Persoalan air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah, dan keberlanjutan ekosistem mangrove menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat di kawasan pesisir Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Menjawab persoalan tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) menginisiasi penguatan Program Kampung Iklim (ProKlim) sebagai upaya membangun ketahanan lingkungan dan masyarakat berbasis potensi lokal.
Upaya tersebut dilakukan oleh tim KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026 Unit KU002 di Kecamatan Tarakan Barat, Kota Tarakan. Berlangsung pada Juni hingga Agustus 2026 lalu, kegiatan ini menyasar Kelurahan Karang Anyar Pantai dan Kelurahan Karang Rejo dengan mengembangkan berbagai program yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Mengusung tema “Mewujudkan Program Kampung Iklim serta Ketahanan Pangan Berbasis Optimalisasi Sumber Daya Lokal dan Pemberdayaan Masyarakat sebagai Upaya Desa Berkelanjutan di Kelurahan Karang Anyar Pantai dan Kelurahan Karang Rejo, Kecamatan Tarakan Barat, Kota Tarakan”, program KKN-PPM tersebut didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) UGM, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU.
Atus menuturkan bahwa inisiasi ProKlim menjadi kerangka untuk mengintegrasikan berbagai kegiatan mahasiswa dalam menjawab persoalan lingkungan pesisir. Menurutnya, ketahanan lingkungan perlu dibangun melalui pendekatan yang menyeluruh dengan melibatkan masyarakat. “Persoalan lingkungan di wilayah pesisir tidak dapat diselesaikan secara sektoral. Ketahanan lingkungan harus dibangun secara terintegrasi, mulai dari air, sanitasi, pangan, kesehatan, pengelolaan sampah, konservasi ekosistem hingga perubahan perilaku masyarakat,” tuturnya, Rabu (15/9).
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah keterbatasan akses terhadap air bersih dan kondisi sanitasi di kawasan pesisir. Ia mengatakan bahwa mahasiswa bersama masyarakat melakukan pemetaan terhadap sumber air yang digunakan sehari-hari, mulai dari air pasokan PDAM, air tadahan hujan, hingga air pesisir yang bersifat payau. Pemetaan tersebut dilanjutkan dengan pemeriksaan kualitas air dan analisis efektivitas filtrasi sebagai bagian dari edukasi kesehatan lingkungan. “Hal tersebut menjadi perhatian karena kualitas air tanah di sejumlah lokasi pesisir memiliki keterbatasan, sehingga masyarakat perlu memanfaatkan sumber air alternatif,” ucapnya.
Selain pengelolaan sumber air, mahasiswa turut mendukung peningkatan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan dan perawatan teknologi sanitasi Tripikon-S. Edukasi dilakukan melalui penyusunan modul, poster, dan leaflet yang dapat digunakan masyarakat sebagai panduan. Mahasiswa juga melakukan penilaian terhadap lokasi potensial untuk pemasangan sistem sanitasi dengan mempertimbangkan kondisi permukaan tanah dan pengaruh pasang surut air laut. Kajian hidraulika dan kebutuhan air turut dilakukan untuk mendukung keberlanjutan pemanfaatan teknologi tersebut.
Pemanfaatan penampungan air hujan juga diperkenalkan sebagai salah satu alternatif dalam menghadapi keterbatasan sumber daya air. Upaya ini sekaligus mendukung aspek adaptasi ProKlim melalui pengelolaan dan konservasi air untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap kekeringan.
Selain air dan sanitasi, keberlanjutan ekosistem mangrove menjadi bagian penting dalam penguatan ketahanan lingkungan pesisir. Mahasiswa mengembangkan berbagai kegiatan edukasi dan aksi lapangan yang memperkenalkan fungsi ekologis mangrove serta pentingnya menjaga kawasan pesisir. Kegiatan dilakukan melalui edukasi ekosistem mangrove kepada pelajar, gotong royong penanaman mangrove bersama masyarakat, serta penyuluhan mengenai keterkaitan mangrove dengan perikanan. Edukasi juga mencakup konservasi bekantan dan pengenalan biodiversitas kawasan pesisir.
Upaya peningkatan tutupan vegetasi turut dilakukan melalui penanaman ketapang dan cempedak serta optimalisasi pekarangan dengan tanaman obat keluarga, tanaman buah, dan tanaman produktif lainnya. Menurutnya, penanaman vegetasi perlu diarahkan pada upaya membangun kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk merawat lingkungan dalam jangka panjang. “Kegiatan penanaman tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memahami fungsi vegetasi, merawat tanaman, dan menjadikannya bagian dari strategi ketahanan lingkungan jangka panjang,” ucapnya.
Tidak hanya melalui kegiatan penanaman, mahasiswa juga mengenalkan biodiversitas kawasan melalui edukasi mengenai satwa liar dan herpetofauna. Salah satu luaran kegiatan berupa Buku Panduan Satwa Liar KKMB Tarakan yang memuat informasi mengenai 41 spesies fauna vertebrata. “Penyusunan buku tersebut diharapkan dapat menjadi media edukasi bagi masyarakat untuk mengenali kekayaan biodiversitas di kawasan pesisir sekaligus memahami pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai habitat berbagai jenis satwa,” ujarnya.
