Impian ternyata tidak cukup hanya cukup disimpan dalam hati dan pikiran, namun harus dirawat dan diwujudkan menjadi kenyataan melalui kerja keras. Itulah yang dilakukan oleh Rofi Arif Robbani. Saat duduk di bangku SMA Negeri 1 Maos, Cilacap, Jawa Tengah, ia mengisi hari-harinya dengan belajar, berorganisasi, melakukan penelitian, dan mengikuti berbagai kompetisi. Baginya, setiap tanggung jawab harus diselesaikan dengan sebaik mungkin melalui skala prioritas yang jelas. Ketika harus menyelesaikan penelitian untuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) di tengah persiapan ujian akhir sekolah, ia memilih menuntaskan penelitian tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap apa yang telah dimulai.
Kerja keras itu membuahkan hasil. Rofi berhasil mengoleksi delapan penghargaan mulai dari tingkat kabupaten, nasional, hingga internasional. Prestasi tersebut meliputi Juara Harapan 1 Tour Guide Competition Cilacap English Festival 2025, Juara 2 KRENOVA Masyarakat Kabupaten Cilacap, Juara Harapan 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Pelita Fair 2023 Universitas Tidar, Juara 1 Festival ELINS FMIPA UGM 2024, Silver Medal Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) 2023, serta Bronze Medal International Science and Invention Fair (ISIF) 2023, Youth International Science Fair (YISF) 2024, dan International Youth Business Competition (IYBC) 2024. Selain aktif mengikuti kompetisi, ia juga memimpin Duta Literasi Perpustakaan Griya Pasinaon dan menjadi anggota Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di sekolahnya.
Di antara seluruh pencapaian tersebut, ada satu pengalaman yang paling membekas dalam ingatan Rofi. Jauh sebelum mengenakan jaket almamater UGM, ia lebih dulu menginjakkan kaki di kampus itu sebagai finalis Festival Elektronika dan Instrumentasi (ELINS) FMIPA UGM 2024. Saat berdiri di lingkungan kampus, ia berulang kali berkata dalam hati bahwa suatu hari nanti harus kembali ke tempat itu, bukan lagi sebagai peserta lomba, melainkan sebagai mahasiswa. Tekad tersebut semakin kuat ketika timnya berhasil meraih Juara 1. “Waktu datang ke FMIPA UGM saya benar-benar bilang ke diri sendiri, pokoknya saya harus keterima UGM bagaimana pun caranya,” tuturnya ketika ditemui Tim Pemberitaan Humas UGM, Jumat (17/7).
Banyak teman sekolahnya mengira Rofi akan melanjutkan langkahnya di bidang sains atau rekayasa. Namun, ia justru memilih jalan yang berbeda. Ketertarikannya pada Psikologi lahir dari keinginan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental. Menurutnya, kesadaran mengenai kesehatan mental memang mulai tumbuh di kalangan generasi muda, tetapi masih diperlukan pemahaman yang lebih luas agar dapat diterima lintas generasi. Karena itu, selepas lulus nanti ia bercita-cita melanjutkan pendidikan profesi psikolog atau studi magister agar dapat berkontribusi meningkatkan mental health awareness dan membantu mengurangi konflik yang sering muncul akibat perbedaan cara pandang dalam keluarga.
