Upaya memperkuat kemandirian pangan terus didorong melalui berbagai inovasi di sektor pertanian, salah satunya melalui pengembangan budidaya padi Gamagora berbasis edukasi. Selain berfokus pada peningkatan hasil produksi, pendekatan ini juga melibatkan proses pembelajaran untuk membangun kapasitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.
Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Ulum di Desa Bangkiling Raya Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan melakukan panen raya padi varietas Gamagor. Program ini berhasil melibatkan lingkungan Pondok Pesantren dengan menekankan proses pembelajaran bagi santri serta mendorong kemandirian pangan berbasis pembelajaran.
Budidaya padi Gamagora tersebut dikembangkan di lahan seluas 0,6 hektar dengan hasil panen yang menunjukkan capaian positif, yakni 2,5 ton gabah kering giling. Seluruh proses budidaya dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan santri, alumni, serta pengajar pondok pesantren dalam setiap tahapan. Proses tersebut meliputi uji tanah, persiapan lahan, pelatihan teknis, hingga pendampingan dalam penanganan hama dan pemantauan pertumbuhan secara berkala.
Kepala Desa Bangkiling Raya, Abdul Gafur, mengungkapkan bahwa program ini memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat, khususnya dalam mendukung kemandirian pangan di lingkungan pondok pesantren. Ia menjelaskan bahwa bibit Gamagora memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran karena perawatannya relatif mudah dan tahan lama terhadap hama. Hal ini dinilai dapat memudahkan para pemula, termasuk santri, dalam mempelajari praktik pertanian secara langsung dengan dibekali keterampilan di bidang pertanian dan pengelolaan usaha. “Kedepannya, para santri yang telah lulus juga diharapkan dapat menjadi petani maupun pengusaha karena sudah dibekali edukasi tentang pertanian dan pengelolaan usaha di bidang tersebut,” jelasnya, Selasa (21/4).
Lebih lanjut, Abdul Gafur, menyampaikan bahwa pihak pondok pesantren saat ini tengah berupaya menumbuhkan semangat budidaya pertanian. Ia menjelaskan bahwa keterlibatan aktif dari santri, alumni, dan para pengajar berkontribusi terhadap peningkatan keterampilan praktis di bidang pertanian. “Untuk pengelolaan, kami juga melibatkan alumni. Para santri biasanya kami ajak dalam pembelajaran atau edukasi pertanian maupun peternakan. Saat panen, mereka juga dapat berpartisipasi langsung di lapangan,” ungkapnya.
Ia menyampaikan apresiasinya terhadap pendampingan yang telah diberikan dalam pengembangan program budidaya padi Gamagora tersebut. “Kami merasa senang dan bangga bisa mendapatkan ilmu dari para dosen yang datang langsung membina kami dalam pengembangan padi Gamagora. Saat ini, program tersebut juga mendapat antusiasme yang tinggi dari lingkungan kami dan sekitar. Kami sangat berterima kasih atas ilmu dan pendampingan yang telah diberikan,” tutupnya.
Dari sisi pengembangan, peneliti varietas padi Gamagora, Prof. Dr. Ir. Taryono, M.Sc., menjelaskan bahwa varietas ini dirancang untuk mendukung produktivitas sekaligus kemampuan adaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan. Menurutnya, lahan yang dimiliki oleh pondok pesantren tersebut memiliki modal kuat berupa ketersediaan lahan pertanian yang luas. Selain menjadi sarana pembelajaran bagi santri, lahan ini sangat potensial untuk produksi pangan skala besar. “Melihat kondisi tanamannya, potensi hasil panen ini diprediksi mencapai di atas 8 ton per hektar. Pencapaian di atas rata-rata ini menjadi sebuah bukti bahwa pengembangan varietas tersebut mampu memperkuat kemandirian pangan,” jelasnya.
Taryono turut menjelaskan bahwa kemandirian pangan bukanlah sekedar menjadi petani subsisten yang hanya menanam untuk kebutuhan sendiri. Lebih Dari itu, kemandirian pangan merupakan kemampuan suatu lembaga atau masyarakat untuk menghasilkan produk pangan secara mandiri, sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. “Prinsip dasar kemandirian pangan itu basisnya dari bawah, bisa di level rumah tangga, kelompok, hingga desa. Jika pesantren sudah mandiri pangan dan kebutuhan tercukupi, mereka mampu menggerakan roda ekonomi sendiri,” ujarnya.
Melalui pendekatan berbasis edukasi dan kolaborasi ini, pengembangan budidaya padi Gamagora di Desa Bangkiling Raya menunjukkan bahwa upaya kemandirian pangan dapat diwujudkan secara konkret di tingkat komunitas. Program tersebut diharapkan dapat menghasilkan capaian produksi yang positif dan mampu membangun kapasitas sumber daya manusia melalui keterlibatan aktif dalam setiap tahapan budidaya.
Seremoni panen padi Gamagora kali ini dihadiri Direktur Operasional PT Adaro Indonesia Wahyu Sulistyo, Kepala Teknik Tambang Deny Widihatmoko, Eksternal Relation Division Head Rinaldo Kurniawan, Kepala Deputi Division Head HSE Didik Triwibowo, Ketua Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN), Zuraida Murdia Hamdie pdan Sekretaris YABN, Diah Restu Lestari.
Penulis : Diyana Khairunnisa
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Pondok Pesantren Miftahul Ulum
