“Kubur saja mimpinya.” Kalimat itu masih diingat Izzat El Umam Setiadi (18) hingga sekarang. Saat berkonsultasi mengenai rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ia beberapa kali diingatkan agar lebih realistis. Berasal dari sekolah yang alumninya hampir tidak pernah diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), mengejar kampus impian itu dinilai terlalu tinggi. Namun, bagi Izzat, mimpi bukan untuk dikubur, melainkan diperjuangkan. Keyakinan itulah yang akhirnya mengantarkannya menjadi mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM sekaligus memperoleh UKT 0.
Perjalanan menuju UGM bukanlah kali pertama Izzat berhadapan dengan kegagalan. Sejak kecil, ia selalu berambisi menempuh pendidikan di tempat terbaik. Namun, keinginannya untuk masuk SMP dan SMA favorit di daerahnya tidak terwujud. Alih-alih membuatnya menyerah, pengalaman tersebut justru membentuk mental untuk terus mencoba. “Dari pengalaman itu saya belajar enggak apa-apa gagal, yang penting terus mencoba,” ujarnya, Rabu (29/7).
Keinginan untuk berkuliah di UGM mulai tumbuh ketika duduk di bangku kelas X SMA. Melalui media sosial, Izzat mulai mengenal berbagai aktivitas akademik dan kehidupan mahasiswa di UGM. Sejak saat itu, ia menetapkan satu tujuan besar dalam hidupnya. Meski menyadari peluang diterima melalui jalur prestasi cukup kecil karena berasal dari sekolah yang bukan langganan mengirim lulusan ke UGM, ia tetap mempersiapkan diri sebaik mungkin. Portofolio terus dibangun melalui berbagai kompetisi, sementara persiapan menghadapi SNBT mulai ia intensifkan sejak kelas XI.
Selama bersekolah di SMAN 1 Sampang, Cilacap, Izzat aktif mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Geografi hingga lolos ke tingkat provinsi dengan peringkat keempat di tingkat kabupaten. Ia juga berhasil menjuarai lomba Ekonomi Syariah yang diselenggarakan Universitas Jenderal Soedirman. Selain itu, ia aktif di English Club, mengikuti berbagai kompetisi bahasa inggris selama dua tahun, sekaligus turut mengelola dan mempromosikan kegiatan ekstrakurikuler kepada adik kelas. Bagi Izzat, setiap pengalaman menjadi bekal untuk membangun kemampuan, mentalitas, dan jejaring yang akan membantunya meraih cita-cita.

Seminggu menjelang pengumuman Ujian Mandiri UGM, kegelisahan mulai menyelimuti dirinya. Ia mengaku hampir setiap malam bangun untuk melaksanakan salat tahajud. Baginya, kesempatan tersebut terasa seperti pintu terakhir untuk mewujudkan impian berkuliah di UGM. Ketika pengumuman akhirnya dibuka dan namanya dinyatakan lolos, rasa syukur tak mampu dibendung. Ia segera menghubungi kedua orang tuanya, bersujud syukur, lalu memeluk mereka. “Saya langsung sujud syukur,” kenangnya.
Kebahagiaan keluarga semakin lengkap ketika Izzat mengetahui dirinya memperoleh UKT 0. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan sekadar meringankan biaya pendidikan, tetapi membuka ruang baginya untuk terus mengembangkan diri selama kuliah. Dana yang semula disiapkan untuk biaya pendidikan dapat dialihkan untuk mengikuti seminar, pelatihan, maupun kegiatan pengembangan keterampilan yang akan mendukung persiapannya memasuki dunia kerja. “UKT nol ini benar-benar membantu. Saya jadi bisa fokus mengembangkan diri selama kuliah besok,” tuturnya.
Ketertarikan Izzat terhadap Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian berawal dari kebiasaannya mencari informasi mengenai berbagai program studi. Suatu hari, ia menemukan konten seorang mahasiswa Teknologi Pangan yang memperkenalkan inovasi kemasan mi instan berbahan gelatin yang dapat didaur ulang bahkan dikonsumsi. Dari situlah ia mulai mendalami isu food waste, sampah plastik, dan ketahanan pangan. Menurutnya, tantangan tersebut membutuhkan inovasi yang dapat memberi dampak nyata bagi masyarakat. Kelak, ia berharap dapat berkontribusi mengembangkan teknologi pangan yang mampu mengurangi limbah pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Di balik semangat tersebut, Izzat tumbuh dalam keluarga yang selalu memberikan kebebasan untuk mengejar cita-citanya. Ayahnya, Khadik Setiadi, tidak pernah memaksakan pilihan perguruan tinggi maupun program studi. Sebaliknya, ia mendorong putranya berani mengejar kampus impian meski peluangnya tampak kecil. Dukungan itu terasa semakin bermakna karena sang ayah juga pernah mengalami kegagalan meraih kampus impiannya akibat kecelakaan yang terjadi sehari sebelum ujian masuk perguruan tinggi. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa setiap anak berhak memperjuangkan mimpi yang dimilikinya.
“Biar dia mengejar cita-citanya. Orang tua tugasnya mendukung,” tutur Khadik, yang bekerja sebagai tenaga pendidik honorer di Ma’had Al Imam Malik, Purwokerto. Baginya, keberhasilan Izzat diterima di UGM menjadi anugerah yang patut disyukuri sekaligus bukti bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Saat mengetahui putranya memperoleh UKT 0, rasa syukur itu semakin besar karena dapat meringankan beban keluarga.
Bagi sang ibu, Tuti Yuli Suningsih, perjalanan Izzat adalah buah dari ketekunan yang dibangun sedikit demi sedikit sejak kecil. Sebagai orang tua, ia hanya berusaha mendampingi, mengingatkan, dan terus mendukung setiap langkah putranya. “Alhamdulillah UKT 0 ini sangat membantu. Berarti kami tinggal fokus memenuhi kebutuhan hidupnya selama kuliah,” ujarnya.
Sementara bagi Izzat sendiri, kedua orang tuanya merupakan alasan terbesar untuk terus berjuang. Ia bersyukur karena selalu diberi ruang untuk memilih jalan hidup sesuai minatnya serta tidak pernah diminta mengubur mimpi hanya karena terlihat sulit diraih.
Kini, kesempatan belajar di UGM dimaknai Izzat sebagai awal untuk mewujudkan kontribusi yang lebih besar. Selain ingin meraih prestasi akademik, aktif berorganisasi, dan lulus tepat waktu, ia juga berharap dapat mengembangkan inovasi di bidang pangan yang bermanfaat bagi masyarakat. Baginya, keberhasilan diterima di UGM bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk menghadirkan solusi bagi persoalan pangan di Indonesia.
Jika suatu hari dapat kembali menemui dirinya yang pernah kecewa karena gagal masuk sekolah favorit, hanya ada satu kalimat yang ingin ia sampaikan.
“Jangan pernah kubur mimpi kamu.”
Sebab, menurut Izzat, kegagalan bukanlah hal yang paling menakutkan. Bahaya terbesar justru ketika seseorang memilih menurunkan mimpinya karena takut mencoba. “Semangat terus mengejar mimpi dan jangan pernah menguburnya. Selama kita terus mencoba, pasti akan ada jalannya,” pesannya.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Firsto
