikan, yakni pala Sangihe. Ia menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan berhasil mengidentifikasi lima morfotipe utama pala Sangihe, yaitu bulat tebal, bulat tipis, oval tebal, oval tipis, dan biji kembar (twin seed). Temuan tersebut menjadi data dasar yang penting untuk mendukung konservasi. “Melalui pendekatan morfologi dan analisis molekuler, kita dapat memahami keragaman genetik rempah sebagai dasar konservasi dan pengembangan varietas unggul,” ujar Budi.
Prof. Yaya dari Universiti Putra Malaysia, dan Prof. Chiharu dari Mie University berfokus pada berbagai isu terkait rempah-rempah, meliputi penyakit dan senyawa toksik yang terdapat pada rempah-rempah, hasil-hasil penelitian terkini, serta potensi rempah-rempah Indonesia sebagai warisan dunia dan sumber daya bioekonomi masa depan.
Sementara Prof. Chiharu Mie University, jepang keberadaan tanaman rempah perlu dilindungi dengan baik kaerna rentan terserang penyakit apabila tidak dipantau secara berkala. Menurutnya, mekanisme terjadinya penyakit pada tanaman pada dasarnya serupa dengan penyakit yang menyerang hewan, yakni sama-sama disebabkan oleh patogen seperti virus dan bakteri.
Lebih lanjut, Chiharu memaparkan hasil tinjauan terhadap berbagai penelitian mengenai penyakit pada tanaman rempah di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan data yang telah dipublikasikan, dari sembilan jenis tanaman rempah yang dikaji, tercatat sebanyak 34 jenis penyakit yang menyerang komoditas tersebut. “Dari sembilan jenis tanaman rempah, tercatat 34 jenis penyakit,” jelasnya.
Kendati demikian, Chiharu menuturkan jika sebagian besar pendataan penyakit pada tanaman rempah di Indonesia dilakukan sebelum tahun 1996. Akibatnya, informasi mengenai persebaran penyakit sudah banyak yang tidak lagi diperbarui. Ia juga menyampaikan perubahan nama ilmiah berbagai patogen membuat data penyakit yang lama menjadi lebih sulit ditelusuri. Menurutnya, kondisi ini menjadi tantangan bagi para eksportir yang harus memastikan rempah-rempah yang dipasarkan memenuhi standar kesehatan melalui berbagai proses, seperti iradiasi dan pemanasan. Oleh karena itu, pembaruan data penyakit tanaman perlu terus dilakukan agar dapat membantu petani dan pelaku usaha dalam mengelola produksi rempah.
Penyakit yang disebabkan oleh jamur masih menjadi tantangan utama dalam budidaya tanaman rempah, terutama seiring perubahan sistem budidaya. Menurutnya, pengendalian penyakit memerlukan diagnosis yang akurat melalui pengamatan di lapangan. Ia juga menegaskan pentingnya pembaruan data taksonomi dan inventarisasi patogen agar upaya pengendalian penyakit dan pengembangan metode diagnosis dapat dilakukan secara lebih efektif. “Penyakit pada tanaman rempah bukan hanya menjadi persoalan di tingkat lokal, tetapi juga merupakan isu global,” pungkasnya.
Selanjutnya, Prof. Yaya dari Universiti Putra Malaysia, memaparkan salah satu hasil temuannya terhadap potensi daun salam (Syzygium polyanthum) sebagai bahan sanitasi alami untuk pangan. Ia menjelaskan bahwa produk pangan sangat rentan terkontaminasi oleh bakteri maupun jamur yang dapat menyebabkan penyakit bawaan pangan (foodborne illness). Selama ini, industri pangan umumnya menggunakan bahan kimia sebagai sanitizer, namun penggunaan dalam jangka panjang mendorong perlunya pengembangan alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan.
Dalam penelitiannya, Yaya menemukan bahwa ekstrak daun salam mampu menghambat pertumbuhan berbagai jenis bakteri, jamur, dan ragi yang menjadi penyebab kontaminasi pangan. Selain efektif menekan pertumbuhan mikroorganisme, ekstrak tersebut juga bekerja dengan merusak dinding sel mikroorganisme sehingga menghambat perkembangannya. Menurutnya, temuan ini menunjukkan bahwa tanaman rempah tidak hanya memiliki nilai sebagai bumbu masakan, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber senyawa antimikroba alami.
Penggunaan ekstrak daun salam sebagai sanitizer tidak mengubah warna, tekstur, maupun aroma bahan pangan. Bahkan, efektivitasnya dalam mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme tetap terjaga selama proses penyimpanan. Berdasarkan hasil tersebut, Yaya menilai ekstrak daun salam berpotensi dikembangkan sebagai bahan sanitasi alami untuk mencuci bahan pangan sekaligus membantu memperpanjang masa simpan produk. “Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak daun salam memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sanitizer alami dalam penanganan bahan pangan serta mencegah kerusakan pangan selama penyimpanan,” pungkasnya.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie dan Magnific