Persoalan sampah juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan KKN. Sejumlah kawasan permukiman masih menghadapi penumpukan sampah dan keterbatasan kapasitas pengelolaan di tingkat masyarakat. Untuk menjawab persoalan tersebut, mahasiswa mendorong penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R) melalui edukasi pemilahan sampah rumah tangga, pengembangan tabungan sampah, pembuatan ecobrick, serta pemanfaatan kembali barang bekas. Mahasiswa juga memperkenalkan pemanfaatan galon bekas sebagai tempat sampah, pembuatan pot tanaman dari limbah plastik, hingga pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik cair.
Selain itu, membangu ketahanan masyarakat pesisir juga dilakukan melalui penguatan ketahanan pangan dengan memanfaatkan sumber daya dan lahan yang tersedia di lingkungan masyarakat. Mahasiswa memperkenalkan berbagai metode budidaya pada lahan terbatas, seperti vertical garden, hidroponik sederhana, tanaman obat keluarga, hingga budidaya ikan dalam ember atau budikdamber. “Melalui budikdamber, masyarakat diperkenalkan pada cara memproduksi ikan dan tanaman dalam satu wadah sederhana yang dapat diterapkan pada lahan terbatas. Pendekatan tersebut menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber pangan dan protein hewani,” katanya.
Aspek kesehatan masyarakat turut menjadi bagian dari program karena kondisi lingkungan memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan warga. Kegiatan dilakukan melalui edukasi kesehatan lingkungan, pencegahan penyakit yang berkaitan dengan pengelolaan sampah, serta penguatan peran Posyandu. Mahasiswa turut mendukung revitalisasi fasilitas Posyandu dan mengembangkan media edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut, postur belajar, perlindungan diri dari paparan sinar matahari, serta pencegahan penyakit.
Penguatan ketahanan lingkungan juga didukung melalui pemanfaatan teknologi tepat guna. Mahasiswa mengembangkan alat monitoring kualitas air, termasuk untuk memeriksa parameter air tambak. Di kawasan mangrove, mahasiswa mengembangkan alat pemantauan suhu dan kelembapan berbasis Internet of Things (IoT). Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat memperkenalkan pemantauan lingkungan berbasis data sekaligus meningkatkan literasi masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir.
Aspek mitigasi perubahan iklim turut diperkuat melalui pengenalan energi baru terbarukan. Mahasiswa memberikan edukasi mengenai prinsip kerja teknologi fotovoltaik dan manfaat panel surya sebagai sumber energi alternatif. Kegiatan tersebut dilengkapi dengan pembuatan kit panel surya serta edukasi mengenai penghematan dan konservasi energi. Pengenalan energi surya diharapkan dapat memperluas pengetahuan masyarakat mengenai pilihan energi yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung aksi mitigasi perubahan iklim.
Tidak berjalan sendiri, berbagai kegiatan mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah, masyarakat, alumni, dunia usaha, organisasi masyarakat, serta pemangku kepentingan lokal. Pemerintah Kota Tarakan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan yang berfokus pada penguatan lingkungan dan ketahanan masyarakat pesisir. Dukungan juga datang dari Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul, M.Kes., serta Camat Tarakan Barat Sijabat Khiris Tauan Maryanto, S.STP., M.H.
Atus menekankan bahwa keberhasilan KKN tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang dapat dilaksanakan selama mahasiswa berada di lokasi. Lebih dari itu, program perlu meninggalkan pengetahuan dan kapasitas yang dapat diteruskan masyarakat. “Mahasiswa hadir dalam waktu terbatas, tetapi masyarakat tinggal dan menjalani kehidupan sehari-hari di wilayah tersebut. Karena itu, keberlanjutan program harus menjadi perhatian utama. Kegiatan KKN harus meninggalkan pengetahuan, kapasitas, kelembagaan, dan contoh praktik yang dapat diteruskan oleh masyarakat,” ucapnya.
Melalui berbagai jalannya kegiatan ini, tim KKN-PPM UGM berupaya mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, potensi lokal, dan partisipasi masyarakat dalam membangun ketahanan lingkungan pesisir. Berbagai kegiatan, mulai dari konservasi mangrove, pengelolaan sampah, penguatan sanitasi dan ketahanan pangan, hingga pemanfaatan teknologi pemantauan lingkungan dan energi surya, menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat pesisir yang lebih tangguh. “Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, alumni, dunia usaha, dan organisasi kemasyarakatan diharapkan dapat menjadi modal sosial untuk melanjutkan penguatan kawasan pesisir Tarakan Barat sebagai lingkungan yang sehat, hijau, tangguh, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Wikipedia, Dok. Tim KKN