Hingga pada suatu sore di rumahnya di Adipala, Cilacap. Sebelum membuka pengumuman SNBP, ia sengaja meminta ibunya segera pulang agar mereka dapat melihat hasilnya bersama. Di ruang tamu rumahnya, rasa cemas lebih dulu mengalahkan rasa percaya diri. Bahkan sebelum laman pengumuman terbuka, air matanya sudah mengalir karena membayangkan kemungkinan tidak diterima. Kekhawatiran itu seketika berubah menjadi haru saat layar menampilkan tulisan bahwa dirinya diterima di Fakultas Psikologi UGM. “Yang pertama saya bilang waktu itu cuma, ‘Hah, keterima’,” kenang Rofi
Mimpinya sejak kecil untuk kuliah di UGM akhirnya kesampaian, ia dinyatakan diterima di Fakultas Psikologi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Beberapa waktu setelah dinyatakan diterima di UGM, kebahagiaan keluarga kembali bertambah ketika Rofi mengetahui dirinya memperoleh UKT 0. Saat itu ia sedang berkumpul bersama teman-temannya dan sempat dibuat bingung ketika melihat nominal subsidi yang diberikan UGM. Setelah memastikan bahwa biaya kuliahnya benar-benar menjadi nol rupiah, ia langsung menghubungi ibunya melalui panggilan video. “Itu benar-benar sebuah berkah bagi kami. Saya jadi bisa kuliah dengan lebih tenang tanpa harus terlalu memikirkan biaya,” ucapnya.
Di balik perjalanan tersebut, ada sosok Hasan Ismail, ayah dari Rofi, yang setiap pagi berkeliling dari rumah ke rumah membawa dagangan ikan di wilayah Cilacap. Ada hari ketika dagangannya habis terjual, ada pula hari ketika sebagian harus dibawa pulang. Namun, ia tidak pernah berhenti berangkat. Baginya, bekerja adalah ikhtiar untuk memastikan anak-anaknya memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik. “Yang penting saya usaha. Berapa pun hasilnya, itu rezeki kami,” katanya.

Hasan mengaku sempat heran ketika putranya yang masih kecil bercita-cita kuliah di UGM. Meski demikian, ia memilih mendukung mimpi tersebut sepenuh hati. Baginya, pendidikan merupakan jalan yang dapat membuka kesempatan lebih luas bagi masa depan anak-anaknya. Karena itu, rasa haru tak terbendung ketika mengetahui Rofi benar-benar diterima di kampus impiannya. “Saya tidak menyangka anak saya bisa diterima di UGM. Harapan saya, Rofi bisa kuliah dengan baik, terus berprestasi, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.
Perjalanan Rofi juga tidak lepas dari peran Suharti yang selama ini menjadi tempat pertama bagi putranya untuk berbagi cerita. Dukungan emosional yang diberikan sang ibu membuat Rofi mampu bangkit setiap kali menghadapi tekanan saat belajar maupun mengikuti kompetisi. Karena itu, ketika mengetahui putranya memperoleh subsidi UKT 100%, rasa syukur yang ia rasakan bukan semata karena terbantu secara finansial, melainkan karena Rofi dapat melangkah lebih tenang mengejar cita-citanya. “Saya sangat bersyukur, terima kasih UGM. UKT nol ini sangat membantu sehingga Rofi bisa lebih fokus belajar,” ujarnya.
Kini, kesempatan belajar di UGM dimaknai Rofi sebagai awal dari perjalanan baru. Ia ingin aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan, memperluas jejaring, sekaligus menemukan cara terbaik agar ilmu yang dipelajarinya dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Baginya, kuliah bukan sekadar mengejar gelar, tetapi kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang mampu membawa dampak positif bagi orang lain.
Dua belas tahun lalu, seorang anak kelas satu SD pernah mengucapkan kalimat sederhana tanpa benar-benar memahami maknanya. Hari ini, kalimat itu bukan lagi sekadar mimpi. Bagi Rofi, UGM menjadi bukti bahwa mimpi tidak pernah ditentukan oleh latar belakang keluarga, melainkan oleh keberanian untuk menjaganya tetap hidup. Karena itu, kepada anak-anak muda yang masih ragu mengejar cita-cita, ia menitipkan satu pesan. “Jangan pernah merasa mimpi kalian ketinggian. Jangan pernah merasa tidak punya kesempatan. Kesempatan itu akan selalu ada selama kita mau berusaha. Apa pun tantangannya, mulai saja dulu. Insyaallah apa yang dimulai dengan niat baik pasti akan mendapatkan hasil yang baik juga,” tutup Rofi.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Firsto
