Raut wajah bahagia nampak dari mata Anisa Nurmalitasari (18) yang berkaca-kaca, anak kedua dari dua bersaudara yang berhasil memboyong mimpi keluarga untuk bisa kuliah di Program Studi Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada di tengah kesukaran ekonomi keluarga. Haru menyelimuti keluarga karena sosok yang kerap disapa Nurma ini juga berhasil mendapatkan beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol sehingga ia bisa kuliah gratis di UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Di tengah Kota Yogyakarta, tepatnya di kawasan Notoyudan, keluarga ini hidup penuh kesederhanaan yang selalu mendukung setiap perjuangan Nurma. Dukungan keluarga yang suportif menjadi bahan bakar bagi Nurma untuk terus berjuang. Beruntung bagi Nurma, duduk di bangku SMAN 1 Yogyakarta menjadikannya untuk bisa berprestasi dan berkompetisi dalam bidang akademik. Bahkan jiwa kepemimpinannya diasah ketika diamanahi sebagai ketua sie Literasi, wakil ketua departemen masjid rohis Al-Uswah, serta anggota All Nation Teenagers. Ia menceritakan bahwa lingkungan produktif mendorongnya untuk berjuang lebih keras agar mampu menyamai teman-temannya.
Tiba di hari pengumuman, Nurma menceritakan suasana hatinya yang penuh kekhawatiran. Ia mengaku tidak tenang menjalani aktivitas dan hanya bisa terus berdoa. Tidak sendiri, kedua orang tua dan kakaknya turut mendampingi hingga suasana rumah pecah oleh tangis haru saat ia dinyatakan lolos. “Saya merem tidak berani melihat laptopnya. Akhirnya yang membuka keluarga, terus teriak, baru saya ikut senang. Alhamdulillah senang banget dan tidak menyangka juga,” kenangnya, Selasa (23/6).
Nurma mengaku lolos ke UGM melalui jalur prestasi merupakan perjalanan panjang. Ia telah menargetkan untuk bisa kuliah di ‘Kampus Biru’ ini sejak awal SMA dengan terus mempertahankan nilai dan semangat belajar. “Kalau strateginya saya fokus ke nilai, mempertahankan nilai, sama meningkatkannya supaya dapat peringkat juga di sekolah,” ujarnya.
Ia membagikan rutinitas belajarnya yang dimulai sejak pukul tiga pagi hingga jelang waktu berangkat sekolah. Kegiatan belajar kemudian dilanjutkan sepulang sekolah hingga terkadang mencapai pukul sebelas malam dengan belajar di perpustakaan. Pasalnya, kondisi lingkungan di sekitar rumah membuatnya tidak bisa fokus dalam belajar. “Tidak jarang Ayah kerap mengantar ke perpustakaan (UGM) untuk belajar hingga malam,” ujarnya.
Ketertarikannya terhadap jurusan Gizi diakuinya berangkat dari kecintaannya pada dunia kesehatan yang lekat dalam keseharian manusia. “Saya merenungkan yang dibutuhkan kira-kira kalau tanpa itu manusia tidak bisa hidup seperti makanan. Terus saya gabungkan antara makanan sama kesehatan, ketemu di Gizi,” terangnya.
Keyakinannya terhadap jurusan ini sudah matang dengan berbagai pertimbangan dari keluarga maupun sekolah. Nurma menyatakan bahwa ia hanya membawa satu pilihan saat pendaftaran SNBP. Hingga akhirnya ia berhasil menjadi salah satu dari 76 siswa yang lolos SNBP di SMAN 1 Yogyakarta. “Saya sudah mantap gizi, sudah diskusi juga dengan orang tua, guru BK juga. Terus akhirnya saya mantap di jurusan ini, tidak ada alternatif lain,” jelasnya.
Menjelang perkuliahan, Nurma memanfaatkan waktunya untuk meningkatkan kemampuan diri. Ia mengikuti pelatihan bahasa Inggris, mengambil pekerjaan freelance untuk menambah penghasilan, serta aktif mengikuti berbagai seminar dan workshop. “Saya sudah ikut grup 1001 kegiatan UGM. Jadi aktif ikut seminar, workshop, bahkan yang bersertifikat,” jelasnya.
Sosok sang ayah, Agus Nurhadi, mengaku tidak kuasa menahan syukur atas kelolosan Nurma diterima kuliah gratis UGM, terlebih setelah mendapatkan beasiswa penuh. Sebelumnya, ia sempat memikirkan dan meragukan kemampuannya memenuhi biaya UKT di tengah kondisi ekonomi keluarga. “Tidak kepikiran karena saya kan orang wiraswasta, jadi kadang-kadang ada, kadang-kadang enggak. Itu benar-benar bagi saya sangat bersyukur dan luar biasa. Ini benar-benar apresiasi dari UGM untuk memberikan kesempatan pada anak saya melanjutkan studi di UGM,” pungkasnya.
Nurhadi menekuni usaha keluarga berupa produksi camilan kacang yang dititipkan ke sejumlah angkringan di sekitar rumah. Setiap pagi dan sore ia mengantarkan dagangannya ke kurang lebih puluhan angkringan. “Saya titipkan di angkringan-angkringan itu untuk keseharian. Alhamdulillah dari situ bisa mencukupi kebutuhan. Kalau yang lain-lain, keyakinan saya pas dibutuhkan selalu ada,” sebutnya.
Sementara sang ibu, Sri Damaryati, selalu menenangkan Nurma bahwa apapun hasilnya harus diterima dengan lapang dada. Ia mengapresiasi kerja keras putrinya yang kerap belajar hingga lewat tengah malam demi mengimbangi teman-temannya yang mengikuti les. Namun ia selalu percaya bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga.”Saya terus menguatkan Nurma untuk optimistis dan tidak takut bersaing,” katanya.
Nurma mengaku dukungan keluarga mengalir deras dalam setiap langkah perjuangannya. Ia mendeskripsikan ayahnya sebagai sosok pekerja keras yang sabar mendampingi proses belajarnya sekaligus menjadi tulang punggung keluarga. Sementara sang ibu selalu menjadi garda terdepan serta suri teladannya yang membangkitkan kembali semangat saat lelah belajar. “Kakaknya juga turut memberi motivasi untuk melanjutkan pendidikan tinggi serta membantu ketika ia mengalami kesulitan belajar,” ujarnya.
Bagi teman-teman yang tengah berjuang meraih cita-cita, Nurma berpesan agar tidak mudah menyerah pada keadaan. “Teman-teman semangat karena pasti ada jalan. Kalau misalnya kita sudah niat dan tujuannya di situ, kerja kerasnya juga harus dilebihkan lagi biar impian dan cita-cita itu bisa tercapai,” ujarnya.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Jesi dan Dok. Nurma
