Tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Mahasiswa (KKN-PPM) UGM Halo Belu 2026 memperkuat kolaborasi Indonesia dan Timor Leste melalui kegiatan lingkungan dan budaya di wilayah perbatasan. Upaya tersebut diwujudkan melalui penanaman mangrove yang mempertemukan mahasiswa dan akademisi kedua negara serta Festival Haliku Belu yang menjadi ruang interaksi masyarakat dan generasi muda dalam mengenalkan potensi budaya dan ekonomi lokal.
Kolaborasi lingkungan dilakukan melalui Sosialisasi dan Kegiatan Penanaman Mangrove di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Kamis (23/7). Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Mangrove Internasional 2026 ini melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, akademisi, serta mahasiswa dari Indonesia dan Timor Leste.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah akademisi UGM, di antaranya Prof. Eko Haryono selaku Kaprodi S3 Ilmu Lingkungan UGM, Dr. Sudaryatno selaku Kaprodi S2 Ilmu Lingkungan UGM, Dr. Tjahyo Nugroho Adji selaku dosen Ilmu Lingkungan UGM, serta Dr. Priyaji Agung Pambudi selaku Koordinator Kerja Sama, Humas, dan Promosi Sekolah Pascasarjana UGM.
Selain itu, kegiatan ini melibatkan akademisi dan mahasiswa dari Dili Institute of Technology (DIT) Timor Leste, perwakilan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN), serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Belu. Keterlibatan berbagai pihak, khususnya mahasiswa dari kedua negara, menjadi bagian dari upaya membangun kerja sama dalam menjaga ekosistem pesisir di wilayah perbatasan.
Penanggung jawab program penanaman mangrove dari Tim KKN UGM, Amir Fahmi Hidayat, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan pada aksi penanaman, tetapi juga membangun komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove. “Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada penanaman mangrove, tetapi juga membangun komitmen lembaga terkait dan masyarakat sekitar untuk bersama-sama menjaga dan merehabilitasi ekosistem mangrove,” ujar Amir dalam keterangan yang dikirim Jumat (11/9).
Amir berharap kolaborasi dalam konservasi lingkungan dapat terus diperkuat dengan meningkatkan peran pemerintah daerah dan masyarakat. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar upaya menjaga dan merehabilitasi ekosistem mangrove dapat berlanjut setelah kegiatan KKN selesai.
“Harapannya, peran OPD terkait dalam konservasi lingkungan dan rehabilitasi ekosistem mangrove semakin meningkat, begitu juga dengan peran masyarakat. Dengan begitu, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat semakin terbangun dan pemerintah bersama masyarakat dapat bersatu dalam menjaga ekosistem lingkungan, terutama mangrove,” tambah Amir.
Kolaborasi tersebut kemudian berlanjut pada 28 Juli 2026 ketika Tim KKN-PPM UGM Halo Belu melakukan kunjungan balasan ke Timor Leste. Tim mengikuti kegiatan penanaman mangrove di Be Malae, Sanirin, Bobonaro. Rangkaian kegiatan ini memperluas ruang perjumpaan mahasiswa dan akademisi kedua negara melalui agenda konservasi lingkungan.
Selain melalui isu lingkungan, mahasiswa UGM juga membangun interaksi melalui pengembangan potensi budaya dan ekonomi masyarakat. Hal tersebut diwujudkan melalui Festival Haliku Belu 2026 yang berlangsung pada 1–2 Agustus 2026 sebagai salah satu rangkaian KKN-PPM UGM Halo Belu 2026. Festival ini mempertemukan masyarakat, mahasiswa, pelaku UMKM, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan dalam sebuah perayaan budaya di Kabupaten Belu.
Festival Haliku Belu menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari Fun Walk, Opening Ceremony, Cultural Workshop, pameran UMKM dan tenun, hingga pertunjukan seni budaya. Pada hari kedua, Tim KKN-PPM UGM Halo Belu turut memaparkan hasil dan luaran program yang telah dilaksanakan bersama masyarakat selama berada di desa.
Festival tersebut juga melibatkan mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) yang melaksanakan KKN di wilayah Belu. Keterlibatan berbagai pihak memperluas ruang interaksi dan pertukaran gagasan dalam mendukung pengembangan masyarakat di wilayah perbatasan.
Ketua Penanggung Jawab Festival Haliku Belu, Habibullah Tsaqif Fauzan, mengatakan potensi budaya, lingkungan, dan ekonomi lokal di wilayah perbatasan membutuhkan ruang kolaborasi agar dapat terus diperkuat dan dikembangkan. Festival Haliku Belu menjadi salah satu wadah untuk mendorong kepedulian terhadap lingkungan, memperkenalkan potensi budaya dan UMKM, sekaligus memperkuat interaksi dan kolaborasi masyarakat melalui kegiatan olahraga, budaya, edukasi, dan pemberdayaan lokal. “Potensi budaya, lingkungan, dan ekonomi lokal di wilayah perbatasan perlu diperkuat melalui ruang kolaborasi yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi,” katanya.
Nama Haliku Belu terinspirasi dari semangat menjaga dan merawat tanah serta wilayah Belu. Semangat tersebut juga berkaitan dengan Tari Likurai yang menjadi salah satu kesenian yang lekat dengan identitas masyarakat Timor. Melalui festival, budaya lokal tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga ruang interaksi antara masyarakat, generasi muda, mahasiswa, dan berbagai pihak.
Kedua kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan KKN-PPM UGM Halo Belu 2026 yang dilaksanakan oleh 30 mahasiswa UGM di tiga desa, yakni Desa Sadi, Desa Tulakadi, dan Desa Dualaus, Kabupaten Belu. Program ini mengusung tema pemberdayaan masyarakat wilayah perbatasan melalui penguatan ketahanan lingkungan, kesehatan komunitas, dan pengembangan potensi lokal berkelanjutan.
Melalui kegiatan lingkungan dan budaya tersebut, mahasiswa UGM tidak hanya menjalankan program pemberdayaan masyarakat, tetapi juga membuka ruang perjumpaan dan kerja sama dengan berbagai pihak di wilayah perbatasan. Penanaman mangrove mempertemukan mahasiswa dan akademisi Indonesia–Timor-Leste dalam isu konservasi, sementara Festival Haliku Belu memperkuat interaksi melalui budaya dan potensi lokal.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim KKN
